Kalau bandar sejati yang main di saham gorengan, seharusnya MSCI itu nyaris tidak relevan buat mereka karena arena bandar lokal itu mikro, float tipis, cerita kencang, dan targetnya likuiditas ritel lokal. MSCI itu arena makro, duit pasif global, dan fokusnya saham yang cukup besar dan cukup liquid untuk ditampung dana indeks.
Jadi bandar bisa saja lanjut jalan goreng saham di IHSG walau Indonesia dibekukan dari sisi inclusion atau upgrade segmen MSCI, karena mesin gorengan tidak butuh dana indeks untuk hidup. Cuma butuh bandar yang mau Markup harga dan investor ritel yang mau donasi.
Banyak yang bilang, MSCI yang salah bikin kriteria indeks sehingga mendukung saham gorengan masuk MSCI. Tapi menyimpulkan MSCI yang salah karena kriteria indeks memfavoritkan gorengan, menurut saya tidak tepat. Secara desain, kriteria indeks global itu cenderung anti-gorengan, karena menuntut ukuran, likuiditas, dan free float yang dianggap benar-benar investable.
Masalahnya bukan kriterianya pro-gorengan, melainkan kriterianya bisa kebobolan kalau inputnya lemah, terutama data kepemilikan yang tidak transparan dan sinyal likuiditas yang bisa terlihat ramai padahal rapuh. Di titik itu, yang muncul adalah ilusi investable, bukan investable yang asli.
Bagian yang paling krusial adalah insentif untuk goreng saham di IHSG itu jauh lebih besar daripada punishment nya, bahkan terasa zero punishment. Ini masalah struktur. Kalau probabilitas ketahuan kecil, proses pembuktian lama, sanksi tidak menimbulkan efek jera, dan pelaku bisa pindah kendaraan atau ganti pola tanpa konsekuensi berarti, maka expected value dari menggoreng tetap positif.
Lihat saja kasus goreng saham SWAT 2018 baru ditangkap di 2026. Itu sudah kaya banget bandar gorengan. Dapat Lambo dan ani ani udah berapa kali ganti mereka selama 8 tahun dari hasil goreng SWAT.
Bahkan bukan cuma pelaku yang membaca itu, ritel juga membacanya. Ritel jadi makin gampang tergoda karena melihat pola yang seolah selalu bisa diulang, sementara contoh penindakan yang tegas dan konsisten jarang terlihat sebagai pelajaran massal.
Jadi akar masalahnya ada di dua lapis. Lapis pertama adalah transparansi kepemilikan dan surveillance transaksi. Tanpa beneficial ownership yang jelas dan monitoring konsentrasi yang tajam, pasar mudah diisi aktor yang bisa mengendalikan pasokan dan ritme transaksi. Lapis kedua adalah enforcement dan efek jera.
Kalau punishment tidak sebanding dengan profit dan tidak cepat, bandar rasional akan menganggap itu biaya operasional. MSCI tidak bisa menyelesaikan dua lapis ini, mereka hanya bisa mengurangi dampaknya ke produk indeks mereka, misalnya membekukan kenaikan bobot atau menahan inclusion, supaya dana global tidak ikut terseret ke area yang mereka nilai riskan.
Kalau mau jujur secara mekanisme pasar, yang bisa mengubah permainan gorengan bukan pengumuman MSCI, tapi kombinasi tiga hal. Transparansi pemilik manfaat yang bisa diaudit, deteksi dini perilaku transaksi terkoordinasi yang benar-benar ditindak, dan sanksi yang membuat expected value pelanggaran jadi negatif. Begitu tiga hal itu jalan, bandar boleh saja tidak peduli MSCI, tapi bandar akan peduli karena bahan bakar utamanya, yaitu ilusi likuiditas dan impunitas, mulai hilang.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!