Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightApa Itu Kredit Bank Stage 1, 2, dan 3 di $BBCA vs $BBNI vs $NISP

Apa Itu Kredit Bank Stage 1, 2, dan 3 di $BBCA vs $BBNI vs $NISP

Staging kredit itu sering dibikin seolah-olah rumit, padahal intinya cuma satu. Bank sedang mengelompokkan pinjaman mana yang masih aman, mana yang mulai goyah, mana yang sudah kena masalah.

Yang bikin konsep ini penting buat investor justru karena ia sering memberi sinyal lebih cepat daripada NPL. NPL bisa tetap terlihat cantik di bawah 2%, tapi staging sudah bisa menunjukkan antrian risiko yang sedang mengular. Jadi kalau ada user Stockbit yang nanya, sebenarnya mereka sedang nanya satu pertanyaan yang sangat masuk akal, risiko masa depan bank ini lagi membaik atau memburuk?

Secara standar akuntansi yang benar, staging ECL itu ranah PSAK 71 yang selaras IFRS 9, bukan PSAK 109. Stage 1 itu pinjaman yang risikonya masih rendah, sehingga cadangan dihitung pakai ECL 12 bulan, artinya skenario gagal bayar yang mungkin terjadi dalam 12 bulan ke depan.

Stage 2 itu pinjaman yang risikonya naik signifikan sejak awal, sering dikaitkan dengan tunggakan 30 hari atau sinyal SICR lain, sehingga cadangan naik level jadi lifetime ECL. Stage 3 itu pinjaman yang sudah impaired, sering dikaitkan tunggakan di atas 90 hari atau default, dan cadangannya juga lifetime ECL. Bedanya bukan sekadar label, bedanya adalah seberapa tebal bank harus menaruh bantalan rugi.

Expected Credit Loss (ECL) adalah metode akuntansi berdasarkan standar IFRS 9/PSAK 71 yang digunakan bank untuk mengestimasi potensi kerugian kredit di masa depan, bahkan sebelum gagal bayar terjadi.

SICR (Significant Increase in Credit Risk atau Peningkatan Risiko Kredit yang Signifikan) adalah konsep dalam standar akuntansi (IFRS 9/PSAK 71) yang digunakan bank untuk mendeteksi penurunan kualitas kredit debitur secara signifikan sejak awal pinjaman. Ini menentukan apakah kredit dipindahkan dari Tahap 1 ke Tahap 2 (risiko lebih tinggi), yang berdampak pada peningkatan pencadangan kerugian.

Lalu kenapa staging kredit ini bisa beda dengan kolektibilitas kredit OJK? Karena sudut pandangnya beda. Kolektibilitas OJK lebih mengandalkan status pembayaran yang terlihat sekarang, dari Lancar sampai Macet, dan dipakai untuk pengawasan kehati-hatian yang seragam.

Staging akuntansi lebih forward-looking, bank boleh memasukkan proyeksi ekonomi, perilaku debitur, dan indikator risiko internal untuk menghitung ECL. Secara praktik, Stage 1 sering sejalan dengan Lancar, Stage 2 sering beririsan dengan DPK, Stage 3 biasanya beririsan dengan kolektibilitas 3 sampai 5 yang dikenal sebagai NPL. Tapi ini bukan terjemahan satu banding satu, karena staging bisa lebih cepat menggeser pinjaman ke Stage 2 sebelum kolektibilitas benar-benar memburuk.

Di data 31 Desember 2025, pembeda paling kelihatan itu ada di porsi Stage 2 dan Stage 3, karena dua zona ini yang paling berpotensi menekan laba lewat lonjakan ECL. BBCA punya Stage 1 96,31%, Stage 2 2,02%, Stage 3 1,67%, ini profil yang sangat bersih, bahkan Stage 2-nya kecil sekali sehingga ruang kejutan ke depan relatif sempit.

BBNI punya Stage 1 89,84%, Stage 2 7,26%, Stage 3 2,90%, artinya mesin kreditnya jalan kencang, tapi banyak pinjaman yang sudah masuk wilayah perlu dijaga ketat supaya tidak meluncur ke Stage 3. NISP punya Stage 1 91,05%, Stage 2 5,90%, Stage 3 3,05%, jadi secara komposisi ada porsi impaired yang lebih tinggi dibanding dua lainnya, walau NPL-nya masih mirip. NPL bruto ketiganya juga berdekatan, BBCA 1,71%, BBNI 1,93%, NISP 1,94%, jadi staging memberi detail yang tidak terlihat kalau investor hanya menatap NPL.

Kalau investor ingin membaca ini sebagai cerita bisnis, maka Stage 2 adalah termometer, Stage 3 adalah diagnosis, write-off adalah tindakan bersih-bersih neraca. BBNI melakukan write-off Rp15,59 triliun, jauh lebih besar dibanding BBCA Rp7,73 triliun dan NISP Rp561 miliar, ini bisa berarti BBNI lebih aktif membersihkan buku kredit agar rasio tetap terjaga, tapi juga berarti volume kasus yang perlu dibereskan memang lebih besar.

BBCA terlihat paling disiplin menahan migrasi ke Stage 2 dan Stage 3, sehingga beban risiko lebih terkendali. NISP terlihat paling menjaga volume kredit agar tidak terlalu agresif, namun porsi Stage 3 yang lebih tinggi membuat investor perlu lebih teliti memantau apakah ini efek warisan portofolio, efek integrasi, atau memang konsentrasi risiko di segmen tertentu. Poin kuncinya sederhana, investor pantau arus perpindahan Stage 2 ke Stage 3, karena di situlah biasanya laba mulai terasa ditekan.


Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here