Pergerakan saham OASA atau PT Maharaksa Biru Energi Tbk kembali menjadi sorotan seiring dengan rilis laporan keuangan paruh pertama tahun 2026. Di tengah transisi model bisnisnya menuju sektor energi terbarukan, perusahaan justru mencatatkan pembengkakan kerugian yang signifikan.
Bagaimana membedah kondisi fundamental OASA saat ini? Mari kita telusuri laporan keuangan terbarunya untuk mencari tahu akar permasalahan dan potensi pemulihannya.
Kinerja Keuangan Saham OASA Semester I 2026
A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
| Dalam (Rupiah) | H1 2026 | FY 2025 | Perubahan YoY |
| Total Aset | 595.067.355.646 | 621.566.215.766 | -4,26% |
| Aset Lancar | 323.191.978.770 | 124.654.662.709 | +159,27% |
| Aset Tidak Lancar | 271.875.376.876 | 496.911.553.057 | -45,29% |
| Total Liabilitas | 76.458.925.189 | 63.505.368.485 | +20,40% |
| Liabilitas Jangka Pendek | 39.212.398.695 | 49.007.649.426 | -19,99% |
| Liabilitas Jangka Panjang | 37.246.526.494 | 14.497.719.059 | +156,91% |
| Total Ekuitas | 518.608.430.457 | 558.060.847.281 | -7,07% |
Total aset perusahaan mengalami kontraksi sebesar 4,26%, turun dari Rp621,56 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp595,06 miliar. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh anjloknya aset tidak lancar, terutama pada pos uang muka proyek yang turun drastis dari Rp318,64 miliar menjadi Rp98,14 miliar. Banyaknya pembatalan proyek diakui menjadi penyebab utama hilangnya uang muka tersebut, yang kemudian dikonversi menjadi piutang lain-lain.
Di sisi lain, aset lancar melonjak 159,27% didorong oleh meroketnya piutang lain-lain pihak ketiga, dari Rp57,42 miliar menjadi Rp277,97 miliar. Peningkatan piutang ini merupakan kompensasi dari batalnya sejumlah proyek investasi, termasuk proyek bio propelyn glycol dan Intermediate Waste Treatment Facility (FPSA). Namun, kas perusahaan justru menipis secara dramatis dari Rp23,62 miliar menjadi hanya Rp5,12 miliar.
Total liabilitas meningkat 20,40% akibat membengkaknya liabilitas jangka panjang, khususnya pada pos utang pihak berelasi yang melesat dari Rp12,83 miliar menjadi Rp35,58 miliar. Kondisi ini mengindikasikan perusahaan semakin bergantung pada injeksi dana dari entitas afiliasi untuk menopang arus kasnya. Sementara itu, total ekuitas tergerus 7,07% akibat bertambahnya akumulasi kerugian.
B. Laporan Laba Rugi
| Dalam (Rupiah) | H1 2026 | H1 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan | 7.019.495.377 | 24.504.874.861 | -71,35% |
| Laba Kotor | 1.526.050.954 | 3.621.267.304 | -57,86% |
| Laba (Rugi) Usaha | (31.772.120.328) | (12.798.360.768) | -148,25% |
| Laba (Rugi) Bersih | (39.496.416.824) | (16.511.815.613) | -139,20% |
| EPS | (6,05) | (2,44) | -147,95% |
Kinerja pendapatan OASA anjlok 71,35% menjadi hanya Rp7,01 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp24,50 miliar. Penurunan ini disebabkan hilangnya kontribusi pendapatan dari sektor jasa konstruksi yang pada tahun sebelumnya menyumbang Rp21,16 miliar. Pada H1 2026, pendapatan murni hanya ditopang oleh penjualan woodchip.
Merosotnya pendapatan berdampak langsung pada terkikisnya laba kotor sebesar 57,86%. Ironisnya, di tengah lesunya pemasukan, beban usaha justru membengkak tajam dari Rp16,41 miliar menjadi Rp33,29 miliar. Lonjakan beban ini utamanya dipicu oleh kenaikan gaji dan tunjangan karyawan serta tingginya biaya jasa profesional.
Kombinasi antara anjloknya pendapatan dan meroketnya beban usaha membuat perusahaan mencatatkan rugi usaha sebesar Rp31,77 miliar. Kerugian bersih pun tak terelakkan, membengkak 139,20% menjadi Rp39,49 miliar, mencerminkan inefisiensi operasional yang serius.
C. Analisis Rasio Keuangan
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Current Ratio | 8,24x | Rasio sangat tinggi, menunjukan tingkat likuiditas jangka pendek yang solid. |
| Quick Ratio | 8,23x | Likuiditas prima walau tanpa menyertakan porsi persediaan. |
| Margin Laba Kotor | 21,74% | Mengalami perbaikan margin dari penjualan produk woodchip. |
| Margin Laba Bersih | N/A | Tidak relevan dihitung karena perseroan mencatatkan rugi bersih. |
| ROA (Disetahunkan) | -13,27% | Perputaran aset sangat buruk karena gagal mencetak keuntungan. |
| ROE (Disetahunkan) | -15,23% | Ekuitas tergerus akibat kerugian berkelanjutan. |
| DER | 14,74% | Tingkat utang sangat rendah dan konservatif terhadap ekuitas. |
Rasio likuiditas (Current dan Quick Ratio) terlihat sangat kuat di atas 8 kali. Namun, tingginya rasio ini patut diwaspadai karena didominasi oleh piutang lain-lain yang merupakan konversi dari pembatalan proyek, bukan dari kas atau perputaran piutang usaha yang sehat. Bahkan, kas perusahaan tercatat menipis secara drastis.
Perbaikan margin laba kotor terjadi berkat efisiensi dalam bisnis woodchip. Namun, rasio pengembalian (ROA dan ROE) yang negatif dalam hingga menyentuh dua digit menjadi sinyal merah bagi investor terkait kapabilitas manajemen dalam menghasilkan keuntungan riil dari aset dan modal yang dimiliki.
Di sisi positif, tingkat leverage (DER) tergolong sangat konservatif di level 14,74%. Perusahaan memiliki ruang utang yang lebar, meskipun ketergantungannya pada injeksi dana afiliasi mulai terlihat meningkat.
D. Valuasi Saham
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| PER | N/A | Valuasi tidak dapat diukur karena perusahaan dalam posisi merugi. |
| PBV | 3,96x | Valuasi sangat mahal (Premium) jika dibandingkan dengan nilai buku ekuitasnya. |
Berdasarkan harga penutupan di level Rp324, valuasi saham ini tergolong sangat mahal. Angka Price to Book Value (PBV) mencapai 3,96 kali lipat dari nilai buku ekuitasnya per saham.
Bagi investor fundamental, tingkat valuasi ini sangat berisiko (overvalued), terlebih diiringi dengan kondisi perusahaan yang sedang mencetak rekor kerugian bersih dan minimnya kepastian pendapatan ke depan akibat batalnya banyak kontrak proyek strategis.
Kesimpulan
Saham OASA tengah berada dalam fase transisi bisnis yang berdarah-darah. Ambruknya pendapatan dari sektor konstruksi serta banyaknya proyek investasi energi terbarukan yang batal di tengah jalan menjadi biang kerok anjloknya kinerja keuangan Semester I 2026.
Walaupun tingkat rasio utang masih sangat rendah dan likuiditas terlihat “menggelembung” akibat kompensasi pembatalan proyek, perusahaan menghadapi masalah serius terkait minimnya kas tunai dan tingginya inefisiensi beban operasional. Valuasi PBV yang premium membuat saham ini sangat rawan terhadap aksi koreksi. Investor dianjurkan untuk bersikap wait and see hingga perusahaan mampu membuktikan stabilitas arus kas dan mencetak keuntungan secara konsisten.
Profil Singkat Perusahaan
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (sebelumnya PT Protech Mitra Perkasa Tbk) merupakan perusahaan holding yang berekspansi ke sektor energi terbarukan, pengolahan limbah (FPSA), serta teknologi ramah lingkungan.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin