Kinerja keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada kuartal ketiga tahun 2026 menyajikan dinamika yang sangat penting untuk dicermati oleh para investor. Analisis saham BMRI 2026 ini akan mengupas tuntas profil neraca dan tingkat profitabilitas perseroan setelah adanya aksi korporasi berupa dekonsolidasi entitas anak syariah.
Kinerja Keuangan dalam Analisis Saham BMRI 2026
A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Postur neraca perseroan mengalami perubahan struktural dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Berikut adalah rincian posisi keuangan konsolidasian perseroan:
| Dalam (Jutaan IDR) | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 | Perubahan |
| Total Aset | 2.588.298.318 | 2.829.948.026 | (8,54%) |
| Kredit yang Diberikan | 1.606.314.270 | 1.801.934.209 | (10,85%) |
| Penempatan pada Bank Lain | 66.096.859 | 50.470.248 | 30,96% |
| Total Liabilitas | 2.285.500.952 | 2.212.925.204 | 3,28% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 1.804.610.083 | 1.816.897.208 | (0,67%) |
| Dana Murah (CASA) | 1.273.436.059 | 1.288.024.560 | (1,13%) |
| Total Ekuitas | 302.797.366 | 327.401.998 | (7,51%) |
Penurunan total aset dan kredit yang diberikan terutama disebabkan oleh efek teknis dekonsolidasi laporan keuangan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sejak 1 Februari 2026. Meskipun demikian, likuiditas perseroan justru semakin kuat yang terlihat dari lonjakan penempatan dana pada bank lain sebesar 30,96%.
Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya terkoreksi sangat tipis, membuktikan tingginya tingkat kepercayaan nasabah terhadap perseroan meskipun entitas syariah tidak lagi dikonsolidasikan. Rasio dana murah (Current Account Saving Account/CASA) juga masih mendominasi struktur pendanaan, sehingga biaya dana atau Cost of Fund tetap terkendali dengan baik.
B. Laporan Laba Rugi
Perubahan struktur aset perseroan secara langsung memengaruhi komposisi pendapatan maupun beban operasional pada tahun berjalan. Tabel berikut merangkum kinerja profitabilitas perseroan secara year-on-year (YoY):
| Dalam (Jutaan IDR) | Q3 2026 | Q3 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan Bunga Bersih (NII) | 69.811.612 | 78.258.615 | (10,79%) |
| Pendapatan Operasional Lainnya | 35.026.896 | 33.040.174 | 6,01% |
| Beban Operasional | 40.312.760 | 49.906.275 | (19,22%) |
| Laba Bersih | 43.465.056 | 45.182.262 | (3,80%) |
| EPS (Rupiah penuh) | 488,13 | 404,25 | 20,74% |
Pendapatan bunga bersih (NII) mencatatkan penurunan sejalan dengan berkurangnya aset produktif akibat dekonsolidasi entitas syariah. Namun, manajemen berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan operasional lainnya sebesar 6,01% yang didorong oleh kuatnya perolehan komisi dan provisi.
Tingkat efisiensi perseroan juga meningkat drastis yang tercermin dari anjloknya beban operasional hingga 19,22%. Menariknya, walau laba bersih secara nominal turun tipis 3,80%, Laba Per Saham (EPS) justru melonjak tajam 20,74% berkat aksi pembelian kembali saham (buyback) oleh perseroan.
C. Analisis Rasio Keuangan
Kinerja operasional perseroan juga dapat diukur melalui berbagai indikator rasio keuangan utama. Tabel berikut menyajikan estimasi rasio keuangan operasional perseroan tanpa menampilkan rumusan perhitungannya:
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Net Interest Margin (NIM) | 4,60% | Margin bunga terjaga dengan sangat baik berkat efisiensi pendanaan berbiaya murah. |
| Non-Performing Loan (NPL) Gross | 1,20% | Kualitas aset berada pada level sangat sehat dengan risiko kredit yang terkendali. |
| Loan to Deposit Ratio (LDR) | 89,01% | Tingkat likuiditas sangat memadai untuk mendukung ekspansi kredit ke depan. |
| Capital Adequacy Ratio (CAR) | 21,50% | Bantalan permodalan sangat tebal dan berada jauh di atas batas ketentuan regulator. |
| Cost to Income Ratio (CIR) | 38,45% | Efisiensi operasional perseroan sangat optimal dalam mengelola beban biaya. |
| ROA | 2,24% | Kemampuan perseroan dalam mencetak laba dari total aset tergolong superior. |
| ROE | 19,10% | Tingkat pengembalian modal sangat menguntungkan bagi para pemegang saham. |
Rasio rentabilitas seperti ROA dan ROE menunjukkan bahwa perseroan memiliki model bisnis yang sangat tangguh di sektor perbankan. Ketahanan permodalan yang tebal juga memberikan ruang gerak luas bagi perseroan untuk mengantisipasi gejolak makroekonomi sekaligus membagikan dividen.
Tingkat efisiensi yang diukur melalui CIR membuktikan keberhasilan transformasi digital perseroan secara menyeluruh. Selain itu, manajemen risiko yang pruden berhasil menjaga tingkat kredit bermasalah tetap rendah di industri.
D. Valuasi Saham
Penilaian harga saham menggunakan asumsi harga penutupan Rp3.900 pada 23 Oktober 2026. Berikut adalah posisi valuasi perseroan dibandingkan dengan fundamentalnya:
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| PER | 5,99x | Valuasi relatif diskon dibandingkan rata-rata perbankan berkapitalisasi besar. |
| PBV | 1,23x | Harga saham berada pada level wajar dan sangat atraktura untuk dikoleksi. |
Dengan Price to Earnings Ratio (PER) di bawah 6 kali, saham perseroan menawarkan potensi keuntungan yang sangat memadai bagi investor jangka panjang. Angka ini mencerminkan valuasi yang tergolong murah atau undervalued apabila disandingkan dengan profitabilitas yang solid.
Sementara itu, Price to Book Value (PBV) pada kisaran 1,23 kali mengindikasikan harga wajar yang belum mengapresiasi penuh ketebalan ekuitas perseroan. Kombinasi valuasi diskon dan fundamental kokoh menjadikan saham ini memiliki tingkat risiko yang relatif minim.
Kesimpulan
Berdasarkan Analisis saham BMRI 2026, perseroan terbukti mampu mempertahankan fundamental yang cemerlang meski harus menyesuaikan postur neraca pasca-dekonsolidasi BSI. Lonjakan EPS yang signifikan menjadi sinyal positif tingginya komitmen manajemen dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
Dengan valuasi pasar yang tergolong undervalued, saham perseroan menawarkan momentum investasi yang sangat proporsional. Keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan horizon waktu masing-masing pelaku pasar.
Profil Singkat Perusahaan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk didirikan pada 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia. Perseroan merupakan hasil penggabungan empat bank milik negara, yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim, dan Bapindo.
Hingga saat ini, perseroan beroperasi sebagai salah satu bank komersial terbesar di Indonesia dengan fokus pada segmen korporasi, komersial, hingga ritel. Struktur permodalan perseroan dikendalikan langsung oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin