Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightAnalisis Laporan Keuangan Salah Satu Sekuritas di Bursa

Analisis Laporan Keuangan Salah Satu Sekuritas di Bursa

Kalau kita bedah laporan keuangan PT Ajaib Sekuritas Asia per 31 Maret 2025, cerita besarnya cukup simpel tapi penuh nuansa, Ajaib lagi panen revenue dari investor ritel yang makin agresif, terutama lewat komisi transaksi dan bunga dari fasilitas margin. Tapi di balik euforia pertumbuhan pendapatan, tersembunyi sejumlah risiko dan tekanan keuangan yang nggak bisa diabaikan.

Ajaib adalah sekuritas digital yang izin usahanya fokus di dua hal, perantara perdagangan efek dan penjamin emisi efek (lihat hal. 1 & 2). Perusahaan ini dimiliki 99% oleh PT Harta Karunia Indonesia dan sisanya oleh Edward Sumarli, salah satu co-founder Ajaib. Tambahan modal Rp75 miliar di awal 2025 (CALK catatan 19, hal. 27) memberi bantalan modal yang lumayan, tapi belum cukup untuk meredam leverage yang sudah kelewat tinggi.

Struktur grupnya memang terafiliasi dengan PT Ajaib Teknologi Indonesia (hal. 33), penyedia jasa TI dan konsultasi untuk Ajaib Sekuritas. Artinya, model bisnis Ajaib masih murni sekuritas, belum terlihat jejak usaha dompet digital atau manajer investasi di laporan ini.

Dari sisi pendapatan, Ajaib mencetak total revenue Rp74,12 miliar dalam 3 bulan pertama 2025 (hal. 3 & catatan 21, hal. 29), melonjak 110% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dua sumber utamanya adalah komisi transaksi Rp50,86 miliar (68,6%) dan pendapatan bunga ditambah dividen Rp23,26 miliar (31,4%).

Yang menarik, komponen bunga ini naik lebih dari 367% YoY, sinyal kuat bahwa nasabah makin doyan pakai margin. Ini bukan hal buruk selama pasar naik, tapi kalau market drop, efeknya bisa brutal. Margin call berjamaah bukan cuma bikin rugi nasabah, tapi juga bisa seret likuiditas sekuritas.

Sayangnya, meski revenue naik dobel, laba justru anjlok. Laba bersih turun ke Rp2,23 miliar, alias hanya 3% dari revenue, dibanding 13% di tahun lalu (hal. 3). Penyebab utamanya adalah beban administrasi dan umum yang meroket 299% jadi Rp41,53 miliar (catatan 22, hal. 30).

Pos ini menyedot lebih dari 70% gross profit dan mempersempit ruang margin operasional. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income) tembus 75%, jauh dari ideal. Ini warning pertama.

Struktur neraca juga cukup agresif. Total aset Ajaib Rp1,75 triliun (hal. 2), tapi 89% di antaranya dibiayai oleh liabilitas (Rp1,59 triliun). Gearing ratio sekitar 10 kali, artinya setiap Rp1 ekuitas dipakai buat menyangga Rp10 utang. Utang ke nasabah dan KPEI masing-masing Rp642 miliar dan Rp509 miliar (hal. 2 & catatan 12, hal. 21).

Piutang margin ke nasabah ritel sebesar Rp693,13 miliar (catatan 11, hal. 22) makin memperjelas bahwa Ajaib menggantungkan likuiditas ke cashflow margin. Yang bikin deg-degan, belum ada CKPN untuk piutang margin, karena manajemen merasa masih collectible. Tapi kalau pasar jeblok, asumsi ini bisa langsung runtuh.

Menariknya, arus kas operasional Ajaib positif Rp40,86 miliar (hal. 6), hampir 18 kali laba bersih. Tapi jangan senang dulu, karena ini bukan hasil operasi murni, melainkan dari penerimaan margin funding sebesar Rp240 miliar yang kemudian disalurkan lagi ke deposito (Rp89 miliar) dan penempatan lain. Jadi bisa dibilang, cashflow kuat karena margin leverage tinggi, bukan karena kinerja operasional yang efisien.

Dari sisi hubungan dengan pihak berelasi, ada utang jangka panjang Rp320 miliar ke entitas afiliasi (catatan 18, hal. 26) tapi tanpa rincian jatuh tempo. Ini bisa jadi sinyal ketergantungan pembiayaan internal atau struktur pinjaman yang belum sepenuhnya transparan. Layanan teknologi dan pemasaran juga diborong dari perusahaan afiliasi (catatan 34, hal. 33), artinya Ajaib cukup terikat secara biaya ke grup internal.

Kalau ditanya apa saja kelebihan Ajaib, revenue growth luar biasa, basis nasabah ritel besar, dan model digital first membuatnya punya positioning kuat di segmen milenial dan Gen Z. Gross margin masih 80%, dan ada modal tambahan untuk naik kelas jadi underwriter IPO ritel.

Tapi kelemahannya serius, beban operasional bengkak, profit tergerus, struktur modal terlalu agresif, dan ketergantungan margin funding sangat tinggi. Dengan profil seperti ini, jelas bahwa Ajaib belum cocok buat investor yang cari cash cow. Tapi buat yang cari pertumbuhan dan siap hadapi roller coaster, ini menarik.

Hidden gem-nya justru ada di potensi monetisasi user base lewat produk produk seperti robo advisory, wealth management, dan reksa dana. Kalau Ajaib bisa memperluas fee based income ke luar aktivitas trading dan margin, struktur pendapatannya akan lebih tahan banting.

Tapi kalau nggak, Ajaib akan jadi korban sentimen pasar yang volatile. Value trap-nya ada di asumsi bahwa revenue naik sama dengan bisnis makin bagus padahal bisa saja revenue naik tapi margin makin mepet dan risiko makin besar.

Valuasi ideal buat Ajaib, jika ingin dihargai premium, mestinya muncul kalau net margin bisa kembali ke atas 10%, gearing ratio ditekan ke bawah 7x, dan kontribusi revenue dari non trading bisa 30% atau lebih. Kalau syarat ini nggak terpenuhi, valuasi akan stuck dan investor besar bakal wait and see. Potensi IPO di masa depan pun bisa kehilangan daya tarik.

Sekuritas Ajaib masih dalam fase growth at all cost tapi biaya pertumbuhannya mulai menggigit. Selama manajemen bisa turunkan beban, perbaiki struktur modal, dan diversifikasi revenue, jalan menuju perusahaan keuangan digital yang solid masih terbuka. Tapi kalau tetap mengandalkan margin dan komisi dari nasabah newbie yang mudah panik, Ajaib bisa cepat tumbuh lalu cepat tumbang.

Jadi Ajaib Sekuritas ini lagi fase growth at all cost. Apapun dilakukan demi growth. Di satu sini ini bagus untuk memperbesar aset perusahaan, tapi di sisi lain ada risiko margin leverage yang terlalu tinggi. Jika risiko ini bisa dikelola dengan baik makanya bukan tidak mungkin Ajaib bisa jadi salah satu sekuritas terbesar di Indonesia. Tapi kalau gagal dikelola ini margin leverage yang tinggi maka itu bisa jadi bom waktu.

Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here