Analisa saham TBIG Kuartal I 2026 menunjukkan kinerja PT Tower Bersama Infrastructure Tbk masih mencatat profitabilitas tinggi, meski pendapatan dan laba bersih melemah secara tahunan. Pendapatan turun 0,8% YoY menjadi Rp1,72 triliun, sementara laba periode berjalan turun 5,6% YoY menjadi Rp405,16 miliar.
Kinerja Keuangan TBIG Kuartal I 2026
A. Laporan Posisi Keuangan
| Dalam jutaan rupiah | Q1 2026 | FY 2025 | Perubahan vs FY 2025 |
| Total Aset | 46.517.616 | 46.247.268 | 0,6% |
| Aset Lancar | 2.827.947 | 3.111.787 | -9,1% |
| Aset Tidak Lancar | 43.689.669 | 43.135.481 | 1,3% |
| Total Liabilitas | 33.253.808 | 33.521.911 | -0,8% |
| Liabilitas Jangka Pendek | 10.144.068 | 16.324.158 | -37,9% |
| Liabilitas Jangka Panjang | 23.109.740 | 17.197.753 | 34,4% |
| Total Ekuitas | 13.263.808 | 12.725.357 | 4,2% |
Total aset TBIG naik tipis menjadi Rp46,52 triliun pada akhir Maret 2026. Kenaikan aset terutama ditopang aset tidak lancar yang naik menjadi Rp43,69 triliun, sejalan dengan karakter bisnis menara telekomunikasi yang padat aset.
Aset lancar turun 9,1% menjadi Rp2,83 triliun, antara lain dipengaruhi penurunan aset keuangan derivatif jangka pendek. Di sisi lain, kas dan setara kas masih naik menjadi Rp778,19 miliar dari Rp748,39 miliar pada akhir 2025.
Total liabilitas turun tipis menjadi Rp33,25 triliun, tetapi struktur jatuh tempo berubah signifikan. Liabilitas jangka pendek turun tajam, sementara liabilitas jangka panjang meningkat, yang mengindikasikan adanya pergeseran profil kewajiban ke tenor lebih panjang.
B. Laporan Laba Rugi
| Dalam jutaan rupiah | Q1 2026 | Q1 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan | 1.717.879 | 1.731.634 | -0,8% |
| Laba Kotor | 1.235.278 | 1.258.395 | -1,8% |
| Laba Usaha | 1.078.818 | 1.112.440 | -3,0% |
| Laba Bersih | 405.161 | 429.235 | -5,6% |
| EPS | Rp17,43 | Rp18,52 | -5,9% |
Pendapatan TBIG turun tipis dari Rp1,73 triliun menjadi Rp1,72 triliun. Laba kotor turun lebih dalam menjadi Rp1,24 triliun, sementara laba usaha turun menjadi Rp1,08 triliun.
Penurunan laba bersih terutama dipengaruhi pelemahan pendapatan, kenaikan beban pokok pendapatan, kenaikan beban usaha, serta kenaikan beban lain. Namun, beban keuangan dari utang bank, obligasi, dan sukuk ijarah turun menjadi Rp426,73 miliar dari Rp500,32 miliar, sehingga membantu menahan tekanan laba.
EPS turun menjadi Rp17,43 dari Rp18,52 pada Kuartal I 2025. Penurunan EPS sejalan dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang turun dari Rp413,40 miliar menjadi Rp390,10 miliar.
C. Analisis Rasio Keuangan
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Current Ratio | 0,28 kali | Likuiditas jangka pendek rendah |
| Quick Ratio | 0,22 kali | Aset cepat belum menutup kewajiban lancar |
| Margin Laba Kotor | 71,91% | Margin bruto sangat tinggi |
| Margin Laba Bersih | 23,58% | Profitabilitas bersih masih solid |
| ROA | 0,87% | Imbal hasil aset rendah karena basis aset besar |
| ROE | 3,05% | Imbal hasil ekuitas positif untuk periode kuartalan |
| DER | 2,51 kali | Struktur pendanaan cukup tinggi berbasis liabilitas |
Rasio likuiditas TBIG menunjukkan kewajiban jangka pendek masih jauh lebih besar dibandingkan aset lancar. Kondisi ini umum perlu dicermati pada emiten infrastruktur yang banyak menggunakan pendanaan berbasis utang dan pembiayaan ulang.
Dari sisi profitabilitas, margin laba kotor 71,91% dan margin laba bersih 23,58% menunjukkan bisnis masih memiliki margin yang kuat. Namun, penurunan laba secara tahunan menunjukkan tekanan dari biaya operasional dan pos nonoperasional tetap perlu diperhatikan.
DER sebesar 2,51 kali mencerminkan struktur modal yang cukup leverage. Bagi emiten menara, penggunaan utang relatif lazim karena aset menghasilkan pendapatan berulang, tetapi biaya bunga dan jadwal jatuh tempo tetap menjadi faktor penting.
D. Valuasi Saham
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| PER | 21,08 kali | Cenderung premium jika memakai EPS kuartalan yang dianualisasi |
| PBV | 2,64 kali | Relatif premium terhadap nilai buku |
Dengan harga closing Rp1.470 dan EPS Kuartal I 2026 yang dianualisasi, PER TBIG berada di sekitar 21,08 kali. Secara umum, valuasi ini cenderung premium, terutama ketika laba bersih masih turun secara tahunan.
PBV sekitar 2,64 kali menunjukkan pasar menilai saham TBIG di atas nilai bukunya. Premium tersebut dapat mencerminkan kualitas aset menara, pendapatan berulang, dan posisi perusahaan di sektor infrastruktur telekomunikasi, namun tetap perlu dibandingkan dengan pertumbuhan laba dan beban utang.
Kesimpulan
TBIG mencatat kinerja Kuartal I 2026 yang relatif stabil dari sisi pendapatan, tetapi laba bersih turun 5,6% YoY. Margin masih tinggi, namun tekanan pada beban usaha dan pos nonoperasional membuat pertumbuhan laba belum terlihat kuat.
Neraca masih didominasi aset tidak lancar dan liabilitas besar, sesuai karakter bisnis infrastruktur menara. Pada harga Rp1.470, valuasi TBIG terlihat premium secara umum, sehingga perkembangan laba, pengelolaan utang, dan arus kas operasi menjadi faktor penting untuk dipantau.
Profil Singkat Perusahaan
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk merupakan perusahaan yang bergerak sebagai perusahaan induk dan penyedia jasa konsultasi manajemen. Melalui entitas anak, perusahaan menjalankan kegiatan penunjang telekomunikasi, termasuk infrastruktur menara dan layanan terkait telekomunikasi.
Perusahaan berdomisili di Jakarta Selatan dan didirikan pada 8 November 2004. Saham TBIG tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 26 Oktober 2010 setelah penawaran umum perdana sebanyak 551.111.000 saham.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin