Analisa saham PNBN Kuartal I 2026 menunjukkan kinerja PT Bank Pan Indonesia Tbk masih relatif stabil, meski aset, kredit, dan dana pihak ketiga mengalami penurunan dibanding akhir 2025. Laba bersih periode berjalan turun tipis 0,8% YoY menjadi Rp743,31 miliar, sementara harga closing Rp960 mencerminkan PER sekitar 8,27 kali dan PBV sekitar 0,43 kali.
Kinerja Keuangan PNBN Kuartal I 2026
A. Laporan Posisi Keuangan
| Dalam jutaan rupiah | Q1 2026 | FY 2025 | Perubahan |
| Total Aset | 225.361.509 | 237.326.686 | -5,0% |
| Kredit yang Diberikan | 125.174.252 | 130.098.216 | -3,8% |
| Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain | 4.866.102 | 5.519.557 | -11,8% |
| Total Liabilitas | 152.420.563 | 164.111.199 | -7,1% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 134.415.908 | 143.300.345 | -6,2% |
| Dana Murah (CASA) | 60.367.968 | 61.345.810 | -1,6% |
| Total Ekuitas | 58.131.891 | 58.773.013 | -1,1% |
Total aset PNBN turun menjadi Rp225,36 triliun pada akhir Maret 2026. Penurunan terutama terlihat dari kredit bersih yang turun menjadi Rp125,17 triliun dan penempatan pada Bank Indonesia serta bank lain yang turun menjadi Rp4,87 triliun.
DPK turun 6,2% menjadi Rp134,42 triliun, terutama karena deposito berjangka turun dari Rp81,95 triliun menjadi Rp74,05 triliun. Sementara itu, dana murah atau CASA relatif lebih stabil, turun 1,6% menjadi Rp60,37 triliun.
Total liabilitas turun lebih dalam dibanding ekuitas, sehingga struktur modal masih terlihat cukup kuat. Namun, penurunan kredit dan DPK menunjukkan ekspansi intermediasi belum agresif pada awal 2026.
B. Laporan Laba Rugi
| Dalam jutaan rupiah | Q1 2026 | Q1 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan Bunga Bersih (NII) | 2.330.266 | 2.165.047 | 7,6% |
| Pendapatan Operasional Lainnya | 408.503 | 490.940 | -16,8% |
| Beban Operasional | 1.474.042 | 1.453.810 | 1,4% |
| Laba Bersih | 743.305 | 749.448 | -0,8% |
| EPS | Rp29,02 | Rp30,37 | -4,4% |
Pendapatan bunga bersih naik 7,6% YoY menjadi Rp2,33 triliun, karena beban bunga turun lebih besar dibanding penurunan pendapatan bunga. Ini menjadi faktor positif utama dalam laporan laba rugi PNBN.
Namun, pendapatan operasional lainnya turun 16,8% YoY menjadi Rp408,50 miliar. Tekanan juga datang dari kenaikan beban kerugian penurunan nilai aset keuangan menjadi Rp350,72 miliar dari Rp263,38 miliar.
Laba bersih hanya turun tipis menjadi Rp743,31 miliar. Artinya, perbaikan NII mampu menahan tekanan dari pendapatan non-bunga dan pencadangan kredit.
C. Analisis Rasio Keuangan
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Net Interest Margin (NIM) estimasi | 4,47% | Margin bunga relatif sehat |
| NPL Gross | 3,00% | Risiko kredit masih perlu dipantau |
| Loan to Deposit Ratio (LDR) estimasi | 97,97% | Intermediasi cukup tinggi |
| Capital Adequacy Ratio (CAR) | 37,07% | Permodalan sangat kuat |
| Cost to Income Ratio (CIR) estimasi | 53,82% | Efisiensi operasional cukup terkendali |
| ROA estimasi | 1,29% | Profitabilitas aset masih positif |
| ROE estimasi | 5,09% | Imbal hasil ekuitas moderat |
Rasio NPL bruto konsolidasi PNBN berada di 3,00%, naik dari 2,82% pada akhir 2025. Kenaikan ini menunjukkan kualitas kredit perlu terus diperhatikan, terutama karena beban penurunan nilai aset keuangan juga meningkat.
CAR sebesar 37,07% menunjukkan modal PNBN masih sangat tebal dibanding kebutuhan minimum. Posisi permodalan ini memberi ruang untuk menyerap risiko kredit, menjaga ekspansi, dan mendukung aktivitas bisnis bank.
LDR estimasi mendekati 98% menunjukkan porsi kredit terhadap dana simpanan cukup tinggi. Dalam konteks bank, kondisi ini perlu diimbangi dengan pengelolaan likuiditas yang disiplin, terutama ketika DPK sedang menurun.
D. Valuasi Saham
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| PER | 8,27 kali | Relatif wajar hingga diskon secara umum |
| PBV | 0,43 kali | Diperdagangkan di bawah nilai buku |
Dengan harga closing Rp960 dan EPS Kuartal I 2026 yang dianualisasi, PER PNBN berada di sekitar 8,27 kali. Secara umum, valuasi ini terlihat wajar hingga diskon untuk saham perbankan, terutama jika dibandingkan dengan laba yang masih positif.
PBV sekitar 0,43 kali menunjukkan saham PNBN diperdagangkan jauh di bawah nilai bukunya. Namun, PBV rendah perlu dibaca bersama pertumbuhan kredit, kualitas aset, profitabilitas, dan persepsi pasar terhadap prospek bank.
Kesimpulan
PNBN mencatat kinerja Kuartal I 2026 yang stabil dari sisi laba bersih, tetapi neraca menunjukkan penurunan aset, kredit, dan DPK. Kinerja utama masih ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih serta modal yang sangat kuat.
Risiko utama berada pada kenaikan NPL bruto, penurunan DPK, dan tekanan pendapatan operasional lainnya. Pada harga Rp960, valuasi terlihat diskon berdasarkan PBV, tetapi prospek tetap bergantung pada pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan efisiensi operasional.
Profil Singkat Perusahaan
PT Bank Pan Indonesia Tbk atau PaninBank merupakan bank umum yang berdiri pada 17 Agustus 1971 dan mulai beroperasi komersial pada 18 Agustus 1971. Bank berkedudukan di Jakarta dan memiliki kantor pusat di Gedung Panin Centre, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta.
Per 31 Maret 2026, Bank memiliki 57 kantor cabang di Indonesia dan 1 kantor perwakilan di Singapura. Grup juga memiliki entitas anak, yaitu PT Clipan Finance Indonesia Tbk dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin