ADRO dengan nama baru PT Alamtri Resources Indonesia Tbk memang sedang masuk masa-masa agak suram di pertengahan 2025 ini. Dari harga Rp3.000 yang sempat jadi level euforia retail beberapa tahun lalu, sekarang ADRO justru parkir di Rp1.860. Secara teknikal, kondisinya benar-benar lesu.
RSI di bawah 20 alias oversold parah, MACD juga masih mengarah ke bawah, dan hampir semua moving average dari MA5 sampai MA200 ngasih sinyal jual. Harga saat ini bahkan belum bisa balik menembus MA50 di Rp1.995, apalagi MA200 di Rp2.051. Singkatnya, dari sisi grafik, tren jangka pendek sampai menengahnya masih bearish banget.
Dari sisi fundamental, penyebab tekanan ini juga bukan cuma isu teknikal biasa. Laba bersih kuartal I 2025 cuma US$77 juta, alias anjlok 80% dibanding tahun lalu. Pendapatannya juga turun tajam, tinggal Rp6,3 Triliun, padahal ADRO biasanya cetak US$1,4 miliar dalam setahun.
Penyebab utamanya adalah hilangnya kontribusi dari AADI, anak usaha yang sudah spin-off, dan penurunan harga jual rata-rata batubara. Margin bersihnya pun ikutan nyusut dari 26% ke 20%. Efek domino dari sini, dividen 2025 juga ikut turun. Meskipun yield-nya masih 7,6% dari pembagian Rp158,9 per saham, tapi nilai dividennya lebih kecil dari tahun lalu. Jadi buat investor income, ini mulai kurang seksi.
Kalau bicara valuasi, sebenarnya ADRO ini masih terlihat murah. PER-nya cuma 3,36x dan PBV-nya 0,94x, di bawah rata-rata sektor batubara yang biasanya main di PER 5–10x dan PBV 1,2x. Tapi, ya itu tadi, angka murah ini lebih karena laba yang menyusut, bukan karena harga terlalu diskon.
ROE masih tinggi di 28%, dan DER sangat konservatif di 0,23, artinya perusahaan sehat secara struktur modal. Tapi investor bakal tanya, “Fundamental Sehat buat apa kalau labanya terus menurun?”
Kalau ditanya apakah bisa balik ke Rp3.000? Secara matematis, kenaikan dari posisi sekarang (Rp1.860) ke Rp3.000 berarti harus naik 61%. Buat saham komoditas seperti ADRO, itu bukan hal yang mustahil secara historis, tapi sangat tidak mudah dalam kondisi sekarang. Supaya target itu tercapai, minimal harus ada 4 hal besar yang terjadi:
1. Harga batubara global rebound signifikan dan bertahan tinggi selama lebih dari 2 kuartal. Itu artinya perang Israel – Iran harus lama
2. ADRO bisa menemukan pengganti kontribusi laba dari AADI lewat proyek baru (misalnya dari energi terbarukan)
3. Market mulai percaya dan mau rerating valuasi ADRO dari PER 3x jadi 5x atau lebih.
4. Bandarnya mau sedekah lagi.
Di luar itu, memang ada sedikit harapan dari buyback. Pada Mei 2025 lalu, manajemen ngumumin program buyback senilai Rp4 Triliun. Ini bisa jadi sentimen positif, apalagi kalau direalisasikan agresif di harga bawah.
Tapi efeknya sementara aja kalau enggak dibarengi perbaikan kinerja keuangan. Ditambah, ADRO juga lagi coba diversifikasi ke sektor energi baru seperti panel surya dan baterai EV. Meskipun masih di tahap awal, arah ini bisa bantu long-term story perusahaan.
Tapi tetap aja, tahun ini rebound ke Rp3.000 kelihatannya sulit kecuali ada kejadian Coal ADMR balik ke 400 dollar. Level realistis untuk 2025 kalau semua katalis berjalan positif ya paling mentok ke Rp2.200, itu pun kalau harga batubara rebound, buyback berjalan, dan sentimen makro mendukung.
Tanpa itu, harga kemungkinan masih akan bermain di kisaran Rp1.600–1.900. Jadi buat yang mikir masuk sekarang, peluangnya ada tapi lebih cocok buat yang tahan banting dan sabar nunggu cerita baru berkembang. Kalau cuma cari cuan cepat, ADRO ini masih masuk zona waspada.
Intinya, rebound ke Rp3.000 tahun ini adalah mimpi yang terlalu ambisius kecuali terjadi sesuatu yang besar dan mendadak dan ada keajaiban dari sisi harga batubara atau fundamental ADRO sendiri. Tapi buat investor jangka panjang, harga sekarang bisa jadi area akumulasi pelan-pelan, apalagi kalau tertarik sama dividen dan valuasi murah. Cuma jangan buru-buru berharap rally besar tanpa perubahan signifikan dari kinerja dan sentimen sektoral.
Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.


