PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) menyampaikan rencana transaksi pengambilalihan 45% kepemilikan saham PT Trimata Coal Perkasa (TCP) melalui mekanisme pertukaran saham atau swap share. Akuisisi TCP MEJA ini masih berada dalam tahap kajian menyeluruh, due diligence, valuasi independen, serta evaluasi aspek hukum dan kepatuhan sesuai ketentuan pasar modal.
Rencana transaksi ini menjadi penting karena TCP disebut memiliki estimasi cadangan batubara yang dapat ditambang atau mineable reserve sekitar 400 juta ton berdasarkan laporan Competent Person tertanggal 1 Juni 2026. MEJA menyatakan akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut kepada publik sesuai ketentuan yang berlaku.
Rincian Aksi Korporasi Akuisisi TCP MEJA
MEJA menyampaikan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia pada 24 Juni 2026. Keterbukaan tersebut membahas rencana transaksi pengambilalihan kepemilikan saham TCP melalui mekanisme swap share.
Rencana transaksi ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding antara pemegang saham pengendali MEJA dan pemegang saham pengendali TCP. Objek rencana transaksi adalah pertukaran saham untuk memperoleh 45% kepemilikan pada TCP.
Rincian utama rencana transaksi adalah sebagai berikut:
| Keterangan | Detail |
| Emiten terkait | PT Harta Djaya Karya Tbk |
| Kode saham | MEJA |
| Target transaksi | PT Trimata Coal Perkasa |
| Bentuk transaksi | Pengambilalihan saham melalui swap share |
| Porsi kepemilikan yang direncanakan | 45% saham TCP |
| Aset utama terkait | Konsesi tambang batubara TCP |
| Estimasi mineable reserve | Sekitar 400 juta ton |
| Tanggal laporan Competent Person | 1 Juni 2026 |
| Status proses | Due diligence, valuasi independen, evaluasi hukum dan kepatuhan |
TCP telah menunjuk Kantor Akuntan Publik untuk melakukan audit laporan keuangan tahun buku 2025. Proses audit tersebut masih berlangsung pada saat keterbukaan informasi disampaikan.
TCP juga telah menunjuk Competent Person independen untuk melakukan studi estimasi sumber daya dan cadangan batubara. Berdasarkan laporan tertanggal 1 Juni 2026, estimasi cadangan batubara yang dapat ditambang mencapai sekitar 400 juta ton.
Sumber Informasi: Keterbukaan Informasi Rencana Akuisisi TCP oleh MEJA
Jadwal Lengkap
Berikut jadwal dan tahapan penting dalam rencana akuisisi TCP oleh MEJA:
| Tanggal | Agenda |
| 1 Juni 2026 | Laporan Competent Person atas estimasi cadangan batubara TCP |
| 24 Juni 2026 | MEJA menyampaikan keterbukaan informasi kepada OJK dan BEI |
| Dalam proses | Audit laporan keuangan TCP tahun buku 2025 |
| Dalam proses | Due diligence, valuasi independen, evaluasi hukum dan kepatuhan |
| Tahap berikutnya | Pemenuhan ketentuan OJK dan BEI jika transaksi memenuhi kriteria transaksi material, transaksi afiliasi, atau membutuhkan persetujuan pemegang saham |
MEJA menyatakan setiap tahapan transaksi akan dilakukan dengan memperhatikan prinsip keterbukaan, tata kelola perusahaan yang baik, dan kepentingan seluruh pemegang saham. Apabila transaksi memenuhi kriteria tertentu, perseroan akan memenuhi persyaratan regulasi termasuk penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham.
Dampak bagi Investor
Dampak utama bagi investor terletak pada potensi perubahan eksposur bisnis MEJA ke sektor pertambangan batubara. Jika transaksi selesai, MEJA berpotensi memiliki 45% saham TCP dan memperoleh eksposur terhadap aset batubara yang disebut memiliki mineable reserve sekitar 400 juta ton.
Potensi dilusi belum dapat dihitung karena dokumen keterbukaan belum memuat rasio swap share, jumlah saham yang akan diterbitkan, valuasi TCP, atau struktur transaksi final. Investor perlu menunggu hasil due diligence, valuasi independen, dan pengumuman lanjutan untuk menilai dampak terhadap struktur modal MEJA.
Rencana transaksi juga dapat memengaruhi profil risiko perseroan karena bisnis pertambangan batubara memiliki karakter yang berbeda dari kegiatan usaha yang selama ini dijalankan. Risiko yang perlu dicermati mencakup risiko komoditas, perizinan, kebutuhan modal, kesiapan infrastruktur, dan realisasi kerja sama dengan kontraktor tambang serta calon offtaker.
MEJA menyatakan TCP telah menyusun business plan pengembangan usaha pertambangan dengan indikator keuangan yang positif. Namun, proyeksi tersebut tetap perlu divalidasi melalui laporan keuangan audited, valuasi independen, dan pemenuhan regulasi pasar modal. Baca juga: Strategi Manajemen Risiko Saham untuk Menjaga Keberlangsungan Modal Investasi
Kondisi Keuangan Terkait
Keterbukaan informasi ini belum memuat nilai transaksi, nilai ekuitas MEJA, nilai valuasi TCP, atau rasio keuangan terbaru. Perseroan menyatakan saat ini sedang melakukan kajian menyeluruh, valuasi independen, dan evaluasi aspek hukum serta kepatuhan.
TCP telah menunjuk Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan tahun buku 2025. Hasil audit tersebut akan menjadi salah satu informasi penting untuk menilai kualitas aset, liabilitas, pendapatan, laba, dan arus kas TCP.
TCP juga disebut telah menjalin kerja sama awal dengan kontraktor tambang, investor infrastruktur pendukung, dan calon offtaker. Kerja sama awal tersebut dapat mendukung persiapan operasional komersial, tetapi masih perlu dilihat realisasi dan dampaknya terhadap kinerja keuangan.
Baca juga: PT Triple Berkah Bersama Gelar Penawaran Tender Wajib MEJA Rp66 per Saham
FAQ
Apa inti rencana transaksi MEJA?
MEJA berencana mengambil alih 45% saham TCP melalui mekanisme pertukaran saham atau swap share.
Berapa estimasi cadangan batubara TCP?
TCP memiliki estimasi cadangan batubara yang dapat ditambang sekitar 400 juta ton berdasarkan laporan Competent Person tertanggal 1 Juni 2026.
Apakah transaksi ini sudah final?
Transaksi belum final karena MEJA masih melakukan due diligence, valuasi independen, serta evaluasi aspek hukum dan kepatuhan.
Apakah transaksi ini dapat menyebabkan dilusi saham MEJA?
Potensi dilusi belum dapat dihitung karena dokumen belum memuat rasio swap share, jumlah saham baru, atau struktur final transaksi.
Poin Penting bagi Investor
- MEJA menyampaikan rencana akuisisi 45% saham TCP melalui swap share.
- Rencana transaksi merupakan tindak lanjut dari MoU antara pemegang saham pengendali MEJA dan TCP.
- TCP memiliki estimasi mineable reserve sekitar 400 juta ton berdasarkan laporan 1 Juni 2026.
- TCP sedang menjalani audit laporan keuangan tahun buku 2025.
- MEJA masih melakukan due diligence, valuasi independen, serta evaluasi hukum dan kepatuhan.
- Dampak dilusi belum dapat dihitung karena rasio swap share belum diungkapkan.
- MEJA akan memenuhi ketentuan OJK dan BEI jika transaksi membutuhkan persetujuan pemegang saham.
Profil Singkat Perusahaan
PT Harta Djaya Karya Tbk adalah emiten yang menyampaikan keterbukaan informasi terkait rencana pengambilalihan saham PT Trimata Coal Perkasa. Perseroan berkantor di Jl. Bintaro Raya No. 8A, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
PT Trimata Coal Perkasa merupakan perusahaan yang menjadi target rencana akuisisi MEJA. Berdasarkan keterbukaan informasi, TCP memiliki konsesi tambang batubara dan telah menyusun rencana bisnis pengembangan usaha pertambangan.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin