Kinerja keuangan saham EXCL (PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk) mencatatkan dinamika yang bervariasi pada kuartal pertama tahun 2026 pasca penggabungan usaha. Laporan keuangan terbaru menunjukkan adanya lonjakan pendapatan secara signifikan, namun diiringi dengan tekanan pada sisi laba bersih akibat pembengkakan beban operasional.
Kinerja Keuangan Saham EXCL Kuartal I 2026
A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
| Dalam Jutaan IDR | Q1 2026 | FY 2025 | Perubahan YoY |
| Total Aset | 111.850.228 | 115.318.438 | -3,01% |
| Aset Lancar | 12.298.526 | 15.020.150 | -18,12% |
| Aset Tidak Lancar | 99.551.702 | 100.298.288 | -0,74% |
| Total Liabilitas | 82.532.359 | 85.309.730 | -3,26% |
| Liabilitas Jangka Pendek | 30.454.863 | 31.839.607 | -4,35% |
| Liabilitas Jangka Panjang | 52.077.496 | 53.470.123 | -2,60% |
| Total Ekuitas | 29.317.869 | 30.008.708 | -2,30% |
Total aset perusahaan mengalami penurunan moderat sebesar 3,01% menjadi Rp111,85 triliun pada kuartal pertama 2026 dibandingkan dengan posisi penutupan tahun 2025. Penurunan ini secara utama dipicu oleh menyusutnya porsi aset lancar sebesar 18,12%, terutama pada pos piutang usaha dan pembayaran beban dibayar di muka.
Di sisi lain, nilai total liabilitas juga berhasil ditekan turun sebesar 3,26% menjadi Rp82,53 triliun sejalan dengan efisiensi beberapa pos kewajiban. Hal tersebut berdampak cukup baik pada postur utang secara keseluruhan, meskipun total ekuitas ikut terkoreksi 2,30% akibat pencatatan kerugian pada periode berjalan.
B. Laporan Laba Rugi
| Dalam Jutaan IDR | Q1 2026 | Q1 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan | 11.819.341 | 8.601.177 | +37,42% |
| Laba Kotor* | 7.224.468 | 5.309.359 | +36,07% |
| Laba Usaha | 107.889 | 1.359.252 | -92,06% |
| Laba Bersih | (716.272) | 388.232 | -284,50% |
| EPS | (39) | 29 | -234,48% |
(Catatan: Proksi laba kotor dihitung dari pendapatan dikurangi beban infrastruktur dan beban interkoneksi)
Pendapatan perusahaan melesat 37,42% Year-on-Year (YoY) mencapai Rp11,82 triliun, yang didorong oleh peningkatan volume layanan pasca integrasi entitas bisnis. Pencapaian baris pendapatan yang kuat ini membuktikan bahwa strategi penetrasi pasar emiten berjalan cukup memuaskan secara komersial.
Meskipun demikian, lonjakan beban penyusutan dan beban infrastruktur menekan laba usaha secara drastis hingga 92,06%. Akibat akumulasi beban operasional dan biaya keuangan yang bernilai jumbo, entitas ini harus mencatatkan rugi bersih sebesar Rp716,27 miliar yang berbalik arah dari posisi laba pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.
C. Analisis Rasio Keuangan
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Current Ratio | 0,40x | Likuiditas jangka pendek sangat ketat. |
| Quick Ratio | 0,40x | Kemampuan melunasi utang lancar dengan aset paling likuid sangat terbatas. |
| Margin Laba Kotor | 61,12% | Profitabilitas operasional dasar tergolong tangguh. |
| Margin Laba Bersih | -6,06% | Perusahaan merugi, gagal mengonversi tingginya pendapatan menjadi laba. |
| ROA | -0,64% | Aset perusahaan belum mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang positif. |
| ROE | -2,44% | Ekuitas pemegang saham mencatatkan imbal hasil yang negatif. |
| DER | 2,82x | Tingkat leverage dan beban pembiayaan utang sangat tinggi. |
Rasio likuiditas yang tergambar pada metrik current ratio dan quick ratio berada di level 0,40x, mengindikasikan adanya tantangan struktural pada pemenuhan kewajiban jangka pendek. Manajemen mutlak membutuhkan strategi optimalisasi arus kas yang presisi agar dapat memenuhi seluruh tanggungan utang yang akan segera jatuh tempo.
Selain itu, tingkat utang yang tercermin pada indikator Debt to Equity Ratio (DER) mencapai 2,82x memperlihatkan permodalan yang sangat didominasi oleh kewajiban eksternal. Margin laba bersih, tingkat pengembalian aset (ROA), dan pengembalian ekuitas (ROE) yang berada di teritori negatif menegaskan bahwa efisiensi beban bunga harus segera diprioritaskan.
D. Valuasi Saham
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| PER | -19,42x | Valuasi berbasis laba tidak dapat diukur secara wajar akibat kerugian. |
| PBV | 1,88x | Saham diperdagangkan dengan premi wajar di atas nilai buku ekuitasnya. |
Pada tingkat harga penutupan Rp3.030 per lembar saham per tanggal 13 Mei 2026, metrik Price to Earning Ratio (PER) bernilai negatif akibat kerugian bersih yang dibukukan pada awal tahun. Fakta tersebut membuat pendekatan valuasi yang murni berbasis kelipatan laba bersih menjadi kurang relevan untuk dijadikan patokan sementara waktu.
Berdasarkan indikator Price to Book Value (PBV) sebesar 1,88x, valuasi aset perusahaan berada pada level yang tergolong wajar jika dibandingkan dengan rata-rata emiten telekomunikasi sejenis. Pelaku pasar di bursa umumnya masih menoleransi tingkat PBV di level ini dengan ekspektasi adanya pemulihan bottom-line di masa mendatang setelah proses restrukturisasi selesai.
Kesimpulan
Kinerja fundamental pada pembukaan tahun 2026 ini menunjukkan profil yang menantang bagi para investor. Pertumbuhan baris pendapatan berhasil dicetak secara impresif, namun ketidakefisienan operasional dan tingginya beban penyusutan menyebabkan tergerusnya ruang penciptaan laba bersih.
Profil risiko emiten pada kuartal ini tergolong tinggi dengan indikasi tingkat likuiditas yang ketat serta rasio solvabilitas utang yang melebar. Fokus pengamatan ke depan sebaiknya diarahkan secara penuh pada eksekusi efisiensi infrastruktur, perbaikan struktur liabilitas, dan kecepatan pengembalian status profitabilitas ke zona positif.
Profil Singkat Perusahaan
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, yang sebelumnya dikenal luas sebagai PT XL Axiata Tbk, merupakan salah satu perusahaan penyedia layanan telekomunikasi dan jaringan seluler terkemuka di pasar Indonesia. Setelah menuntaskan agenda penggabungan usaha dengan PT Smartfren Telecom Tbk, operasional entitas gabungan ini melayani spektrum pengguna yang lebih masif melalui beragam penetrasi layanan data digital.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin