Divisi Kapal Milik
Dengan bertambahnya kapal high-tier yang beroperasional sejak Desember 2025, Wintermar mencatat 53,9% YOY kenaikan Pendapatan Divisi Kapal Milik sebesar US$22,8 juta pada 1Q2026.
Hal ini menghasilkan kenaikan dua kali lipat laba kotor Kapal Milik sebesar US$12,7 juta untuk 1Q2026, dengan margin kotor sebesar 55,7% dibandingkan dengan 41,1% pada 1Q2025.
Divisi Kapal Sewa dan Layanan Lainnya
Manajemen terus berfokus pada pemasaran Kapal Milik dan mengembangkan divisi Layanan Lainnya yang memiliki margin lebih tinggi.
Di mana hal ini mengakibatkan sedikit penurunan laba kotor dari divisi Kapal Sewa menjadi US$0,03 juta (-15%YOY). Sementara itu, pendapatan dari divisi Layanan Lainnya mencatat laba kotor sebesar US$0,5 juta (+17%YOY) dengan margin kotor 34,1%.
Biaya Langsung dan Laba Kotor
Sejalan dengan meningkatnya tingkat armada high-tier yang beroperasional, depresiasi meningkat sebesar 20,0% YOY menjadi US$4,0 juta.
Sementara biaya awak kapal meningkat 24,2% YOY menjadi sebesar US$2,9 juta, sementara biaya operasional tumbuh 38,5% menjadi US$1,1 juta untuk 1Q2026.
Walaupun kapal yang beroperasional lebih banyak dibandingkan dengan 1Q2025, biaya pemeliharaan menurun sebesar 1,8% YOY menjadi US$1,7 juta.
Biaya bahan bakar juga berkurang sebesar US$0,4 juta, seiring berkurangnya kapal yang belum beroperasi, serta tidak terdapat biaya mobilisasi yang signifikan dibandingkan dengan 1Q2025. Di mana Perusahaan memobilisasi kapal-kapal untuk kontrak internasional.
Total Laba Kotor meningkat 101,6% YOY menjadi US$13,3 juta. Sebagian besar dihasilkan dari kinerja yang kuat dari Divisi Kapal Milik, di mana tingkat utlisasi mencapai 62% dibandingkan dengan 55% pada 1Q2025.
Biaya Tidak Langsung dan Laba Operasional
Total Beban Tidak Langsung naik 14,6% YOY menjadi US$2,8 juta, sebagian besar disebabkan oleh biaya karyawan yang meningkat 16,7% YOY menjadi US$2,1 juta.
Hal ini disebabkan oleh pemberian Tunjangan Hari Raya dan bonus tahunan pada kuartal yang sama tahun ini.
Biaya pemasaran naik 33,2% YOY dan 46,3% YOY menjadi US$0,2 juta mencerminkan lebih banyaknya aktivitas tender yang diikuti Perusahaan. Sementara biaya profesional meningkat sebesar 46,3%YOY menjadi US$0,08 juta dikarenakan terdapat upgrade atas perangkat lunak payroll.
Biaya utilitas kantor menurun sebesar 13,0% YOY. Laba Usaha meningkat 153,0% YOY menjadi US$10,5 juta pada kuartal pertama ini.
Pendapatan Lain, Beban Lain, dan Laba Bersih yang Dapat Diatribusikan
Beban bunga sedikit menurun sebesar 1,2% menjadi US$0,5 juta dikarenakan *refinancing* pinjaman dengan suku bunga yang lebih rendah. Sementara pendapatan bunga berkurang sebesar 14% YOY menjadi US$0,2 juta yang diakibatkan penurunan suku bunga deposito.
Tidak terdapat penjualan kapal pada kuartal ini, namun perusahaan asosiasi mencatat kerugian bersih sebesar US$0,5 juta karena tingkat utilisasi armada yang lebih rendah.
Perusahaan membukukan kerugian akibat selisih kurs yang lebih rendah, yaitu sebesar US$0,15 juta dibandingkan dengan US$0,36 juta pada 1Q2025. Hal ini dikarenakan pendapatan Perusahaan diterima dalam mata uang Dollar Amerika Serikat.
Total Laba Bersih yang dapat diatribusikan sebesar US$4,8 juta (+194%YOY) untuk 1Q2026. Ini menghasilkan Laba per saham sebesar Rp18,4 pada 1Q2026 dibandingkan dengan Rp6,3 pada 1Q2025.
Sebagai hasil dari membaiknya kondisi operasional tersebut, EBITDA meningkat sebesar 92,2% YOY. Angka ini menjadi US$14,6 juta pada 1Q2026 dari US$7,6 juta pada 1Q2025.
Prospek Industri
Perang Iran masih berlanjut hingga kuartal kedua tahun ini, dengan gencatan senjata yang masih belum pasti. Namun sedikit memberikan kelegaan pada saat penulisan newsletter ini.
Harga minyak telah menurun tetapi tetap berfluktuasi sementara pasokan minyak masih terbatas dengan ditutupnya Selat Hormuz.
Tingginya risiko ketergantungan pada minyak Timur Tengah semakin mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk memperkuat ketahanan energinya.
Secara global, terdapat proyek-proyek hulu senilai hingga US$40 miliar yang dijadwalkan untuk dipercepat, termasuk beberapa diantaranya berada di Indonesia.
Prospek Bisnis
Dengan prospek pasar yang kuat untuk permintaan OSV, Perusahaan berencana untuk mengembangkan armada melalui berinvestasi dalam pembangunan kapal-kapal baru maupun akuisisi.
Platform Supply Vessel kedelapan grup Perusahaan yang dibeli pada akhir 2025, tengah menjalani perbaikan dan peningkatan. Kapal ini akan beroperasi pada pertengahan 2H2026.
Saat ini, armada Wintermar sebagian besar masih disewa dengan sistem kontrak spot. Akan tetapi terdapat beberapa penawaran kontrak jangka panjang untuk tahun 2027.
Perusahaan Asosiasi Perusahaan, Fast Offshore Supply Pte Ltd di Singapura telah memenangkan kontrak jangka panjang untuk membangun armada Kapal Crew Transfer Vessel (CTV) baru.
Pembangunan dilakukan di Singapura dan Batam untuk pengiriman pada tahun 2027, dan akan menghasilkan laba pada tahun depan waktu kapal mulai beroperasi.
Total kontrak yang ada pada akhir Maret 2026 berjumlah US$47,8 juta.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Gabung Sekarang
Masih Bingung? Tanya Admin