Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsight2025: Tahun yang Indah Buat Perusahaan yang Mencetak Rugi

2025: Tahun yang Indah Buat Perusahaan yang Mencetak Rugi

Kalau bicara logika normal, biasanya sebuah perusahaan itu diapresiasi market karena kinerjanya bagus dalam cetak laba, utangnya mini, bagi dividen gede, atau valuasinya murah. Tapi fenomena IHSG di 2025 memang kebalikannya, karena dari 957 saham yang ada, yang berhasil multibagger atau naik lebih dari 100% sepanjang 2025 tembus 236 saham. Dari 236 saham multibagger itu, ada 83 saham yang justru rugi di laporan keuangan 2025, dari rugi receh puluhan juta Rupiah sampai rugi kelas berat triliunan Rupiah. Tetap saja harga mereka terbang, bahkan ada yang naik 5.057,89% seperti CBRE dan 2.500,00% seperti ATAP, padahal dua-duanya rugi. Ini bukti paling gamblang bahwa mesin penggerak harga sering bukan laba, melainkan aliran dana, barang siapa yang pegang supply, dan timing narasi. Di titik ini, fundamental lebih mirip alat untuk menilai apakah emiten bisa bertahan hidup, bukan alat untuk menebak harga bakal terbang. Maka kalimatnya simpel, no bandar, no party, dan yang terjadi di 2025 itu pesta yang benar-benar kebuka lebar. Pertanyaannya tinggal satu, 2026 bandar pindah mainan lagi atau masih lanjut di pola yang sama?

Masuk ke pola datanya, karakter utama saham rugi tapi bagger di 2025 itu satu, market sedang tidak mengunci harga pada profit. Investor bisa lihat dari kolom Net Income YTD yang negatif, tapi kolom return YTD justru hijau menyala. $CBRE rugi Rp32,84 miliar tapi naik 5.057,89%. COCO rugi Rp103,62 miliar tapi naik 953,33%. TRUE rugi Rp17,18 miliar tapi naik 923,53%. Bahkan yang rugi tipis pun bisa meledak, AKKU rugi Rp0,62 miliar tapi naik 128,57%, YELO rugi Rp0,24 miliar tapi naik 837,50%. Jadi market tidak sedang membayar laba sekarang, market sedang membayar ekspektasi dan cerita yang sedang digoreng, entah itu turnaround, corporate action, transaksi, atau sekadar scarcity barang di pasar.

Yang bikin pola ini makin kelihatan jelas adalah valuasi yang kehilangan jangkar. Lihat Price to Book Value (PBV) yang aneh-aneh. Ada yang PBV-nya kelewat tinggi, seperti RONY 940,39 kali, CLAY 630,34 kali, PGJO 280,28 kali, CBRE 52,77 kali, FILM 38,68 kali. Kalau investor pakai kacamata fundamental standar, angka begini itu sudah bukan debat murah atau mahal, ini sudah wilayah harga dibentuk oleh supply demand dan momentum. Di sisi lain, ada juga PBV yang sangat rendah atau bahkan negatif, IPTV 0,29 kali, AKKU 0,49 kali, KOTA 0,50 kali, lalu yang negatif seperti $COCO -249,66 dan LAPD -31,87. PBV rendah bisa berarti market menganggap asetnya tidak berkualitas atau ekuitasnya tipis, sedangkan PBV negatif biasanya nyambung ke ekuitas negatif atau kondisi finansial yang lagi compang-camping. Dua ekstrem ini sama-sama disukai di market spekulatif, yang satu karena gampang dibikin wow lewat markup harga, yang satu karena gampang dijual sebagai cerita comeback dari reruntuhan. 

Kemudian lihat Current PE Ratio yang negatif dan sering ekstrem. Ini logika sederhana, rugi berarti PE jadi negatif, tetapi yang penting bukan tanda minusnya, melainkan seberapa ekstrem minusnya. SRAJ PE -1.712,12, MPRO -1.562,72, CLAY -1.447,19, RONY -1.431,13, $FILM -1.403,27, lalu ada juga BBSS -1.784,60. Ini sinyal bahwa market sama sekali tidak memakai earnings sebagai dasar harga saat ini. Harga berjalan di jalur lain, jalur flow, jalur kontrol supply, jalur narasi, dan jalur agenda.

Hal berikutnya yang hampir selalu muncul adalah minimnya dividen. Dividend yield di daftar ini mayoritas kosong, yang artinya investor tidak sedang membeli cash return, investor membeli capital gain. Yang ada pun kecil, BAUT 0,58%, SOSS 0,17%, FILM 0,21%. Ini penting karena ketika tidak ada penyangga dividen, harga jadi lebih mudah didorong naik, tapi juga lebih mudah jatuh kalau flow berbalik. Pada saham seperti ini, investor tidak bisa berharap ada dividen besar yang jadi alasan menahan saat harga mulai turun.

Kalau investor perhatikan total asetnya, banyak yang kecil, dan ini nyambung langsung ke karakter pergerakan harga. Emiten dengan aset kecil cenderung microcap, likuiditas tipis, barang di pasar mudah dikunci, sehingga dorongan beli yang tidak seberapa pun bisa bikin candle jadi vertikal. Contohnya RONY aset Rp6,73 miliar, HADE Rp10,08 miliar, DIGI Rp14,53 miliar, TAXI Rp55,08 miliar, OLIV Rp51,06 miliar, WIDI Rp46,39 miliar. Di habitat seperti ini, harga bisa bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan laporan keuangan untuk mengejar cerita. Makanya investor sering heran, emiten kecil kok bisa naik segila ini, padahal secara laba masih merah. Jawabannya biasanya bukan di profit, tetapi di struktur supply, free float, dan siapa yang menguasai barang. 

Tetapi fenomena ini bukan cuma mainan microcap. Ada juga emiten rugi besar dan aset besar yang tetap naik tajam, yang artinya market sedang pricing sesuatu yang dianggap lebih besar dari rugi YTD. CENT rugi Rp1,47 triliun tetapi return YTD 213,33% dengan total aset Rp27,37 triliun. LINK rugi Rp1,03 triliun tetapi return YTD 209,17% dengan total aset Rp15,08 triliun. PYFA rugi Rp365,82 miliar tetapi return YTD 128,57% dengan total aset Rp6,92 triliun. Kasus seperti ini biasanya nyambung ke ekspektasi event, restrukturisasi, perubahan bisnis, atau sekadar rerating karena flow masuk, bukan karena tiba-tiba perusahaan mendadak sehat.

Ada satu pola lagi yang menurut saya sangat penting, banyak yang rugi kecil tapi return-nya gila-gilaan. Secara psikologi pasar, rugi kecil itu gampang dibungkus jadi tinggal dikit lagi balik untung. AEGS rugi Rp0,16 miliar tapi naik 109,68%. AKKU rugi Rp0,62 miliar tapi naik 128,57%. YELO rugi Rp0,24 miliar tapi naik 837,50%. PGJO rugi Rp1,93 miliar tapi naik 963,16%. Ini membuat narasi turnaround terasa masuk akal di kepala massa, walaupun realisasinya belum tentu. Dan ketika narasi sudah dipegang, harga bisa lari duluan, laporan keuangan itu urusan belakangan.

Kalau dirangkum, karakter saham rugi tapi bagger di 2025 itu paket lengkap. Return tinggi, earnings negatif, PE negatif ekstrem, PBV sering tidak waras atau justru negatif, dividen minim, dan pada banyak kasus asetnya kecil sehingga mudah digerakkan. Maka pola mainnya bukan beli karena murah, tetapi beli karena ada aliran dana dan barangnya dikunci. Investor yang memaksa pakai kacamata textbook akan frustrasi, karena textbook mengajarkan harga mengikuti fundamental, sedangkan 2025 menunjukkan harga bisa mengikuti agenda. Di tahun seperti ini, yang paling berbahaya bukan saham rugi yang naik, tetapi investor yang merasa aman karena benar secara teori, lalu mengabaikan realita bahwa harga bergerak karena siapa yang mengendalikan supply. 

Soal 2026, mungkin saja hype akan pindah, bisa saja hype yang sama tetap ada, tak ada yang tahu kecuali circle bandar. Market memang sering begitu. Barang yang sudah dikumpulkan di bawah tinggal dikasih narasi, lalu markup, dan pesta dimulai lagi. Bluechip pun bisa ditinggal kalau tidak ada aliran dana yang masuk, makanya investor bluechip tidak bisa cuma mengandalkan laba besar sebagai jaminan harga bakal naik. Yang menentukan tetap sama, siapa yang mau dorong, kapan dorong, dan seberapa banyak barang yang sudah diamankan di bawah.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/), baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/) dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here