Analisis saham CSRA menunjukkan pertumbuhan laba bersih PT Cisadane Sawit Raya Tbk sebesar 43,08% secara tahunan menjadi Rp306,09 miliar hingga September 2026. Dengan harga penutupan saham Rp640 pada 29 Oktober 2026, kinerja keuangan dan valuasi perusahaan menjadi aspek penting untuk dicermati.
Pendapatan perusahaan meningkat 55,23% menjadi Rp2,07 triliun, tetapi pertumbuhan beban pokok penjualan yang lebih tinggi menyebabkan margin laba kotor mengalami penurunan. Di sisi lain, posisi ekuitas meningkat dan total liabilitas berkurang dibandingkan akhir 2025.
Kinerja Keuangan dalam Analisis Saham CSRA
Catatan: Laporan yang digunakan merupakan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 yang belum diaudit. Perbandingan neraca menggunakan 31 Desember 2025, sedangkan laba rugi menggunakan periode sembilan bulan 2025 dan 2026.
A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Dalam Rp miliar, dibulatkan dua desimal.
| Indikator | Sep 2026 | FY 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total Aset | 2.770,95 | 2.521,83 | +9,88% |
| Aset Lancar | 718,30 | 556,67 | +29,03% |
| Aset Tidak Lancar | 2.052,65 | 1.965,15 | +4,45% |
| Total Liabilitas | 998,03 | 1.055,00 | -5,40% |
| Liabilitas Jangka Pendek | 339,64 | 387,91 | -12,44% |
| Liabilitas Jangka Panjang | 658,39 | 667,09 | -1,30% |
| Total Ekuitas | 1.772,92 | 1.466,83 | +20,87% |
Total aset CSRA meningkat 9,88% menjadi Rp2,77 triliun, terutama didukung pertumbuhan aset lancar sebesar 29,03%. Persediaan meningkat dari Rp75,30 miliar menjadi Rp130,82 miliar, sementara aset biologis naik menjadi Rp254,92 miliar.
Total liabilitas turun 5,40% menjadi Rp998,03 miliar, sedangkan ekuitas meningkat 20,87% menjadi Rp1,77 triliun. Perubahan tersebut menunjukkan penguatan struktur permodalan perusahaan dibandingkan posisi akhir 2025.
Meskipun demikian, utang jangka panjang kepada pihak berelasi meningkat dari Rp37,23 miliar menjadi Rp217,18 miliar. Perubahan komposisi pendanaan ini tetap perlu diperhatikan bersama penurunan utang bank jangka panjang.
B. Laporan Laba Rugi
Dalam Rp miliar, kecuali EPS dalam rupiah per saham.
| Indikator | 9M 2026 | 9M 2025 | YoY |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | 2.071,76 | 1.334,65 | +55,23% |
| Laba Kotor | 553,24 | 479,26 | +15,44% |
| Laba Sebelum Pajak | 401,84 | 309,01 | +30,04% |
| Laba Bersih | 306,09 | 213,92 | +43,08% |
| EPS | Rp149 | Rp104 | +43,27% |
Laba usaha tidak disajikan sebagai pos tersendiri dalam laporan laba rugi sehingga tidak dicantumkan angka estimasi.
Pendapatan CSRA meningkat 55,23%, didukung kenaikan penjualan minyak sawit mentah menjadi Rp1,65 triliun dan inti sawit menjadi Rp364,98 miliar. Namun, beban pokok penjualan meningkat 77,52% menjadi Rp1,52 triliun sehingga pertumbuhan laba kotor lebih terbatas.
Perusahaan juga mencatat keuntungan perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp60,26 miliar, meningkat dari Rp43,65 miliar pada periode sebelumnya. Keuntungan tersebut ikut mendukung laba, meskipun tidak seluruhnya mencerminkan penerimaan kas.
Laba bersih meningkat menjadi Rp306,09 miliar, sementara arus kas operasi relatif stabil sebesar Rp311,44 miliar dibandingkan Rp311,54 miliar pada tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan laba belum diikuti peningkatan arus kas operasi yang sebanding.
C. Analisis Rasio Keuangan
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
|---|---|---|
| Current Ratio | 2,11x | Aset lancar melebihi kewajiban jangka pendek |
| Quick Ratio | 0,65x | Likuiditas cepat masih di bawah kewajiban jangka pendek |
| Margin Laba Kotor | 26,70% | Profitabilitas kotor mengalami tekanan |
| Margin Laba Bersih | 14,77% | Perusahaan tetap membukukan laba positif |
| ROA | 11,57% | Pengembalian aset selama sembilan bulan |
| ROE | 18,90% | Pengembalian ekuitas selama sembilan bulan |
| DER | 0,56x | Liabilitas lebih rendah dibandingkan ekuitas |
ROA dan ROE menggunakan rata-rata saldo aset dan ekuitas awal serta akhir periode, tanpa disetahunkan. Quick Ratio menggunakan kas dan piutang lancar, tidak termasuk persediaan, aset biologis, dan pembayaran di muka.
Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan menutup kewajiban jangka pendek melalui aset lancar, meskipun sebagian aset tersebut tidak dapat segera dikonversi menjadi kas. Perbedaan antara Current Ratio dan Quick Ratio mencerminkan besarnya komponen persediaan, aset biologis, serta pembayaran di muka.
Margin laba kotor turun dari 35,91% menjadi 26,70%, sedangkan margin laba bersih turun dari 16,03% menjadi 14,77%. Penurunan ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan belum sepenuhnya menghasilkan pertumbuhan keuntungan secara proporsional.
D. Valuasi Saham CSRA
Berdasarkan harga penutupan 29 Oktober 2026 sebesar Rp640 dan laporan keuangan September 2026, indikator valuasi CSRA adalah sebagai berikut.
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
|---|---|---|
| PER | 3,22x | Relatif rendah secara indikatif berdasarkan laba sembilan bulan yang disetahunkan |
| PBV | 0,74x | Harga saham berada di bawah nilai buku per saham |
PER dihitung menggunakan laba sembilan bulan 2026 yang disetahunkan, sehingga bukan merupakan PER trailing twelve months (TTM). Adapun PBV menggunakan ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan 2,05 miliar saham sesuai laporan perusahaan.
Secara umum, PBV di bawah 1x menunjukkan harga pasar berada di bawah nilai buku akuntansi. Namun, penilaian apakah saham diperdagangkan dengan diskon terhadap sektor perkebunan memerlukan pembandingan dengan emiten sejenis serta mempertimbangkan keberlanjutan laba.
Kesimpulan
Kinerja CSRA hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih yang positif, didukung peningkatan ekuitas dan penurunan total liabilitas. Valuasi berdasarkan laba yang disetahunkan dan nilai buku juga terlihat relatif rendah secara indikatif.
Meski demikian, tekanan margin laba kotor, kenaikan biaya produksi, serta arus kas operasi yang relatif stagnan tetap menjadi faktor penting. Pergerakan harga minyak sawit, efisiensi operasional, dan kualitas pertumbuhan laba akan memengaruhi kinerja perusahaan berikutnya.
Profil Singkat Perusahaan
PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) merupakan perusahaan agribisnis yang bergerak dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit serta produksi dan penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO), inti sawit, dan tandan buah segar.
Perusahaan didirikan pada 1983 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 9 Januari 2020. Kegiatan operasional perusahaan mencakup wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Selatan.
Disclaimer: Informasi yang disajikan PintarSaham.id ditujukan untuk keperluan edukasi dan informasi, bukan rekomendasi atau ajakan jual/beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya adalah tanggung jawab individu .
Ribuan informasi saham bertebaran setiap hari, namun tanpa strategi dan kerangka berpikir yang terstruktur, portofolio yang menjadi taruhannya. Di Membership PintarSaham, kami tidak sekadar memberikan informasi mentah, tetapi menyajikannya dengan analisis fundamental dan teknikal yang terstruktur dan mudah dipahami.
Akses riset mendalam, valuasi, dan komunitas eksklusif kami sekarang juga!
Gabung Sekarang
Masih Bingung? Tanya Admin