Kinerja keuangan saham SUPA (PT Super Bank Indonesia Tbk) pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan lonjakan laba bersih yang amat signifikan. Artikel ini akan mengupas tuntas struktur neraca, kemampuan mencetak laba, hingga valuasi saham perusahaan perbankan tersebut di pasar modal.
Kinerja Keuangan Saham SUPA
A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Dalam (Jutaan IDR)
| Pos Neraca | Kuartal I 2026 | Tahun Penuh 2025 | Perubahan |
| Total Aset | 23.950.374 | 21.282.312 | +12,53% |
| Kredit yang Diberikan | 10.995.052 | 9.199.578 | +19,51% |
| Penempatan pada Bank Lain | 45.998 | 59.644 | -22,88% |
| Total Liabilitas | 15.847.204 | 13.117.718 | +20,80% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | 14.443.981 | 11.827.129 | +22,12% |
| Dana Murah (CASA) | 3.038.631 | 2.528.697 | +20,16% |
| Total Ekuitas | 8.103.170 | 8.164.594 | -0,75% |
Total aset perusahaan mengalami pertumbuhan positif yang ditopang oleh agresivitas penyaluran kredit baru selama periode kuartal pertama. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga melonjak naik sejalan dengan kepercayaan nasabah yang terus membaik.
Proporsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) menunjukkan penguatan yang berperan penting dalam membantu menekan biaya dana. Di sisi lain, total ekuitas sedikit terkoreksi akibat adanya penyesuaian pada cadangan nilai wajar untuk efek-efek investasi.
B. Laporan Laba Rugi
Dalam (Jutaan IDR)
| Pos Laba Rugi | Kuartal I 2026 | Kuartal I 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan Bunga Bersih (NII) | 503.323 | 262.989 | +91,38% |
| Pendapatan Operasional Lainnya | 26.389 | 19.514 | +35,23% |
| Beban Operasional | (429.343) | (282.251) | +52,11% |
| Laba Bersih | 78.190 | 251 | +31.051% |
| EPS | 2,3 | 0,01 | +22.900% |
Pendapatan bunga bersih melonjak tajam seiring dengan ekspansi penyaluran kredit yang amat masif. Hal ini menjadi motor penggerak utama yang mendorong pertumbuhan laba bersih secara eksponensial.
Meskipun beban operasional turut meningkat, angka tersebut sejalan dengan peningkatan volume bisnis dan penambahan pencadangan kerugian. Efisiensi inti bank dinilai masih terjaga dengan baik dalam menghasilkan tingkat profitabilitas yang unggul.
C. Analisis Rasio Keuangan
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Net Interest Margin (NIM) | 8,40% | Marjin bunga sangat tebal dan menguntungkan. |
| Non-Performing Loan (NPL) Gross | 2,10% | Kualitas aset masih terjaga di bawah batas aman. |
| Loan to Deposit Ratio (LDR) | 79,11% | Likuiditas sangat longgar untuk ekspansi lanjutan. |
| Capital Adequacy Ratio (CAR) | 84,09% | Permodalan luar biasa kokoh menahan risiko. |
| Cost to Income Ratio (CIR) | 57,30% | Tingkat efisiensi operasional tergolong moderat. |
| ROA | 1,30% | Kemampuan aset mencetak laba mulai membaik. |
| ROE | 3,80% | Tingkat imbal hasil modal menunjukkan tren positif. |
Rasio kecukupan modal (CAR) berada pada level yang amat tebal, menandakan ketahanan fundamental yang kokoh terhadap berbagai risiko finansial. Rasio kredit bermasalah (NPL) tingkat gross juga terpantau terjaga dengan baik di bawah ambang batas toleransi regulator.
Tingkat likuiditas yang tercermin dari rasio LDR menunjukkan tersedianya ruang yang sangat luas untuk melanjutkan ekspansi kredit. Profitabilitas perusahaan secara keseluruhan mulai menunjukkan tren penguatan seiring dengan lonjakan kinerja bottom line.
D. Valuasi Saham
Indikator valuasi menggunakan harga penutupan Rp880 per lembar saham.
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| PER | 95,6x | Premium (Overvalued) |
| PBV | 3,68x | Premium (Overvalued) |
Dengan harga penutupan Rp880, valuasi saham ini saat ini tergolong premium bila dikomparasikan dengan rata-rata industri perbankan nasional. Tingginya Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) secara langsung mencerminkan besarnya ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan bisnis digital perseroan.
Kondisi valuasi yang premium ini menuntut pihak manajemen untuk terus membuktikan pertumbuhan laba yang konsisten pada masa mendatang. Pelaku pasar perlu mencermati keberlanjutan kinerja agar valuasi yang tinggi tersebut tetap dapat dijustifikasi oleh realisasi fundamental.
Kesimpulan
Performa pada kuartal pertama tahun 2026 sukses menegaskan keberhasilan strategi ekspansi yang mendongkrak laba bersih perusahaan secara dramatis. Fundamental neraca juga tergolong amat kuat yang didukung oleh tingkat permodalan sangat solid.
Akan tetapi, valuasi saham di pasar sekunder saat ini sudah mencerminkan tingkat harga yang relatif tinggi atau premium. Oleh karena itu, profil risiko serta ekspektasi pertumbuhan di masa depan mutlak harus dijadikan bahan pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan investasi.
Profil Singkat Perusahaan
PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) merupakan bank umum nasional yang pada masa lampau dikenal dengan nama PT Bank Fama International. Entitas perbankan ini kini dikendalikan oleh konsorsium perusahaan teknologi besar, termasuk di dalamnya Grup Emtek dan Grab Holdings.
Perusahaan resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025. Kantor pusat operasional perusahaan saat ini berlokasi di kawasan bisnis terpadu SCBD, Jakarta.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin