PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menunjukkan pemulihan performa operasional yang cukup signifikan pada pembukaan tahun 2026. Dengan harga penutupan saham di level Rp182 pada 29 April 2026, ulasan mengenai kinerja keuangan ADHI periode kuartal pertama menjadi indikator penting bagi investor untuk menilai prospek Perseroan di masa depan.
Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang eksponensial meskipun pendapatan usaha mengalami sedikit koreksi. Faktor utama yang mendorong peningkatan profitabilitas ini adalah efisiensi pada beban pokok pendapatan dan beban keuangan selama tiga bulan pertama tahun berjalan.
Analisis Kinerja Keuangan ADHI Periode Kuartal I 2026
Berikut adalah ringkasan performa finansial ADHI berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 31 Maret 2026.
A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Tabel berikut menyajikan posisi aset, liabilitas, dan ekuitas Perseroan per 31 Maret 2026 dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025.
| Dalam (Miliar IDR) | Q1 2026 | FY 2025 | Perubahan YoY |
| Total Aset | 28.100,37 | 28.793,94 | -2,41% |
| Aset Lancar | 17.667,98 | 16.617,87 | +6,32% |
| Aset Tidak Lancar | 10.432,39 | 12.176,07 | -14,32% |
| Total Liabilitas | 24.645,01 | 25.496,60 | -3,34% |
| Liabilitas Jangka Pendek | 17.449,40 | 19.458,10 | -10,32% |
| Liabilitas Jangka Panjang | 7.195,61 | 6.038,49 | +19,16% |
| Total Ekuitas | 3.455,35 | 3.297,34 | +4,79% |
Data diolah dari Laporan Posisi Keuangan ADHI per 31 Maret 2026.
Total aset ADHI mengalami penurunan tipis sebesar 2,41% menjadi Rp28,10 triliun per Maret 2026. Penurunan ini terutama dipicu oleh reklasifikasi investasi pada entitas asosiasi ke dalam aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, sebagai bagian dari rencana divestasi kepemilikan saham pada ruas jalan tol Solo – Yogyakarta – YIA Kulonprogo.
Struktur liabilitas menunjukkan pergeseran dari jangka pendek ke jangka panjang, di mana liabilitas jangka pendek turun signifikan sebesar 10,32%. Hal ini mengindikasikan adanya upaya refinancing atau restrukturisasi utang bank untuk memperbaiki profil jatuh tempo kewajiban Perseroan.
B. Laporan Laba Rugi
Tabel berikut menunjukkan kinerja pendapatan dan profitabilitas ADHI untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
| Dalam (Miliar IDR) | Q1 2026 | Q1 2025 | Perubahan YoY |
| Pendapatan | 1.666,13 | 1.684,28 | -1,08% |
| Laba Kotor | 553,02 | 255,16 | +116,74% |
| Laba Usaha | 356,94 | 68,30 | +422,57% |
| Laba Bersih* | 154,14 | 0,32 | >1000% |
| EPS (Rupiah) | 18,33 | 0,04 | +45.725% |
| *Diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Data diolah dari Laporan Laba Rugi ADHI Q1 2026. |
Meskipun pendapatan usaha terkoreksi tipis 1,08%, laba kotor Perseroan melonjak tajam hingga 116,74% menjadi Rp553,02 miliar. Lonjakan ini didorong oleh penurunan signifikan pada beban pokok pendapatan, dari Rp1,43 triliun di kuartal I 2025 menjadi Rp1,11 triliun di periode yang sama tahun 2026.
Efisiensi operasional ini berlanjut hingga ke baris laba bersih, di mana laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat menjadi Rp154,14 miliar dari sebelumnya hanya Rp316,59 juta. Kenaikan margin laba kotor yang sangat lebar menunjukkan keberhasilan strategi manajemen dalam mengelola biaya proyek dan cost recovery.
C. Analisis Rasio Keuangan
Rasio keuangan berikut memberikan gambaran tentang tingkat likuiditas, efisiensi, dan kesehatan struktur modal Perseroan.
| Rasio | Nilai | Interpretasi Singkat |
| Current Ratio | 1,01x | Likuiditas jangka pendek berada di level aman minimal. |
| Quick Ratio | 0,75x | Kemampuan memenuhi utang tanpa persediaan masih ketat. |
| Margin Laba Kotor | 33,19% | Profitabilitas operasional meningkat sangat signifikan. |
| Margin Laba Bersih | 9,25% | Efisiensi laba bersih tumbuh positif dibanding periode lalu. |
| ROA (Quarterly) | 0,55% | Tingkat pengembalian aset per kuartal masih rendah. |
| ROE (Quarterly) | 4,46% | Pengembalian ekuitas menunjukkan perbaikan yang baik. |
| DER | 7,13x | Struktur modal didominasi utang (high leverage). |
Likuiditas ADHI tergolong ketat dengan Current Ratio di level 1,01x, yang berarti aset lancar nyaris sama besar dengan kewajiban jangka pendeknya. Namun, perbaikan margin laba kotor menjadi 33,19% merupakan catatan positif yang menandakan peningkatan produktivitas pada segmen teknik dan konstruksi.
Sisi solvabilitas masih menjadi perhatian utama dengan Debt to Equity Ratio (DER) yang mencapai 7,13x. Meskipun angka ini umum ditemukan pada sektor konstruksi BUMN, tingkat ketergantungan terhadap utang tetap memerlukan pengelolaan risiko keuangan yang hati-hati guna menjaga kelangsungan usaha.
D. Valuasi Saham
Berdasarkan harga penutupan Rp182 pada 29 April 2026, berikut adalah indikator valuasi saham ADHI.
| Indikator | Nilai | Interpretasi |
| Price to Earnings Ratio (PER)* | 2,48x | Valuasi sangat rendah secara historis. |
| Price to Book Value (PBV) | 0,51x | Saham diperdagangkan di bawah nilai buku (discount). |
| *PER dihitung dengan menyetahunkan EPS Q1 2026 (EPS x 4). |
Valuasi ADHI saat ini dapat dikategorikan berada pada posisi diskon yang cukup dalam terhadap nilai bukunya (PBV 0,51x). Rendahnya angka PER di level 2,48x mencerminkan ekspektasi pasar yang masih konservatif terhadap sektor konstruksi, meskipun kinerja laba Perseroan telah menunjukkan lonjakan yang signifikan.
Kesimpulan
ADHI berhasil menutup kuartal I 2026 dengan performa profitabilitas yang mengesankan, ditandai dengan lonjakan laba bersih yang didorong oleh efisiensi beban pokok pendapatan. Meskipun demikian, tantangan berupa tingkat utang yang tinggi (leverage) dan likuiditas yang ketat masih menjadi faktor risiko utama yang perlu diperhatikan oleh para investor.
Profil Singkat Perusahaan
PT Adhi Karya (Persero) Tbk didirikan pada tahun 1960 dan resmi menjadi perusahaan publik sejak tahun 2004. Perseroan bergerak di berbagai lini bisnis, mulai dari konstruksi, rekayasa industri, infrastruktur perkeretaapian, hingga properti dan hotel. Pemerintah Republik Indonesia merupakan pemegang saham pengendali utama melalui kepemilikan saham prioritas dan saham biasa.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin