Pada tahun 2025, Bank Panin Dubai Syariah mencatatkan kinerja keuangan yang memberikan gambaran posisi fundamental dan arah strategi operasional bank. Analisis ini mengulas perkembangan posisi keuangan (neraca), profitabilitas, rasio kunci perbankan, hingga valuasi pasar saham.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 31 Desember 2025, total aset tercatat sebesar Rp 19,12 triliun, mengalami kenaikan 13,54% dibandingkan posisi 31 Desember 2024 (Rp 16,84 triliun). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh ekspansi penyaluran pembiayaan dan pertumbuhan portofolio surat berharga.
- Kredit yang Diberikan: Posisi pembiayaan bersih mencapai Rp 13,45 triliun, naik 17,53% dari akhir tahun 2024 (Rp 11,45 triliun), menunjukkan ekspansi yang kuat dalam penyaluran pinjaman.
- Surat Berharga (Efek-efek): Nilai investasi surat berharga tercatat Rp 2,43 triliun, naik 5,71% dari akhir 2024 (Rp 2,30 triliun).
- Penempatan pada BI & Bank Lain: Tercatat Rp 1,40 triliun, naik 8,66%.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Mencapai Rp 16,15 triliun (termasuk Dana Syirkah Temporer), naik 15,83% dibandingkan akhir tahun 2024 (Rp 13,94 triliun).
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Simpanan nasabah (Giro, Tabungan, Deposito) tercatat Rp 14,53 triliun, naik 16,48% dari akhir 2024 (Rp 12,48 triliun), menandakan pertumbuhan dana kelolaan yang sejalan dengan ekspansi kredit.
- Simpanan dari Bank Lain: Tercatat Rp 1,53 triliun, naik 55,03%.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Tercatat Rp 2,97 triliun, naik 2,53% dari 31 Desember 2024 (Rp 2,90 triliun). Perubahan ini utamanya didorong oleh akumulasi laba bersih tahun berjalan serta perubahan nilai wajar aset keuangan.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan setelah Distribusi Bagi Hasil (Net Interest Income – NII / Net Margin)
Selama tahun 2025, pendapatan kotor dari pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib mencapai Rp 1,20 triliun, naik 3,79% YoY dibandingkan Rp 1,16 triliun pada tahun sebelumnya. Setelah dikurangi hak pihak ketiga atas bagi hasil (Rp 824,29 miliar), pendapatan setelah distribusi tercatat Rp 378,40 miliar. Jika memperhitungkan penghematan beban bonus wadiah (turun tajam menjadi Rp 34,72 miliar) sebagai bagian dari total biaya dana (cost of fund), net margin operasional Bank secara riil tumbuh 4,27% YoY menjadi Rp 343,68 miliar dari Rp 329,61 miliar pada tahun 2024.
Pendapatan Operasional Lainnya (Non-Interest Income)
Pendapatan provisi, komisi, dan administrasi tercatat Rp 103,21 miliar, mengalami penurunan 9,63% YoY.
Beban Operasional
Total beban operasional (selain beban bagi hasil pemilik dana) mencapai Rp 387,30 miliar, turun 8,52% YoY. Penurunan beban ini secara khusus dikontribusikan oleh efisiensi pada pos beban bonus wadiah yang berkurang signifikan, menutupi kenaikan pada beban kepegawaian.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
Pembentukan beban CKPN bersih tercatat melonjak menjadi Rp 65,62 miliar, mencerminkan langkah antisipasi dan pencadangan yang lebih ketat terhadap risiko penurunan kualitas pembiayaan.
Laba Bersih
Akibat tingginya beban pencadangan (CKPN) tersebut, laba bersih periode berjalan tertekan hingga mencapai Rp 20,02 miliar, turun 85,28% YoY dibandingkan Rp 135,93 miliar pada periode sebelumnya.
Earnings per Share (EPS)
EPS dasar tercatat di level Rp 0,52, turun 85,14% YoY.
Rasio Keuangan Utama
Profitabilitas
- Net Interest Margin (NIM): 2,10%, mengukur kemampuan bank menghasilkan pendapatan dari selisih pembiayaan dan biaya dana.
- Return on Assets (ROA) (Annualized): 0,11%, menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba.
- Return on Equity (ROE) (Annualized): 0,68%, menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham.
- Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO): 97,80%, menunjukkan tingkat efisiensi operasional bank (semakin rendah semakin baik).
Kualitas Aset
- Non-Performing Loan (NPL) / NPF Gross: 2,85%, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
- Non-Performing Loan (NPL) / NPF Net: 0,55%, rasio kredit bermasalah setelah dikurangi pencadangan.
Likuiditas
- Loan to Deposit Ratio (LDR) / Financing to Deposit Ratio (FDR): 92,57%, mengukur perbandingan antara pembiayaan yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun.
Permodalan
- Capital Adequacy Ratio (CAR / KPMM): 18,86%, menunjukkan kecukupan modal bank yang solid untuk menyerap potensi kerugian risiko kredit dan pasar.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 52 per 25 Februari 2026, PER (annualized) tercatat premium di 100x.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham Rp 76,56, PBV berada di level 0,68x.
Kesimpulan
Kinerja keuangan Bank Panin Dubai Syariah (PNBS) selama tahun 2025 mencerminkan pertumbuhan portofolio pembiayaan yang solid disertai perbaikan pada marjin imbal hasil bersih (net margin) yang didorong oleh pengelolaan biaya dana yang lebih efisien. Namun, kinerja profitabilitas bottom-line secara signifikan tertekan akibat lonjakan beban Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Tingkat permodalan (CAR) di 18,86% menegaskan bahwa ketahanan fundamental bank masih terjaga kuat.
Dari sisi valuasi, saham PNBS saat ini diperdagangkan pada PBV yang relatif wajar (0,68x) terhadap nilai bukunya, namun mencatatkan tingkat PER yang premium (100x) akibat penyusutan laba bersih. Investor perlu memantau secara saksama upaya bank dalam menekan beban CKPN, prospek perbaikan kualitas aset (NPF), serta pertumbuhan berkelanjutan di sektor pembiayaan sebagai indikator kunci prospek saham ke depan.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


