MESOP itu Management and Employee Stock Option Program, yaitu hak bagi manajemen dan karyawan untuk membeli saham perusahaan di harga pelaksanaan tertentu dalam periode tertentu. Intinya tiket beli saham. Kalau harga pelaksanaan lebih rendah dari harga pasar, penerima opsi langsung punya potensi untung. Dari sisi investor, MESOP bisa jadi insentif yang sehat, tapi bisa juga terasa seperti pemindahan value kalau diskonnya kelewat besar atau syaratnya terlalu longgar.
Contoh $TOWR terasa jelas karena TOWR sudah cetak laba. Di 9M 2025, laba bersih sekitar Rp2,56 T dan EPS 9M sekitar Rp49 per saham. Jadi secara narasi, memberi insentif saham ke manajemen bisa dibilang wajar, karena memang ada kinerja yang dihasilkan. Problemnya bukan idenya, melainkan desain harga. TOWR buyback 2025 rata-rata sekitar Rp832 per saham saat harga pasar contoh Rp525, lalu saham treasuri itu dipakai untuk MESOP dengan harga pelaksanaan Rp392 dan Rp285.
Di harga Rp525, MESOP Rp392 berarti diskon sekitar 25,33%, sedangkan Rp285 diskon sekitar 45,71%. Ini yang bikin investor merasa janggal. Perusahaan keluar uang beli mahal, lalu aset yang sama dialihkan ke internal jauh lebih murah. Di atas kertas bisa dibilang insentif. Di rasa keadilan, banyak investor membaca sebagai subsidi, apalagi kalau penerimanya bisa cepat jual dan tidak ada pembatasan yang ketat.
Secara mekanisme, MESOP TOWR bersumber dari saham treasuri, jadi bukan menerbitkan saham baru. Namun efeknya tetap ada karena saham treasuri yang tadinya tidak ikut pembagian laba dan dividen berubah menjadi saham beredar. Dengan saham treasuri sekitar 886,5 juta, kalau semuanya keluar, saham beredar naik maksimal sekitar 1,52%. Angka kecil, tapi tetap menggerus metrik per saham, apalagi basis saham sudah melebar karena rights issue 8 miliar saham di 2025.
Kalau pakai EPS annualized dari 9M 2025, EPS kira-kira turun dari Rp65,33 menjadi Rp57,65 kalau semua treasuri dianggap sudah beredar, turun 11,76%. Di harga Rp525, PER naik dari sekitar 8,04x menjadi 9,11x, naik 13,31%. Jadi kesan saham jadi lebih mahal setelah MESOP bukan karena bisnis mendadak jelek, tetapi karena laba yang sama dibagi ke lebih banyak lembar.
Bandingkan dengan $GOTO yang masih rugi. MESOP di perusahaan rugi biasanya dipakai sebagai kompensasi non-tunai untuk retensi talenta. Dari data yang sudah ada, GOTO buyback sekitar Rp2,09 T untuk 32,18 miliar saham, rata-rata sekitar Rp65 per saham. Kalau saham treasuri dipakai untuk MESOP, secara struktur bisa mirip TOWR, bukan cetak saham baru. Bedanya, karena masih rugi, isu utamanya bukan dilusi EPS dari laba, melainkan fairness karena GOTO itu MESOP harga 2 rupiah per lembar.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!