Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightDuel Bank Syariah: $BRIS vs $BTPS

Duel Bank Syariah: $BRIS vs $BTPS

Akhirnya BTPS dan BRIS rilis LK Full Year 2025. Kalau kita bandingkan 2 laporan keuangan ini maka terlihat jelas perbedaannya skala dan kecepatan growth mereka di 2025. Laba dua bank ini sama-sama naik, tapi penyebab naiknya bisa bertolak-belakang.

Ada bank yang naik karena penjualan makin deras dan mesin pendapatan makin tebal. Ada juga yang naik karena beban risiko diturunkan, jadi napasnya lebih lega. Buat saya, inti analisisnya adalah ini, mana yang naik karena tenaga, mana yang naik karena diet.

BRIS mencetak laba Rp7,57 T vs BTPS Rp1,20 T. Secara ukuran, BRIS sekitar 6,3 kali BTPS. Jadi walau BTPS terlihat lincah, BRIS itu kapal besar yang setiap perubahan kecil saja dampaknya bisa terasa besar secara nominal. Investor yang fokus ke angka rupiah biasanya akan lebih menghargai konsistensi BRIS karena basis labanya sudah tebal.

Kalau dilihat dari Growth 2024 ke 2025, laba BTPS naik 13,19% dari Rp1,06 T ke Rp1,20 T. BRIS naik 8,01% dari Rp7,01 T ke Rp7,57 T. Jadi BTPS menang di Growth, BRIS menang di bobot. Ini pola klasik, pemain kecil lebih mudah mencetak kenaikan dua digit, pemain besar lebih sulit, tapi tambahan rupiahnya bisa jauh lebih besar.

EPS juga menyampaikan cerita yang mirip. BTPS naik dari Rp138 ke Rp156, naik Rp18 per saham. BRIS naik dari Rp151,88 ke Rp164,05, naik Rp12,17 per saham. Jadi BTPS lebih besar kenaikan per lembarnya, tapi BRIS tetap mengangkat laba yang jauh lebih besar di level banknya. EPS enak untuk ringkas, tapi investor tetap perlu balik ke dapur P&L untuk tahu bahan masaknya.

Sekarang masuk ke sumber tenaga laba. Di BTPS, pendapatan jual beli atau marjin murabahah justru turun dari Rp4,82 T ke Rp4,56 T. Hak bagi hasil milik bank setelah dikurangi hak pihak ketiga juga turun dari Rp4,89 T ke Rp4,73 T, turun 3,35%.

Ada sisi positif, musyarakah naik dari Rp13,33 M ke Rp34,56 M, dan usaha utama lainnya naik dari Rp568,57 M ke Rp625,03 M, tetapi angkanya masih kecil dibanding murabahah. Ini artinya, di 2025 ini BTPS labanya naik bukan karena growth pendapatan inti.

Yang paling menjelaskan kenapa BTPS tetap bisa mencetak laba lebih tinggi adalah CKPN. Beban CKPN turun dari Rp1,36 T ke Rp826,30 M, hemat beban sekitar Rp533,47 M atau turun sekitar 39%. Penghematan beban CKPN sebesar ini sangat signifikan jika dibandingkan laba BTPS yang hanya Rp1,20 T.

Jadi sebagian besar kenaikan laba BTPS terasa seperti efek perbaikan kualitas pembiayaan dan atau kebijakan pencadangan yang lebih efisien. Tapi ada penahan juga, beban tenaga kerja naik ke Rp1,56 T dari Rp1,47 T, dan beban umum administrasi naik ke Rp728,32 M dari Rp695,04 M.

Di BRIS, ceritanya kenaikan labanya jauh lebih ramai dan lebih berlapis. Pendapatan Murabahah naik 8,26% menjadi Rp14,51 T, dan ini tetap kontributor terbesar sekitar 51,3% dari pendapatan mudharib. Laba bagi hasil naik 26,56% menjadi Rp10,13 T, didorong ekspansi musyarakah.

Pendapatan usaha utama lainnya Rp3,50 T memberi bantalan, lalu pendapatan operasional lainnya naik menjadi Rp4,63 T dari Rp3,68 T, didorong rahn, layanan internet dan mobile banking, serta administrasi pembiayaan. Jadi BRIS tidak hidup dari satu kompor saja, ada beberapa kompor yang sama-sama menyala.

Dorongan di neraca BRIS juga jelas, musyarakah naik 27,70% dari Rp109,04 T menjadi Rp139,25 T. Murabahah masih besar Rp144,93 T, jadi basisnya tetap stabil. Qardh naik ke Rp16,97 T yang kuat terkait rahn, lalu pembiayaan konsumer Rp175,79 T menjadi mesin terbesar, disusul mikro Rp27,67 T dan UKM Rp24,59 T.

Di sisi pendanaan, dana syirkah temporer tumbuh 14,36% menjadi Rp290,14 T, dengan deposito mudharabah Rp145,51 T, tabungan wadiah Rp63,31 T, dan giro wadiah Rp25,15 T. Biaya dana ikut naik, hak pihak ketiga atas bagi hasil menjadi Rp9,14 T dari Rp7,89 T, jadi ekspansi BRIS memang dibayar dengan cost of fund yang lebih tinggi.

BRIS terlihat lebih rendah di NPF gross, hanya 1,81% pada 2025 turun dari 1,90% di 2024. Sedangkan NPF BTPS membaik lebih tajam, 2,92% pada 2025 turun dari 3,96% di 2024, tapi masih lebih tinggi dari BRIS. Namun yang bikin BTPS terlihat sangat bersih di NPF net adalah coverage yang agresif.

NPF net BTPS 0,02% pada 2025 dari 0,03% di 2024, sedangkan BRIS 0,47% pada 2025 dari 0,50% di 2024. Artinya, BTPS menutup risiko lebih tebal dengan cadangan, sehingga setelah cadangan, sisa pembiayaan bermasalahnya nyaris tidak kelihatan.

NPF Coverage memperjelas ini. BRIS punya NPF bruto Rp5,75 T pada 2025 dengan CKPN Rp10,98 T, coverage sekitar 190,9%, turun tipis dari sekitar 195,0% di 2024.

BTPS pada 2025, CKPN murabahah Rp881,23 M untuk NPF bruto murabahah sekitar Rp268,33 M, coverage sekitar 328,4%, naik dari sekitar 242,1% di 2024. Bahkan BTPS juga mencatat pemenuhan CKPN terhadap minimum OJK sebesar 525,41% pada 2025 dari 465,09% pada 2024. Jadi perbedaan karakternya begini, BRIS menjaga cadangan kuat tapi tetap wajar untuk bank besar dan portofolionya luas, sementara BTPS terlihat jauh lebih konservatif di pencadangan, yang membuat NPF net sangat kecil walau NPF gross-nya masih lebih tinggi.


Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here