Pada tahun penuh 2025, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang memberikan gambaran posisi fundamental dan arah strategi operasional bank. Analisis ini mengulas perkembangan posisi keuangan (neraca), profitabilitas, rasio kunci perbankan, hingga valuasi pasar saham berdasarkan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2025.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 31 Desember 2025, total aset tercatat sebesar Rp1.362,1 triliun, mengalami kenaikan 20,5% dibandingkan posisi 31 Desember 2024 (Rp1.130,1 triliun). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh penyaluran kredit yang ekspansif serta peningkatan portofolio surat berharga dan penempatan dana.
- Kredit yang Diberikan: Posisi kredit bersih mencapai Rp863,7 triliun, naik 17,1% dari akhir tahun 2024 (Rp737,2 triliun), menunjukkan ekspansi yang kuat dalam penyaluran pinjaman di tengah pemulihan ekonomi.
- Surat Berharga (Efek-efek): Nilai surat berharga (marketable securities) tercatat Rp63,0 triliun, naik 29,8% dari akhir 2024 (Rp48,5 triliun). Selain itu, Obligasi Pemerintah juga mencatat kenaikan signifikan menjadi Rp163,5 triliun.
- Penempatan pada BI & Bank Lain: Tercatat Rp33,8 triliun, naik 97,8% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan strategi manajemen likuiditas yang solid.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Mencapai Rp1.185,7 triliun, naik 23,0% dibandingkan akhir tahun 2024 (Rp963,6 triliun).
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Simpanan nasabah (Giro, Tabungan, Deposito) tercatat Rp1.040,8 triliun, naik 29,2% dari akhir 2024 (Rp805,5 triliun), menandakan pertumbuhan dana kelolaan yang sangat signifikan dan kepercayaan nasabah yang terjaga.
- Simpanan dari Bank Lain: Tercatat Rp11,6 triliun, turun 37,7% dari posisi tahun sebelumnya.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Tercatat Rp176,3 triliun, naik 5,9% dari 31 Desember 2024 (Rp166,5 triliun). Perubahan ini didorong oleh akumulasi laba bersih tahun berjalan yang memperkuat struktur permodalan.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income – NII)
Selama tahun 2025, NII mencapai Rp40,33 triliun, turun tipis 0,4% YoY dibandingkan Rp40,48 triliun pada tahun lalu. Hal ini mengindikasikan tekanan pada margin bunga di tengah kenaikan biaya dana meskipun volume kredit tumbuh.
Pendapatan Operasional Lainnya (Non-Interest Income)
Pendapatan provisi, komisi, dan lainnya tercatat Rp23,90 triliun, naik 5,5% YoY, didukung oleh pertumbuhan bisnis transaksional dan fee-based income yang solid.
Beban Operasional
Total beban operasional lainnya mencapai Rp30,86 triliun, naik 6,0% YoY, terutama dipengaruhi oleh kenaikan beban gaji dan tunjangan serta biaya umum & administrasi seiring ekspansi bisnis.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
Pembentukan CKPN tercatat Rp9,72 triliun, meningkat dibandingkan Rp8,21 triliun pada tahun sebelumnya, mencerminkan langkah antisipasi bank dalam memitigasi risiko kredit secara konservatif.
Laba Bersih
Laba bersih periode berjalan mencapai Rp20,11 triliun, turun 7,2% YoY dari Rp21,67 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh kombinasi NII yang stagnan dan peningkatan pencadangan (CKPN).
Earnings per Share (EPS)
EPS dasar tercatat Rp537, turun 6,8% YoY dibandingkan Rp576 pada tahun sebelumnya.
Rasio Keuangan Utama
Profitabilitas
- Net Interest Margin (NIM): 3,7%, mencerminkan tantangan dalam menjaga margin bunga bersih di tengah kompetisi dan biaya dana.
- Return on Assets (ROA) (Pre-tax): 2,0%, menilai efektivitas aset dalam menghasilkan laba sebelum pajak.
- Return on Equity (ROE): 11,7%, menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham yang masih berada di level double digit.
- Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO): 74,6%, menunjukkan tingkat efisiensi operasional bank yang masih terjaga wajar.
Kualitas Aset
- Non-Performing Loan (NPL) Gross: 1,93%, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit yang membaik dibandingkan tahun sebelumnya (1,97%).
- Non-Performing Loan (NPL) Net: 0,70%, rasio kredit bermasalah bersih yang sangat sehat dan jauh di bawah ambang batas regulasi.
Likuiditas
- Loan to Deposit Ratio (LDR): 86,4%, mengukur perbandingan antara kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga, menunjukkan likuiditas yang ample (memadai) untuk mendukung ekspansi kredit lebih lanjut.
Permodalan
- Capital Adequacy Ratio (CAR): 20,7%, menunjukkan kecukupan modal bank yang sangat kuat untuk menyerap potensi kerugian dan mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp4.630 per 4 Feb 2026, PER tercatat 8,6x.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham (BVPS) sekitar Rp4.609, PBV berada di level 1,0x.
Kesimpulan
Kinerja keuangan BBNI selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan aset yang solid sebesar 20,5% dan ekspansi kredit yang agresif (17,1%), didukung oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh impresif (29,2%). Meskipun demikian, profitabilitas mengalami tekanan dengan penurunan laba bersih sebesar 7,2% akibat NII yang flat dan peningkatan beban pencadangan (CKPN) sebagai langkah prudensial.
Kualitas aset terus membaik dengan NPL Gross turun ke level 1,93%, sementara permodalan (CAR) tetap sangat kuat di level 20,7%.Dari sisi valuasi, saham BBNI saat ini diperdagangkan pada PER 8,6x dan PBV 1,0x, yang tergolong relatif menarik (undervalued) dibandingkan rata-rata historis dan industri perbankan besar. Investor perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan kredit yang masih terbuka lebar, perbaikan kualitas aset yang berkelanjutan, serta potensi pemulihan margin bunga di masa mendatang dalam mengevaluasi potensi investasi pada saham ini.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/), baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/) dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Gabung Membership PintarSaham.id biar kamu bisa tahu target harga wajar NISP di 2026 secara jelas. Serta lengkap dengan konsensus TradingView, perbandingan peers & industri, plus skenario valuasi yang rapi, jadi keputusanmu bukan sekadar katanya mahal/premium.


