Di MSCI, dividen itu bukan sekadar bonus tunai, tapi komponen return yang resmi dihitung di varian indeks Total Return. Bedanya sederhana. Price index hanya lihat naik-turun harga.
Total Return memasukkan dividen yang dianggap langsung diinvestasikan kembali pada ex-date, jadi performa indeks bisa naik walaupun harga sahamnya tidak bergerak banyak. Mekanismenya juga konsisten, jumlah dividen yang masuk ke indeks dihitung berdasarkan dividen per saham dikali jumlah saham pada penutupan hari bursa sebelum ex-date.
Begitu pajak masuk, hasilnya langsung berbeda antara Gross dan Net Total Return. Gross Total Return kira-kira memakai dividen kotor, tanpa mengurangi withholding tax, dengan pendekatan maksimum reinvestment yang MSCI definisikan. Net Total Return justru kebalikannya, dividen yang diinvestasikan kembali sudah dipotong withholding tax, dan untuk indeks internasional MSCI memakai tarif maksimum yang berlaku bagi investor institusi non-residen yang tidak memakai manfaat tax treaty. Jadi kalau sebuah negara punya withholding tax tinggi, angka Net Total Return indeks negara itu otomatis lebih rendah dibanding Gross, walaupun dividennya sama persis.
Lalu hubungan dividen dan inclusion masuk lewat satu pintu besar bernama inclusion factor. MSCI tidak hanya menghitung market cap, tapi memakai free float-adjusted market cap, dan untuk konteks global biasanya dikalikan Foreign Inclusion Factor atau FIF.
Intinya, FIF menggambarkan porsi saham yang dianggap benar-benar investable di pasar, sehingga bobot saham di indeks bukan cuma ditentukan harga dan jumlah saham beredar, tetapi juga seberapa besar saham itu tersedia untuk diperdagangkan secara bebas. Konsekuensinya, efek dividen ke indeks juga ikut dikecilkan oleh FIF. Saham dengan dividen besar tapi FIF kecil tetap kontribusinya kecil ke level indeks, karena yang dihitung adalah dividen yang sudah diskalakan oleh porsi investable tadi.
Contoh yang paling gampang terlihat di Indonesia versus Inggris. Secara praktik pajak, untuk pembayaran ke non-residen tanpa dokumen treaty yang lengkap, acuan umum withholding tax Indonesia berada di 20%, jadi Net Total Return akan menganggap dividen dipotong 20% sebelum direinvestasikan.
Inggris berbeda karena pada umumnya tidak ada kewajiban pemotongan withholding tax atas dividen, sehingga Gross dan Net Total Return cenderung sama untuk saham UK biasa. Ada pengecualian tertentu seperti kendaraan real estate tertentu, tapi default-nya memang tidak dipotong. Di titik ini kelihatan bahwa pajak bukan mengubah apakah saham bisa masuk MSCI atau tidak, tapi mengubah seberapa besar kontribusi saham itu ke performa varian Total Return setelah masuk.
Australia menarik karena pajaknya tidak sesederhana tarif flat. MSCI memperlakukan dividen Australia sebagai country exception, karena franking dan conduit foreign income bisa membuat effective withholding tax bervariasi dari 0% sampai 30% tergantung komposisi dividennya. Jadi dua emiten Australia sama-sama bagi dividen 10, tapi Net Total Return bisa menganggap reinvestment yang berbeda kalau status franked atau conduit foreign income berbeda.
Thailand secara umum punya withholding tax dividen 10%, jadi secara mekanik Net Total Return akan memangkas dividen sebelum reinvest. India juga memakai basis 20% untuk non-residen, lalu bisa naik efektifnya karena surcharge dan cess, walaupun treaty bisa menurunkan.
Misal ada 2 saham dalam sebuah indeks.
Saham A Indonesia, harga 100, dividen 5, withholding tax 20%, FIF 0.50.
Saham B Australia, harga 200, dividen 10, withholding tax 30%, FIF 1.00.
Pada ex-date, dividen bersih per saham untuk A menjadi 5 dikali 0.80 sama dengan 4.00, lalu dikalikan FIF 0.50 menjadi kontribusi dividen setara 2.00.
Untuk B, dividen bersih per saham 10 dikali 0.70 sama dengan 7.00, dan karena FIF 1.00 maka tetap 7.00.
Dengan asumsi harga tidak berubah, market cap adjusted yang dipakai untuk pembobotan juga ikut dikalikan FIF, sehingga A efektifnya hanya menyumbang setara 50 saham dari 100, sedangkan B penuh.
Kalau level indeks pada hari t-1 adalah 1000, market cap adjusted awalnya menjadi 100 dikali 0.50 ditambah 200 dikali 1.00 sama dengan 250. Total dividen bersih yang direinvestasikan setelah pajak dan setelah FIF menjadi 2.00 tambah 7.00 sama dengan 9.00.
Maka level indeks naik menjadi 1000 dikali 259 dibagi 250 sama dengan 1036, jadi 36 poin kenaikan murni datang dari dividen bersih yang masuk ke Net Total Return. Di sini terlihat 2 pengungkit utama. Pajak memotong dividen, FIF memotong dampaknya lagi. Jadi saham dengan dividen besar bisa tetap terasa kecil kontribusinya di indeks global kalau FIF-nya kecil dan withholding tax-nya tinggi, sementara saham UK dengan pajak dividen 0% dan FIF besar cenderung memberi kontribusi Total Return yang lebih utuh.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!