Hari ini ada diskusi di Grup Pintar Nyangkut Telegram tentang kualitas kredit BBCA yang katanya ada write-off kredit dan untuk memastikan separah apa write-off BBCA maka kita perlu bandingkan dengan bank lain seperti BBTN dan ARTO, sebenarnya pengen bandingkan dengan BMRI dan BBRI cuma ndak sempat aja sih, nanti lah. Write-off itu memang selalu kelihatan menyeramkan kalau investor cuma lihat nominalnya, padahal yang lebih jujur itu selalu dua lensa sekaligus, skala portofolio kredit dan bantalan laba.
Bank dengan kredit ratusan triliun sampai hampir seribu triliun wajar punya write-off triliunan, tapi bank yang kreditnya kecil lalu write-off ratusan miliar bisa jadi lebih berbahaya. Jadi yang kita ukur bukan cuma siapa paling besar angka write-off, tapi siapa paling berat menanggung beban write-off itu relatif terhadap mesin uangnya. Dan dari tiga bank ini, hasilnya cukup jelas siapa yang cuma kelihatan ribut, dan siapa yang benar-benar sedang sensitif.
Kita mulai dari skala mentah dulu biar kebayang. Per 30 September 2025, kredit bruto yang disalurkan BBCA Rp922,00 T, BBTN Rp381,03 T, ARTO Rp23,47 T. Write-off 9M 2025 BBCA Rp5,01 T, BBTN Rp3,07 T, ARTO Rp447,01 Miliar. Aset AYDA (Aset Yang Diambil Alih) bersih BBCA Rp2,03 T, ARTO Rp104,88 Miliar, BBTN Rp77,59 Miliar.
Dari sisi NPL (Non-Performing Loan), BBCA Rp18,95 T, BBTN Rp13,15 T, ARTO Rp89,37 Miliar. Lalu kredit macet kategori loss BBCA Rp14,82 T, BBTN Rp10,47 T, ARTO Rp62,43 Miliar. Terakhir laba bersih 9M 2025 BBCA Rp43,41 T, BBTN Rp2,30 T, ARTO Rp199,13 Miliar.
Untuk tahu seberapa parah masalah write off atau hapus kredit macet ini, maka kita perlu lihat rasio terhadap total kredit, karena ini yang menunjukkan kepadatan masalah di portofolio. Write-off terhadap kredit untuk BBCA sekitar 0,54%, BBTN 0,81%, ARTO 1,91%.
Jadi kalau ada yang bilang write-off BBCA besar, itu benar secara nominal, tapi kepadatannya justru yang paling rendah di antara tiga ini. ARTO yang secara nominal paling kecil malah paling padat, hampir 2% dari kreditnya sudah di-write-off dalam 9 bulan. BBTN ada di tengah, tapi tetap lebih berat daripada BBCA kalau ukurannya memakai portofolio kredit.
Kita juga perlu cek rasio kualitas aset yang lebih struktural. Rasio NPL terhadap kredit BBCA hanya sekitar 2,06%, BBTN 3,45%, ARTO 0,38%. Ini menarik, karena ARTO kelihatan sangat kecil NPL-nya, tapi write-off terhadap kreditnya justru paling tinggi.
Secara logika sederhana, ada dua kemungkinan besar yang bisa terjadi bersamaan. Pertama, ARTO memang kecil NPL karena portofolio lebih muda atau lebih cepat dihapus ketika sudah jelas tidak tertagih, sehingga NPL tidak sempat menumpuk. Kedua, basis laba ARTO kecil, jadi sedikit saja kejadian kredit bermasalah langsung terasa seperti pukulan besar. Di BBTN, ceritanya lebih klasik, NPL ratio lebih tinggi, kredit macet loss juga besar, jadi beban masalahnya memang lebih terlihat di neraca.
Hal yang paling penting melihat rasio write-off dibanding laba bersih. BBCA melakukan write-off kredit macet Rp5,01 T dibanding laba BBCA Rp43,41 T, artinya write off hanya sekitar 11,54% dari total laba. Ini bukan angka kecil, tapi jelas masih dalam zona aman karena mesin laba BBCA besar sekali, write-off itu seperti biaya rutin yang masih bisa ditelan tanpa bikin cerita laba jadi berantakan.
BBTN beda kelas risikonya, write-off Rp3,07 T dibanding laba Rp2,30 T, jadi sekitar 133,33% dari total laba. Secara praktis, ini menjelaskan kenapa laba BBTN gampang terlihat rapuh, karena biaya kredit yang sudah benar-benar diputuskan hilang saja lebih besar daripada laba yang dikumpulkan 9 bulan. ARTO paling sensitif, write-off Rp447,01 Miliar dibanding laba Rp199,13 Miliar, sekitar 224,44% dari total laba, jadi write-off lebih dari dua kali laba bersih. Ini bukan berarti ARTO pasti jelek, tapi artinya ruang napas laba untuk menyerap kesalahan kredit memang sempit.
Kalau investor mau lihat tingkat keparahan kredit bermasalah yang sudah masuk kategori paling berat, bandingkan kredit macet loss terhadap total kredit. BBCA sekitar 1,61%, BBTN sekitar 2,75%, ARTO sekitar 0,27%. Dari sudut ini, BBTN yang paling berat, BBCA di tengah, ARTO paling ringan.
Tapi kalau kita bandingkan proporsi loss terhadap total NPL, BBCA sekitar 78,20%, BBTN sekitar 79,67%, ARTO sekitar 69,86%. Artinya, di BBCA dan BBTN, porsi NPL yang sudah masuk kategori loss itu besar, jadi karakter NPL-nya lebih tua dan lebih keras. Di ARTO, porsi loss terhadap NPL lebih rendah, bisa berarti NPL-nya masih relatif baru, atau penanganannya berbeda.
Masuk ke AYDA (Aset yang Diagunkan), karena ini sering dipakai untuk membaca jejak penyelesaian kredit lewat agunan. AYDA terhadap kredit BBCA sekitar 0,22%, ARTO sekitar 0,45%, BBTN sekitar 0,02%. Jadi stok AYDA BBTN kecil sekali relatif terhadap kreditnya, sementara ARTO dan BBCA lebih terlihat.
Di sisi lain, AYDA yang besar juga bukan otomatis bagus atau jelek, karena bisa berarti bank agresif mengeksekusi agunan, atau sebaliknya bank menumpuk aset sitaan yang belum cepat dijual. Yang lebih penting adalah apakah AYDA itu berputar dan kembali jadi kas, tapi data yang kita punya sekarang baru saldo bersih.
Jika dibanding total 2024, write-off 9M 2025 BBCA Rp5,01 T sudah sekitar 140,76% dari FY 2024 Rp3,56 T. ARTO Rp447,01 Miliar sudah sekitar 152,56% dari FY 2024 Rp293,00 Miliar. BBTN Rp3,07 T baru sekitar 88,76% dari FY 2024 Rp3,46 T, jadi relatif lebih stabil.
Kalau investor nekat membuat estimasi linear sederhana, FY 2025 kira-kira menjadi BBCA Rp6,68 T, ARTO Rp596,01 Miliar, BBTN Rp4,09 T. Pesannya bukan untuk meramal, tapi untuk menandai arah, BBCA dan ARTO sedang naik laju write-off-nya, sementara BBTN lebih mendekati pola tahun lalu.
Terakhir, recovery dari kredit yang sudah pernah di-write-off juga penting untuk dianalisis. BBTN punya recovery kredit macet yang mencapai Rp635,8 Miliar selama 9M 2025, BBCA Rp578,8 Miliar, ARTO Rp12,8 Miliar. Kalau dibanding write-off periode yang sama, recovery kredit macet BBCA kira-kira 11,55%, BBTN 20,70%, ARTO 2,86%. Ini membuat BBTN terlihat lebih aktif mengutip kembali sebagian kredit yang dulu sudah dianggap hilang atau sudah di write off, sementara ARTO masih kecil.
Jadi kalau investor menilai dari nominal murni, BBCA paling besar write-off karena portofolionya juga raksasa. Kalau investor menilai dari kepadatan write-off terhadap kredit, yang paling berat ARTO 1,91%, lalu BBTN 0,81%, lalu BBCA 0,54%. Kalau investor menilai dari rasa sakit terhadap laba, yang paling sensitif ARTO 224,44%, lalu BBTN 133,33%, lalu BBCA 11,54%. Jadi, write-off BBCA itu naik dan pantas dipantau, tapi skalanya masih sangat terkendali karena laba BBCA tebal. Yang lebih layak bikin investor waspada justru bank yang write-off-nya mengalahkan laba, karena di situ kualitas kredit langsung punya kuasa untuk mengubah cerita profit dalam satu-dua kuartal.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan! https://bit.ly/pintarsahamid