Ada investor ADRO dan BBRI yang pengen dapat dividen minimal cukup setahun gak perlu kerja sama sekali (asumsi dia sakit parah) dan cukup buat keluarga dengan 1 anak yang masih kecil (perlu sekolah) sampai anaknya gede atau gak ya, cukup buat dia sendiri gak kerja (kalau dia kenapa kenapa kan bisa mewariskan saham berdividen ke anak, jadi anaknya gak mulai dari 0). Ini bukan mimpi gaya-gayaan, ini mimpi yang justru paling rasional, karena inti investasi dividen itu bukan buat flexing, tapi buat bikin hidup tetap jalan saat badan tidak bisa diajak kompromi. Dan target seperti ini enaknya punya satu sifat, bisa diukur dengan angka.
Supaya hitungannya tidak ngawang, kita pakai patokan yang sederhana dulu. UMP DKI Jakarta 2025 Rp5.396.761 per bulan, jadi kebutuhan minimum setahun sekitar Rp64.761.132. Ini bukan standar hidup nyaman, ini baseline rata-rata orang Jakarta. Lalu kita bikin dua skenario. Skenario pertama, cukup untuk hidup sendiri setahun, targetnya Rp64.761.132 per tahun. Skenario kedua, cukup untuk keluarga kecil tiga orang setahun, kita pakai pendekatan kasar 3 kali UMP, jadi Rp194.283.396 per tahun. Ini cara cepat untuk dapat gambaran skala, bukan angka final biaya hidup tiap keluarga.
Untuk BBRI, kita pakai interim dividend Rp137 per saham. Dengan dividen segitu, agar dapat Rp64.761.132 setahun, investor butuh sekitar 472.800 saham, atau 4.728 lot. Kalau harga BBRI kita pakai Rp3.750 per saham, modalnya sekitar Rp1,77 miliar. Untuk target keluarga Rp194.283.396, investor butuh sekitar 1.418.200 saham, atau 14.182 lot, modalnya sekitar Rp5,32 miliar. Artinya, kalau investor ingin BBRI menjadi asuransi hidup 1 tahun lewat dividen, skala modalnya mulai dari 1 sampai 5 miliar tergantung targetnya untuk diri sendiri atau untuk keluarga. Ini baru dividen interim ya, belum include dividen final BBRI.
Untuk ADRO, karena dividen interimnya diumumkan dalam dolar dan dibayar dalam Rupiah memakai kurs tengah Bank Indonesia 2 Januari 2026, angka pastinya akan mengikuti kurs saat itu. Tetapi untuk memberi gambaran skala, kita pakai estimasi dividen sekitar Rp145 per saham seperti hitungan sebelumnya. Dengan estimasi itu, untuk target Rp64.761.132 setahun, investor butuh sekitar 446.700 saham, atau 4.467 lot. Dengan harga ADRO Rp1.815 per saham, modalnya sekitar Rp811 juta. Untuk target keluarga Rp194.283.396 setahun, investor butuh sekitar 1.339.900 saham, atau 13.399 lot, modalnya sekitar Rp2,43 miliar. Jadi dibanding BBRI, secara nominal modal di harga saham yang kita pakai, ADRO terlihat lebih ringan untuk mengejar cashflow tahunan yang sama, walau tetap perlu dicatat bahwa angka dividen ADRO sensitif ke kurs dan kebijakan dividen berikutnya. Dan ini baru dividen interima, belum termasuk dividen final ADRO.
Untuk bagian sampai anak gede itu konsepnya berbeda dari sekadar cukup setahun. Kalau targetnya benar-benar sampai anak dewasa, investor sedang membangun dua mesin sekaligus. Mesin pertama adalah dividen yang menutup biaya hidup tahunan secara berulang, supaya pokok sahamnya tidak perlu dijual. Mesin kedua adalah dana pendidikan yang sifatnya biasanya melonjak di fase tertentu, bukan rata tiap bulan. Karena biaya sekolah dan standar pendidikan sangat berbeda antar keluarga, angka pendidikan tidak bisa ditebak tanpa patokan. Tapi kerangka berpikirnya jelas, kunci dulu mesin biaya hidup tahunan lewat dividen, lalu susun cadangan terpisah untuk pendidikan anak. Terus anaknya mau kuliah di mana? Di Jakarta? Australia? Jurusan apa? Kedokteran? Bisa beda angkanya.
Target investor sebenarnya bukan menjadi kaya mendadak dalam semalam kecuali seperti di dracin ketemu CEO Gigachad lalu kimpoy. Jadi fokus investor idelanya memastikan keluarga akan baik-baik saja ketika hal buruk terjadi. Dan itu bisa dicapai kalau investor punya patokan kebutuhan tahunan yang realistis, lalu mengubahnya menjadi target jumlah saham dan modal. Tapi ini sekali lagi cuma pakai standar UMP. Siapa tahu gaya hidupnya beda, tentu hitungannya jadi beda juga.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/), baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/) dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!