Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightPerang Menara: $BALI vs $CENT

Perang Menara: $BALI vs $CENT

Kalau investor dipaksa memilih mana yang lebih baik antara BALI dan CENT berdasarkan laporan interim per 30 September 2025, jawabannya tergantung definisi lebih baik itu mau menekankan apa. Kalau yang dicari adalah bisnis yang sudah menghasilkan laba, risiko kurs dan bunga kecil, pertumbuhan kencang, serta perbaikan free cash flow yang nyata, maka BALI lebih baik. Kalau yang dicari adalah skala pendapatan jauh lebih besar, backlog jauh lebih panjang, dan mesin kas operasional raksasa yang sanggup membiayai capex dengan sangat longgar, maka CENT punya daya tarik sendiri, walau dibayar mahal dengan rugi besar dan risiko keuangan yang berat. 

Dari sisi profil, CENT adalah perusahaan tua, berdiri 11 Februari 1987 dan IPO 1 November 2001, dengan pengendali EP ID Holdings Pte. Ltd. 92,17% dan publik hanya 7,73%. BALI lebih muda, berdiri 6 Juli 2006 dan efektif IPO 4 Maret 2014, dengan pengendali PT Kharisma Cipta Towerindo 59,70% dan publik 40,299%. Kalau investor peduli ruang publik, BALI terasa lebih sehat, karena saham beredar di masyarakat jauh lebih besar dibanding CENT yang sangat terkunci.

Skala operasional jelas milik CENT. Revenue 9 bulan 2025 CENT Rp1,88 triliun, sedangkan BALI Rp922,02 miliar. Backlog CENT Rp14,13 triliun, sementara BALI Rp4,31 triliun. Bahkan rasio backlog terhadap revenue tahunan, CENT sekitar 5,62 tahun, BALI sekitar 3,50 tahun. Di sisi kontrak, CENT terlihat seperti perusahaan yang sudah mengunci napas panjang lewat piutang sewa minimum yang besar, sementara BALI mengunci napas menengah. Namun, ada harga yang dibayar CENT, yaitu konsentrasi pelanggan yang sangat tinggi, Indosat 44,85% dan XLSmart 35,48%, total sekitar 80,33% dari revenue. BALI juga terkonsentrasi, tetapi lebih ringan, empat pelanggan besar sekitar 63,5% revenue, yaitu Diskominfo DKI Jakarta 20,7%, Indosat 17,3%, BAKTI 15,5%, dan XLSmart 10,0%. Jadi dari sisi ketergantungan pelanggan, CENT lebih riskan.

Sekarang masuk ke poin yang paling menentukan siapa lebih baik, yaitu laba rugi dan risiko pembiayaan. BALI mencetak laba periode berjalan Rp138,72 miliar. CENT justru rugi bersih Rp1,47 triliun, dan ruginya melebar sekitar 88,2% dari Rp782,00 miliar. Ini bukan rugi kecil, ini rugi yang secara persepsi publik membuat CENT terlihat seperti perusahaan yang tidak beres. Penyebab utamanya juga jelas, beban keuangan Rp1,27 triliun dan rugi selisih kurs Rp296,50 miliar, ditambah fakta sekitar 40% liabilitas dalam dolar Amerika Serikat. Bahkan sensitivitas bunga juga nyata, kenaikan 1% suku bunga diperkirakan menambah rugi sebelum pajak Rp116,50 miliar. Ini tipe risiko yang bisa menghantam lagi kalau situasi bunga dan kurs tidak bersahabat.

Arus kas justru membuat cerita lebih berlapis. BALI punya CFO Rp487,25 miliar dan capex Rp300,72 miliar, sehingga free cash flow 9 bulan Rp186,53 miliar. CENT jauh lebih besar, CFO Rp1,54 triliun dan capex Rp454,05 miliar, sehingga free cash flow 9 bulan sekitar Rp1,09 triliun. Jadi, operasional CENT sebenarnya mesin kas yang kuat, bahkan saat rugi akuntansi besar. Tetapi investor perlu mengerti, mesin kas kuat tidak otomatis membuat risiko turun kalau struktur utang dan eksposur kursnya besar. CENT membawa utang bank Rp12,15 triliun dan pinjaman pemegang saham Rp8,45 triliun. Ada juga biaya bunga pihak berelasi Rp299,18 miliar dan jasa manajemen Rp21,81 miliar. BALI jauh lebih sederhana, total pinjaman Rp3,39 triliun, dan risiko kurs rendah karena eksposur neto mata uang asing hanya sekitar Rp845,00 juta. Dari sisi risiko suku bunga, BALI menyatakan tidak memiliki pinjaman berbunga mengambang, sedangkan CENT sensitif pada bunga mengambang dan kurs.

Soal kemampuan bayar utang, secara matematis BALI memang butuh waktu lebih lama bila hanya mengandalkan free cash flow, sekitar 13,6 tahun untuk melunasi utang. CENT terlihat lebih cepat untuk utang bank jika memakai free cash flow tahunan, sekitar 8,36 tahun, tetapi ini mengabaikan pinjaman pemegang saham dan mengabaikan potensi guncangan kurs dan bunga yang sudah terbukti menggerus laba. Backlog coverage juga sama-sama terlihat kuat di angka, CENT backlog menutup 116% utang bank, BALI backlog menutup 127% total pinjaman. Tetapi ada perbedaan rasa, CENT punya backlog lebih panjang, tetapi beban finansialnya membuat laba rugi berdarah, sedangkan BALI backlog lebih pendek, tetapi laba positif dan risiko finansial lebih terkendali.

Kalau investor yang mengutamakan kesehatan laporan laba rugi, pertumbuhan, dan risiko keuangan yang lebih jinak, BALI lebih baik. BALI tumbuh 22,16% di revenue, laba tumbuh 32,17%, CFO tumbuh 41,71%, capex turun 40,17%, dan free cash flow berbalik dari negatif Rp158,85 miliar menjadi positif Rp186,53 miliar. Ini paket yang enak dibaca karena menunjukkan fase panen benar-benar sedang terjadi.

Sedangkan CENT lebih cocok untuk investor yang percaya rugi akuntansi itu lebih banyak dipicu faktor non-operasional, dan yakin manajemen bisa menstabilkan kurs, bunga, serta struktur pendanaan, karena di balik rugi Rp1,47 triliun ada CFO Rp1,54 triliun dan backlog Rp14,13 triliun yang memberi napas panjang. Tetapi untuk investor yang tidak mau berjudi dengan risiko kurs dan bunga, serta tidak nyaman melihat rugi melebar, CENT secara praktis kalah di rasa aman dibanding BALI.

Jadi bukan berarti CENT itu jelek dan BALI bagus secara mutlak. BALI lebih cocok untuk profil risk investor yang suka LK terkendali dan profit yang nyata, sedangkan CENT lebih cocok jika investor memang sengaja memilih cerita leverage besar dengan kontrak panjang dan mesin kas kuat, sambil siap menerima volatilitas kurs dan bunga yang bisa membuat rugi akuntansi kembali meledak kapan saja atau malah jadi Turnaround Story.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/), baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/) dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here