Manajemen menyampaikan strategi utama untuk menjaga laba di tengah tekanan harga batubara adalah mempertahankan struktur biaya yang efisien dan operasional yang ramping. Hal ini penting karena margin pada bisnis trading dinilai relatif tipis sehingga sensitif terhadap kenaikan biaya.
Di luar trading batubara, perusahaan menyiapkan sumber pendapatan baru melalui anak usaha PT BBJ yang mulai masuk ke bisnis trading batu agregat. Manajemen berharap lini baru ini sudah bisa memberikan kontribusi positif pada 2026 sebagai bagian dari diversifikasi.
Kerugian hingga Q3 2025 dijelaskan terutama dipicu curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun yang mengganggu produksi. Selain itu, strip ratio yang masih tinggi disebut merupakan langkah menjaga kesinambungan tambang untuk periode berikutnya.
Manajemen menargetkan profitabilitas membaik setelah strip ratio turun, seiring perbaikan sequence tambang. Dengan profil produksi yang lebih efisien, beban biaya diharapkan lebih terkendali pada periode selanjutnya.
Tekanan kinerja juga berasal dari penurunan harga batubara dan kenaikan biaya akibat perubahan tarif. Perusahaan turut menyoroti kebijakan perpajakan pemerintah yang meningkatkan beban usaha sebagai faktor tambahan yang perlu dimitigasi.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!