Emiten pengelola gerai minuman “Teguk”, PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), berencana melakukan ekspansi bisnis besar-besaran. Perseroan akan merambah sektor hilir dengan masuk ke bisnis perdagangan daging beku (frozen meat) dan industri makanan olahan (food processing).
Untuk memuluskan rencana ini, manajemen TGUK akan meminta restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 2 Desember 2025.
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu dicermati investor terkait aksi korporasi ini:
1. Diversifikasi ke “Frozen Food” dan Pengolahan Daging
TGUK tidak lagi hanya fokus pada kedai minuman dan makanan. Perseroan akan menambahkan kegiatan usaha baru meliputi perdagangan besar daging sapi dan ayam, serta industri pengolahan daging (seperti sosis, nugget, bakso) dan makanan siap saji.
Langkah ini diambil karena pasar makanan beku di Indonesia diproyeksikan tumbuh pesat dengan nilai pasar menembus Rp200 triliun pada 2024. Selain itu, strategi ini dinilai dapat mendiversifikasi pendapatan dan mengurangi risiko bisnis yang hanya bertumpu pada satu lini.
2. Alihkan Dana IPO: Gerai Baru Ditunda, Fokus Bangun Pabrik
Investor perlu mencatat bahwa TGUK tidak melakukan penggalangan dana baru. Perseroan akan melakukan perubahan penggunaan dana hasil penawaran umum (IPO) sebesar Rp42,92 miliar.
Dana tersebut awalnya dialokasikan untuk pengembangan dan pembukaan gerai baru. Namun, kini dana itu akan dialihkan untuk:
- Belanja Modal (Capex): Sekitar Rp37,5 miliar akan digunakan untuk pembangunan pabrik dan pembelian mesin pengolahan (seperti grinder, mixer, dan blast freezer) yang dijadwalkan pada 2026-2027.
- Modal Kerja: Sisanya untuk pembelian persediaan bahan baku daging.
3. Gandeng Mitra Strategis Singapura
Dalam ekspansi ini, TGUK mendapatkan dukungan dari mitra strategis baru, Visionary Capital Global Pte. Ltd., sebuah perusahaan holding yang berbasis di Singapura. Masuknya mitra ini diharapkan memperkuat jaringan global dan kemampuan ekspansi perseroan tanpa menambah beban pinjaman baru secara signifikan.
4. Proyeksi Keuangan: Laba Mulai 2028
Manajemen TGUK bersikap transparan mengenai dampak jangka pendeknya. Karena adanya fase investasi dan konstruksi pabrik, segmen bisnis baru ini diproyeksikan masih akan membukukan rugi operasional pada periode 2025-2027.
Perseroan memproyeksikan baru akan mencetak laba bersih dari lini bisnis ini pada tahun 2028 sebesar Rp3,3 miliar, dan melonjak menjadi Rp33,8 miliar pada 2029. Secara studi kelayakan, proyek ini dinilai layak dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 20,42%.
Jadwal Penting: Bagi pemegang saham yang ingin memberikan suara, RUPSLB akan dilaksanakan pada Selasa, 2 Desember 2025, pukul 10.00 WIB di The GALA, Alam Sutera. Pemegang saham yang berhak hadir adalah yang namanya tercatat pada 7 November 2025.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!