PT Samuel Sekuritas Indonesia ternyata cukup agresif ikut main di pasar perdana dalam tiga tahun terakhir meskipun memang tidak seganas UW IPO $COIN dan $CDIA yang super strong. Di 2023 saja Samuel Sekuritas sudah tercatat ikut sebagai underwriter di IPO PGEO PT Pertamina Geothermal Energy Tbk yang listing 24 Februari 2023, NSSS PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk yang masuk bursa 10 Maret 2023, lalu saham digital AWAN PT Era Digital Media Tbk yang melantai 18 April 2023, dan FOLK PT Multi Garam Utama Tbk yang resmi tercatat 7 Agustus 2023. Di 2024 gilirannya ALII PT Ancara Logistics Indonesia Tbk yang listing 7 Februari, LIVE PT Homeco Victoria Makmur Tbk yang menyusul 12 Februari, GOLF PT Intra Golflink Resorts Tbk yang masuk 8 Juli, serta DOSS PT Global Sukses Digital Tbk yang tercatat 7 Agustus. Tahun 2025 masih berlanjut dengan DGWG PT Delta Giri Wacana Tbk yang mulai diperdagangkan 13 Januari. Dari daftar ini saja sudah kelihatan Samuel tidak pilih satu sektor saja, tetapi menyebar dari energi, sawit, media digital, garam, logistik, consumer goods, golf resort, sampai jasa digital dan konstruksi.
Kalau dilihat dari pola hari pertama, karakter IPO Samuel ini campur aduk. PGEO dan NSSS yang sama sama sektor energi dan sawit justru tidak mengalami ARA Lock saat IPO, pergerakannya wajar, tidak seperti gorengan yang digembok atas. AMMN sebagai emiten tambang raksasa yang juga melibatkan Samuel bahkan juga tidak pakai ARA Lock berhari hari, tetapi grafiknya langsung membentuk tren naik kuat. Di sisi lain ada AWAN yang tiga hari awal ARA Lock namun hari kedua dan ketiga sudah muncul diskon untuk yang baru masuk. Ada juga IPO di mana tiga hari pertama langsung ARB beruntun tanpa pernah menyentuh ARA, yang mengingatkan bahwa tidak semua deal manis. DOSS malah sempat dua hari ARA Lock tetapi hari kedua sudah ada yang buang barang. DGWG hanya ARA Lock di hari pertama, setelah itu harga bebas naik turun cukup liar. LIVE dan GOLF lebih kalem, hari pertama tidak ada ARA Lock dan pergerakan relatif normal, walaupun hasil akhirnya sangat berbeda di masing masing saham.
Dari sisi struktur underwriter, hampir semua deal besar dilakukan secara joint. PGEO dikeroyok ramai ramai bersama CLSA Sekuritas Indonesia, Credit Suisse Sekuritas Indonesia, Mandiri Sekuritas, HSBC Sekuritas Indonesia, Bahana Sekuritas, dan Danasakti Sekuritas Indonesia. NSSS di sawit bareng BRI Danareksa Sekuritas, Sucor Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Yulie Sekuritas Indonesia Tbk, Phillip Sekuritas Indonesia, serta Danasakti Sekuritas Indonesia. AWAN didampingi Sucor Sekuritas, FOLK menggandeng KGI Sekuritas Indonesia. AMMN sebagai tambang kelas berat punya barisan joint UW BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, CLSA Sekuritas Indonesia, DBS Vickers Sekuritas Indonesia, BRI Danareksa Sekuritas, dan Maybank Sekuritas Indonesia. ALII bekerja sama dengan Ciptadana Sekuritas Asia, LIVE bersama Binaartha Sekuritas. GOLF cukup ramai karena ada KB Valbury Sekuritas, Samuel Sekuritas Indonesia sendiri, Semesta Indovest Sekuritas, dan Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. DGWG menggandeng BRI Danareksa Sekuritas dan Shinhan Sekuritas Indonesia. Satu satunya yang memakai Samuel sebagai single underwriter justru DOSS PT Global Sukses Digital Tbk, yang kemudian hari grafiknya malah turun pelan pelan setelah fase ARA singkat di awal.
Kalau berpindah ke hasil akhirnya sampai harga penutupan 26 November 2025, gambarnya cukup menarik. PGEO yang IPO di harga 875 sekarang di sekitar 1.210, naik sekitar 38,29%. NSSS yang ditawarkan di 127 sekarang berada di sekitar 520, lonjakannya sekitar 309,45%. AWAN yang IPO di 100 kini ada di sekitar 222, artinya sudah naik sekitar 122%. FOLK yang juga ditawarkan 100 sekarang sekitar 306, jadi naik sekitar 206%. AMMN sebagai bintang komoditas IPO di 1.695 dan sekarang penutupan di sekitar 6.950, loncatan sekitar 310,03%. ALII yang listing di 272 sekarang sekitar 620, kenaikannya sekitar 127,94%. LIVE dari 148 ke sekitar 191, naik sekitar 29,05%. GOLF dari 200 ke sekitar 204, hanya naik sekitar 2%. DGWG dari 230 ke sekitar 390, naik sekitar 69,57%. Kalau disederhanakan, delapan dari sembilan IPO yang melibatkan Samuel masih di atas harga IPO dengan margin bervariasi, dari tipis sampai multi bagger.
Sebagai pembanding, IHSG sendiri dari kisaran 6.800 di awal 2023 naik ke 8.602,13 pada 26 November 2025, berarti kenaikannya sekitar 25 sampai 30% dalam hampir tiga tahun. Artinya, hampir semua saham di cluster ini mengalahkan indeks, kecuali GOLF yang praktis datar dan LIVE yang kurang lebih hanya sedikit di atas kinerja IHSG. Sisanya jauh lebih tinggi. AMMN dan NSSS masing masing sekitar 310,03% dan 309,45%, jelas jadi bintang dengan keuntungan tiga kali lipat lebih. FOLK sekitar 206% dan AWAN sekitar 122% menunjukkan bahwa small cap yang sempat digerakkan di awal tetap menyisakan cuan besar bagi yang pegang sejak penawaran. ALII sekitar 127,94% mencerminkan logistik yang ikut menikmati hype e commerce dan distribusi barang. DGWG dengan 69,57% untuk IPO awal 2025 sudah tergolong kencang walaupun belum tembus dua kali lipat.
Kalau dibagi kelompok, para juara multi bagger di atas 300% dihuni AMMN dan NSSS. Keduanya menggabungkan narasi komoditas yang sedang naik daun dengan waktu IPO yang pas, sehingga valuasi pasar lari jauh di depan. Kelompok pemenang besar 100 sampai 250% adalah FOLK, AWAN, dan ALII, plus DGWG yang walaupun masih 69,57% tetapi untuk umur listing yang pendek sudah cukup agresif. Saham seperti ini memberi pelajaran bahwa keuntungan besar biasanya datang cepat dalam 6 sampai 18 bulan pertama, seiring cerita yang sedang manis dan aliran dana yang deras, tetapi begitu sudah naik beberapa kali lipat, risiko investor yang datang terlambat jauh lebih besar. LIVE dengan sekitar 29,05% dan GOLF dengan sekitar 2% berada di kelas yang lebih netral. LIVE masih selevel indeks, GOLF jelas underperform walaupun ceritanya golf resort terdengar menarik di awal.
Dari sini terlihat track record Samuel Sekuritas sebagai underwriter cukup impresif kalau dilihat dari performa harga. Dari sembilan saham, hanya satu yang benar benar gagal memberi alpha berarti dibanding IHSG yaitu GOLF. Yang lain mengalahkan indeks dengan selisih yang cukup lebar, terutama AMMN, NSSS, FOLK, AWAN, ALII, dan DGWG. Ini memberi sinyal bahwa dari sisi pemilihan deal, Samuel lumayan sering ikut di emiten yang kemudian jadi favorit pasar, terutama di sektor komoditas, logistik, dan consumer. Namun di balik itu, risiko buat investor yang masuk terlalu telat juga besar. Banyak kenaikan tajam terjadi di fase dini. Setelah naik berkali kali lipat, ruang upside multi bagger berikutnya jauh lebih sempit sementara ancaman koreksi ketika siklus komoditas berbalik atau IHSG melepas euforia di atas 8.600 menjadi jauh lebih nyata.
Pola klasik IPO Indonesia juga terlihat jelas. Ada yang jadi bintang super seperti AMMN dan NSSS. Ada yang grafiknya bagus di awal lalu berpotensi stabil sebagai pemenang jangka menengah seperti ALII dan mungkin FOLK kalau kinerja keuangannya konsisten. Ada yang kisahnya datar dan tidak memberi imbal hasil istimewa seperti GOLF dan LIVE. Di sisi teknikal, kombinasi ARA Lock dan ARB di hari hari awal menambah warna. Beberapa emiten tidak pernah ARA Lock tetapi bisa jadi multi bagger, contohnya PGEO dan NSSS. Sebagian lainnya justru memakai ARA berhari hari sebagai panggung sebelum distribusi, seperti AWAN dan DOSS. Ada juga contoh pahit tiga hari ARB beruntun yang mengingatkan bahwa logo underwriter tidak bisa dijadikan jaminan apa pun.U
Di tengah track record seperti ini, rencana Samuel ikut membawa RLCO ke pasar perdana menarik untuk diamati. RLCO punya cerita yang sangat berbeda dibanding AMMN atau NSSS. Bukan komoditas dengan kas besar, tetapi perusahaan yang masih sangat bergantung pada kelonggaran bank dan restrukturisasi utang. Secara pola, potensi RLCO lebih mirip cluster saham yang digerakkan lewat sentimen dan struktur kredit daripada cerita pertumbuhan bersih. Bagi investor, pelajaran dari sembilan IPO tadi cukup jelas. Pertama, keberadaan Samuel Sekuritas sebagai underwriter bisa jadi indikator bahwa emisi tersebut cukup besar atau punya cerita yang bisa dijual, tetapi tidak otomatis menjadikannya multi bagger. Kedua, yang jauh lebih penting adalah harga masuk, kualitas bisnis, dan disiplin keluar. Ketiga, ARA Lock di awal hanya bagian dari mekanik pasar, bukan jaminan hasil akhir.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!