Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeBelajar SahamSAME LK Q3 2025: Turnaround Story

SAME LK Q3 2025: Turnaround Story


Menariknya, SAME ini bukan RS kecil di pinggir kota, tapi jaringan EMC Healthcare yang pegang 8 rumah sakit dengan kapasitas lebih dari 1.400 tempat tidur di Jabodetabek. Angkanya juga bukan kaleng-kaleng, pendapatan jasa sudah tembus lebih dari 1,3 triliun Rupiah dalam 9 bulan dan laba yang tadinya cuma beberapa miliar sekarang melonjak jadi puluhan miliar. Namun di balik lonjakan laba itu, ada FCF yang masih minus dan utang bank mendekati 1 triliun Rupiah yang mau tidak mau bikin investor harus ekstra waspada. Jadi cerita SAME ini lebih mirip rumah sakit yang baru selesai renovasi besar-besaran, kelihatan kinclong dari luar, tapi tagihan kontraktornya masih menumpuk di meja keuangan.

Analisis tren yang dibahas di sini meliputi Pendapatan Jasa atau Revenue, Arus Kas dari Aktivitas Operasi atau Cash Flow from Operations (CFO), Laba atau Profit, dan Bed Occupancy Rate atau BOR. Sumber data utamanya adalah laporan keuangan konsolidasian interim PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk dan entitas anak untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2025 dan 2024, ditambah ringkasan kinerja kuartalan sampai Maret 2025. Singkatnya, kita lihat dulu mesin uang SAME selama 9 bulan, baru setelah itu masuk ke arus kas, beban ekspansi, posisi utang, dan terakhir bandingkan dengan valuasi di harga sekitar 404 per saham.

Dari sisi pendapatan jasa, tren SAME sebenarnya cukup solid. Revenue naik dari sekitar 1,28 triliun Rupiah di 9M 2024 menjadi sekitar 1,37 triliun Rupiah di 9M 2025, naik kurang lebih 6 sampai 7%. Pendorong utamanya bukan sekadar naiknya pasien rawat inap biasa, tapi lonjakan di segmen penunjang medis yang nilainya naik dari sekitar 766,69 miliar Rupiah menjadi sekitar 840,30 miliar Rupiah. Pendapatan rawat jalan juga ikut melompat, dari kurang lebih 80,12 miliar Rupiah menjadi sekitar 101,70 miliar Rupiah. Di belakang angka ini ada strategi yang cukup agresif, mulai dari transisi ke jaringan rumah sakit digital penuh dengan sistem Hospital Information System (HIS) terintegrasi, aplikasi EMCare untuk booking dan konsultasi daring, sampai investasi alat diagnostik kelas berat seperti Biograph Vision Quadra PET/CT Scanner yang mulai beroperasi di EMC Grha Kedoya sejak Agustus 2025. Artinya, pendapatan naik bukan cuma karena kasur terisi, tetapi juga karena setiap pasien dibungkus dengan layanan penunjang yang lebih lengkap dan lebih mahal.

Laba periode berjalan juga melonjak secara dramatis. Di 9M 2024 SAME cuma mencetak laba sekitar 3,68 miliar Rupiah, angka yang jujur saja lebih mirip UKM besar daripada grup rumah sakit nasional. Di 9M 2025 laba melonjak menjadi sekitar 38,90 miliar Rupiah, hampir sepuluh kali lipat. Laba usaha naik dari sekitar 68,28 miliar Rupiah menjadi sekitar 94,65 miliar Rupiah, ditopang beberapa faktor. Pertama, ada kenaikan bagian laba dari entitas asosiasi PT Nitrasanata Dharma yang loncat dari sekitar 9,56 miliar Rupiah menjadi 17,52 miliar Rupiah, jadi bukan murni hasil keringat rumah sakit sendiri tetapi juga dari investasi di jaringan lain. Kedua, beban keuangan turun dari sekitar 66,11 miliar Rupiah menjadi 59,84 miliar Rupiah, padahal utang bank jangka panjang masih tinggi, yang menunjukkan manajemen utang dan bunga agak lebih rapi dibanding tahun lalu. Ketiga, beban umum dan administrasi bisa ditekan sedikit dari kurang lebih 308,57 miliar Rupiah menjadi 304,52 miliar Rupiah, tidak besar secara nominal tetapi cukup membantu margin. Bahkan kalau dilihat tiga bulan pertama 2025 saja, laba neto sudah naik ke sekitar 11,30 miliar Rupiah dibanding sekitar 4,68 miliar Rupiah di periode yang sama tahun sebelumnya, dan margin laba bersih naik dari sekitar 1,07% menjadi 2,56%. Jadi laba SAME memang lagi fase rebound setelah lama tipis-tipis.

Di sisi kas, Arus Kas dari Aktivitas Operasi atau CFO juga menanjak, walaupun ceritanya tidak semulus laba akuntansi. Untuk 9M 2024, CFO berada di kisaran 166,64 miliar Rupiah dan naik menjadi sekitar 182,42 miliar Rupiah di 9M 2025. Penerimaan kas dari pasien ikut naik dari sekitar 1,25 triliun Rupiah menjadi sekitar 1,33 triliun Rupiah, sejalan dengan kenaikan revenue. Tapi di saat yang sama, pembayaran ke pemasok dan pihak ketiga juga naik cukup kencang dari sekitar 630,10 miliar Rupiah menjadi 685,83 miliar Rupiah, ditambah pembayaran ke karyawan yang juga meningkat. Menariknya, kalau hanya melihat tiga bulan pertama 2025, CFO sempat negatif sekitar 1,39 miliar Rupiah padahal di 3M 2024 masih surplus sekitar 89,52 miliar Rupiah. Ini mengindikasikan ada pergeseran timing pembayaran dan penagihan di awal tahun, yang untungnya tertutup oleh perbaikan kas di kuartal berikutnya sehingga secara 9M penuh CFO tetap naik.

Untuk Bed Occupancy Rate atau BOR, datanya tidak muncul di LK. Yang jelas, EMC Healthcare saat ini mengoperasikan 8 rumah sakit dengan kapasitas lebih dari 1.400 tempat tidur medis dan sekitar 3.189 karyawan per 2024, naik sekitar 1,53% dari 2023. Tanpa angka BOR detail, investor hanya bisa membaca implikasi tidak langsung dari kenaikan pendapatan jasa, terutama dari penunjang medis dan rawat jalan, plus lonjakan laba. Artinya, utilisasi layanan memang membaik, tetapi belum bisa dihitung presisi berapa persen tempat tidur benar-benar terpakai dan seberapa jauh jarak SAME dari titik optimal.

Kalau pindah ke struktur neraca dan arus kas yang lebih dalam, karakter SAME sangat jelas sebagai rumah sakit yang berat aset dan lagi agresif ekspansi. Aset terbesar adalah aset tetap sekitar 4,19 triliun Rupiah dari total aset sekitar 5,78 triliun Rupiah, jadi hampir seluruh neraca ditambatkan ke tanah, bangunan, dan peralatan medis. Di sisi kewajiban, utang bank jangka panjang ada di kisaran 767,66 miliar Rupiah dengan total utang bank, jangka pendek dan jangka panjang, mendekati 996,43 miliar Rupiah. CFO 9M 2025 sekitar 182,42 miliar Rupiah kalau di annualisasi menjadi kurang lebih 243,23 miliar Rupiah, sementara revenue kalau di annualisasi menjadi sekitar 1,82 triliun Rupiah. Ini memberi CFO margin sekitar 13,34%, artinya setiap 100 Rupiah pendapatan menghasilkan sekitar 13,34 Rupiah kas operasi, angka yang cukup sehat untuk sektor rumah sakit.

Masalahnya mulai terasa ketika Capex atau belanja modal dimasukkan ke analisis. Perolehan aset tetap dalam 9M 2025 berada di kisaran 225 miliar Rupiah, yang di annualisasi menjadi sekitar 300 miliar Rupiah. Artinya Capex lebih besar sekitar 23% dibanding CFO, sehingga Free Cash Flow atau FCF menjadi negatif sekitar 56,75 miliar Rupiah secara annualisasi, dengan FCF margin sekitar minus 3,11%. Rasio Capex terhadap laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk mendekati 6,84 kali, jadi untuk setiap 1 Rupiah laba, SAME menggelontorkan hampir 7 Rupiah untuk investasi aset. Rasio Capex terhadap CFO sekitar 1,23 kali dan Capex terhadap revenue sekitar 16,46%, menunjukkan SAME lagi tahap ekspansi modal yang sangat intensif, entah untuk ekspansi kapasitas, upgrade alat, atau peremajaan fasilitas.

Rasio utangnya juga cukup berat kalau dilihat dari sisi laba. Dengan total utang bank sekitar 996,43 miliar Rupiah dan laba pemilik induk annualisasi sekitar 43,87 miliar Rupiah, rasio utang terhadap laba atau Debt to Profit mendekati 22,7 kali. Dari kacamata laba akuntansi, ini terlihat rapuh karena butuh lebih dari 22 tahun laba di level sekarang untuk menutup seluruh utang kalau semuanya dialihkan untuk membayar bank. Namun kalau dilihat dari kas operasi, gambarnya agak lebih menenangkan. Rasio utang terhadap CFO atau Debt to CFO sekitar 4,09 kali, yang artinya butuh sekitar 4,1 tahun kas operasi untuk melunasi seluruh utang bank kalau Capex dan kebutuhan lain nol. Rasio CFO terhadap laba bersih bahkan sekitar 5,54 kali, artinya kas yang dihasilkan operasi jauh lebih besar daripada laba akuntansi, karena laba ditekan oleh depresiasi, amortisasi, dan beban bunga yang signifikan. Di kertas, kualitas laba sebenarnya cukup bagus, tetapi dikanibal oleh Capex besar sehingga FCF jatuh ke zona negatif.

Kalau dihitung per orang, efisiensi SAME kelihatan seperti ini. Dengan sekitar 3.081 karyawan tetap per 30 September 2025 dan data yang di annualisasi, pendapatan per karyawan berada di kisaran 591,70 juta Rupiah per tahun. Kas dari pelanggan per karyawan sekitar 576,57 juta Rupiah per tahun. CFO per karyawan sekitar 78,95 juta Rupiah, sedangkan laba bersih per karyawan hanya sekitar 14,24 juta Rupiah. Dari empat angka ini, yang paling relevan untuk menilai efisiensi operasional adalah CFO per karyawan karena mencerminkan kemampuan rumah sakit mengubah aktivitas sehari-hari menjadi kas yang benar-benar masuk ke rekening, bukan sekadar laba di atas kertas. Sementara laba per karyawan masih tipis karena depresiasi dan bunga yang besar, CFO per karyawan yang relatif kuat memberi ruang buat SAME untuk tetap bernafas di tengah Capex dan cicilan utang.

Kelihatan jelas bahwa SAME lagi berada di fase turnaround yang manis di laporan laba rugi tetapi masih berat di sisi arus kas bebas dan struktur modal. Revenue naik, laba melonjak, CFO menguat, jadi dari permukaan ceritanya positif. Namun Capex yang melampaui CFO membuat FCF defisit dan memaksa SAME mengandalkan utang untuk mendanai ekspansi. Modal kerja juga ketat, dengan aset lancar sekitar 521 miliar Rupiah dan liabilitas lancar sekitar 847 miliar Rupiah sehingga Net Working Capital atau NWC negatif. Di bisnis rumah sakit yang banyak berurusan dengan BPJS, NWC negatif bisa jadi hal biasa, tetapi tetap menimbulkan risiko kalau penagihan piutang melambat sementara kewajiban ke bank dan pemasok tidak bisa ikut dilambatkan.

Masuk ke valuasi, di sinilah banyak investor bisa mulai garuk-garuk kepala. Dengan harga saham sekitar 404 dan jumlah saham beredar sekitar 17,16 miliar lembar, kapitalisasi pasar SAME mendekati 6,9 triliun Rupiah dan nilai perusahaan atau Enterprise Value (EV) sekitar 7,78 triliun Rupiah setelah ditambah utang dan dikurangi kas. Earnings per Share atau EPS annualisasi sekitar 2,56 Rupiah per saham, sehingga Price Earnings Ratio atau PER berada di kisaran 157,81 kali. Book Value per Share atau BVPS sekitar 222,45 Rupiah per saham, sehingga Price to Book Value atau PBV sekitar 1,82 kali. Kalau dilihat dari kas operasi, Cash Flow from Operations per share sekitar 14,18 Rupiah per saham, sehingga Price to Cash Flow from Operations (P/CFO) sekitar 28,49 kali. Sales per share sekitar 106,26 Rupiah, sehingga Price to Sales atau P/S sekitar 3,80 kali. Di level EV, rasio Enterprise Value to Sales atau EV/Sales sekitar 4,27 kali, EV to EBITDA atau EV/EBITDA sekitar 20,82 kali, dan EV to EBIT atau EV/EBIT sekitar 61,65 kali. FCF masih negatif, jadi Price to Free Cash Flow dan EV/FCF praktis tidak relevan. Tidak ada dividen yang dibayarkan ke pemilik entitas induk, jadi dividend yield dan payout ratio masih nol.

Valuasi setinggi itu jelas tidak sejalan dengan laba dan FCF hari ini. Dengan PER sekitar 157,81 kali, pasar seolah sedang memberi SAME label saham growth ekstrem, yang akan menaikkan laba jauh di atas tren nominal saat ini. EPS sekitar 2,56 Rupiah per saham sebenarnya terlalu kecil untuk menopang harga 404 kalau investor memakai patokan konservatif PER 10 kali. Di standar itu, untuk membenarkan harga 404, EPS harus mencapai sekitar 40,4 Rupiah per saham, sehingga laba bersih pemilik induk perlu naik dari kisaran 43,87 miliar Rupiah annualisasi menjadi sekitar 692,9 miliar Rupiah, atau sekitar 14 sampai 15 kali lebih besar. Dari sisi kas, FCF harus berbalik arah dari minus sekitar 56,75 miliar Rupiah menjadi positif ratusan miliar per tahun, kemungkinan di rentang 200 sampai 400 miliar Rupiah per tahun, kalau SAME mau punya ruang untuk membayar dividen yang berarti sekaligus tetap membiayai Capex dan menurunkan leverage.

Kalau investor memakai kerangka balik modal dalam 10 tahun, angkanya tambah keras lagi. Untuk balik modal penuh 404 Rupiah per saham dalam 10 tahun murni dari dividen dan pengembalian kas, investor butuh rata-rata sekitar 40,4 Rupiah per saham per tahun. Kalau asumsi dividend payout ratio 50%, berarti EPS harus sekitar 80,8 Rupiah per saham. Dengan jumlah saham sekarang, laba bersih yang dibutuhkan sekitar 1,39 triliun Rupiah per tahun, atau sekitar 31 sampai 32 kali lipat laba annualisasi 2025. FCF yang sekarang minus harus bertransformasi menjadi positif sekitar 693 miliar Rupiah per tahun agar dividen di level itu tidak hanya jadi angka di atas kertas. Itu standar yang sangat berat dan menuntut keberhasilan nyaris sempurna dari semua proyek ekspansi dan digitalisasi yang sedang berjalan.

Jadi di harga 404, bagaimana cara baca SAME dari kacamata berbagai tipe investor. Investor yang optimis akan bilang valuasi setinggi ini wajar untuk jaringan rumah sakit premium milik Emtek yang lagi menjalankan digitalisasi penuh, memperkuat brand EMC, menambah alat diagnostik kelas dunia, dan baru saja membuktikan diri bisa keluar dari kerugian ke laba yang tumbuh cepat. Mereka melihat Capex besar sebagai fondasi ekspansi, bukan beban. Investor yang pesimis akan fokus ke fakta bahwa FCF negatif, P/CFO di hampir 30 kali, utang bank mendekati 1 triliun Rupiah, dan NWC negatif, sehingga harga 404 terlihat seperti hasil euforia, bukan cermin fundamental. Investor realistis akan mengakui bahwa turnaround laba dan CFO ini nyata dan patut dihargai, tetapi menganggap valuasi sekarang terlalu tipis margin keamanannya dan menunggu bukti FCF positif di 2026 sebelum berani masuk dalam porsi besar. Long investor yang percaya aset fisik rumah sakit di kota besar akan terus naik nilainya mungkin masih nyaman menahan SAME sebagai proxy sektor kesehatan premium yang didukung grup besar Emtek, sambil tutup mata dari PER yang sangat tinggi. Sementara itu, bandar dan trader jangka pendek melihat kombinasi float relatif terbatas, cerita growth manis, dan valuasi ekstrem sebagai lahan subur untuk spekulasi, karena harga mudah digerakkan naik turun oleh sentimen tanpa harus menunggu FCF betulan muncul di laporan keuangan.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here