PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) secara drastis menekan belanja modalnya menjadi Rp 65,85 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk akuisisi properti pertambangan dan sejumlah aset tetap.
Meskipun belanja modal dipangkas, perusahaan berhasil mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 29,51% menjadi Rp 1,24 triliun dan lonjakan laba bersih sebesar 54,75% menjadi Rp 442,69 miliar. Kinerja ini mendorong arus kas bebas tumbuh kuat sebesar 58,87% menjadi Rp 611,55 miliar.
Posisi modal kerja perusahaan menguat signifikan dengan aset lancar yang tumbuh lebih cepat daripada liabilitas lancar. Namun, siklus konversi kas (CCC) sedikit memanjang menjadi 67,54 hari karena persediaan lebih lama tersimpan di gudang.
Peningkatan kas dan setara kas perusahaan mencapai 80,17% menjadi Rp 932,92 miliar, didukung oleh penagihan piutang yang agresif. Di sisi lain, nilai persediaan meningkat 50,49% dan masih terdapat piutang jatuh tempo yang memerlukan pencadangan kerugian.
Peningkatan persediaan terutama disebabkan oleh kenaikan stok bijih nikel sebesar 114,99% dan batu kapur sebesar 77,43%. Kenaikan ini bisa menjadi strategi untuk mengamankan pengiriman di masa depan dan perlu dipantau perputarannya pada kuartal keempat.
Lonjakan laba bersih didorong oleh tiga faktor utama: pertumbuhan penjualan, pendapatan bunga yang lebih tinggi, dan penurunan beban usaha. Efisiensi biaya pengiriman (freight) menjadi salah satu kunci yang mengangkat laba usaha hingga 102,46%.
Investor perlu tetap waspada terhadap beberapa hal, seperti tingginya tingkat persediaan yang mengikat modal kerja dan profil piutang yang membutuhkan pencadangan besar. Selain itu, disiplin dalam pembayaran utang jangka panjang kepada Indonesia Eximbank menjadi krusial.
Perusahaan terus melanjutkan agenda hilirisasi dengan mengkaji ulang rencana smelter tahap dua untuk menyasar ekosistem baterai kendaraan listrik. Di lini bisnis lain, anak usaha di sektor batu kapur telah meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi target penjualan domestik.
Struktur pengendalian perusahaan terkonsolidasi di bawah PT Jinsheng Mining sebagai pemegang saham mayoritas. Arus kas perusahaan sangat bergantung pada dua pelanggan besar, yaitu PT Sino Indo Nickel dan PT Megah Surya Pertiwi.
Secara keseluruhan, investor dapat merasa puas dengan lonjakan laba dan arus kas, namun perlu berhati-hati terhadap manajemen persediaan dan utang jangka panjang. Katalis positif ke depan akan bergantung pada normalisasi stok, stabilitas penjualan, dan keputusan final terkait proyek smelter.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!