PT Samator Indo Gas Tbk yang dulunya dikenal sebagai PT Aneka Gas Industri adalah salah satu pemain lama dalam bisnis gas industri di Indonesia. Perusahaan ini lahir pada 21 September 1971 dan baru berganti nama menjadi Samator Indo Gas pada Desember 2022. Kantornya berada di Jakarta Selatan di Gedung UGM Samator Pendidikan Tower, dan perusahaan induknya adalah PT Samator.
Dengan sejarah lebih dari lima dekade, perusahaan ini membangun jaringan produksi yang cukup besar, terbukti dari kepemilikan 58 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Maluku Utara. Model bisnisnya juga tidak hanya terbatas pada gas, melainkan merambah ke industri kimia, konstruksi, perdagangan, hingga manajemen limbah.
Kepemilikan saham per Juni 2025 menggambarkan perusahaan ini masih dalam lingkaran Samator Group. Dari total 3,07 miliar lembar saham yang beredar, PT Samator memegang 35,24%, PT Samator Matrix Company 32,45%, PT Aneka Mega Energi 15%, Saratoga Investama 10%, dan masyarakat hanya 7,28%. Struktur kepemilikan seperti ini membuat publik punya porsi kecil, sementara pengendalian masih dominan di tangan grup Samator.
Di jajaran komisaris, posisi komisaris utama ditempati Heyzer Harsono dengan nama besar lain seperti Komjen Pol (Purn) Sutanto duduk sebagai komisaris independen. Sementara itu, kursi direktur utama dipegang Rachmat Harsono, generasi penerus keluarga Samator.
Kalau melihat model bisnisnya, perusahaan mengadopsi PSAK 115 terkait pendapatan dari kontrak dengan pelanggan. Penjualan gas diakui saat barang diserahkan, jasa instalasi diakui berdasarkan progres waktu, sedangkan pendapatan sewa diakui garis lurus sepanjang periode sewa.
Pola pencatatan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan bersifat jangka pendek, tapi ada juga yang berbasis kontrak panjang. Relasi dengan pihak berelasi sangat intens, terutama dengan PT Samator yang menjadi pemasok utama. Bahkan kontribusi PT Samator melebihi 10% dari total pembelian grup, artinya ada ketergantungan besar pada entitas induk.
Dari sisi kinerja keuangan semester I 2025, pendapatan neto naik tipis 2,1% menjadi Rp1,42 triliun dibandingkan Rp1,39 triliun pada 2024. Laba kotor hanya naik 0,4% jadi Rp643 miliar. Namun, laba usaha justru turun 19,3% ke Rp184 miliar. Yang paling menohok, laba tahun berjalan merosot 65% dari Rp69 miliar menjadi Rp24 miliar saja. EPS dasar jatuh dari Rp21 ke Rp7. Ini jelas sinyal efisiensi yang buruk, karena meski omzet meningkat, beban-beban menggerus hampir seluruh keuntungan.
Di neraca, total aset per Juni 2025 mencapai Rp8,21 triliun, naik dari Rp8,01 triliun di akhir 2024. Aset terbesar berasal dari aset tetap Rp6,1 triliun. Ekuitas tercatat Rp3,78 triliun dan liabilitas Rp4,43 triliun, menghasilkan DER 1,17. Angka ini tergolong moderat, artinya tidak terlalu berat oleh utang. Obligasi dan sukuk yang diterbitkan pun masih berperingkat A(idn) dari Fitch, menandakan pasar kredit melihat perusahaan ini cukup stabil. Namun, aset besar ini tampak belum mampu menghasilkan laba yang sebanding.
Kalau kita bedah arus kasnya, justru ada cerita berbeda. CFO meningkat 28% menjadi Rp138 miliar, padahal laba bersih turun. Arus kas investasi negatif Rp218 miliar, lebih rendah dibanding tahun lalu Rp335 miliar. Arus kas pendanaan turun dari Rp158 miliar menjadi Rp103 miliar. Hasil akhirnya, posisi kas akhir Juni 2025 mencapai Rp408 miliar, naik dibanding periode sebelumnya. Ini artinya perusahaan masih mampu menjaga likuiditas meski profitabilitas jeblok. FCF pun nyaris nol, hanya Rp1,7 miliar, karena hampir seluruh CFO tersedot ke capex.
Penyebab utama penurunan laba terlihat jelas dari beban penjualan yang melonjak 15,5% jadi Rp286 miliar. Biaya distribusi naik 16% dan gaji serta tunjangan penjualan naik 37%. Selain itu, pos penghasilan lain berbalik arah, dari laba Rp2,1 miliar jadi beban Rp2,3 miliar, terutama karena munculnya management fee Rp3,4 miliar di 2025. Pendapatan bunga turun 35% menjadi Rp8 miliar, sementara beban bunga naik 6% jadi Rp164 miliar. Jadi kombinasi kenaikan beban distribusi, tambahan biaya non-recurring, dan tekanan bunga membuat laba habis tergerus.
Kalau ditarik lebih dalam, ada anomali menarik. Laba anjlok, tapi CFO naik. Ini terjadi karena perusahaan menunda pembayaran ke pemasok sehingga utang usaha naik dari Rp121 miliar ke Rp151 miliar. Selain itu, penerimaan kas dari pelanggan naik dari Rp1,36 triliun ke Rp1,44 triliun. Perusahaan juga dapat restitusi pajak lebih besar Rp13,2 miliar. Jadi, meskipun P&L kelihatan buruk, kas tetap mengalir. Namun strategi ini tidak bisa dilakukan terus-menerus, karena menunda pembayaran pemasok bukan solusi jangka panjang.
Kalau kita hitung rasio profitabilitas, ROA hanya 0,29% dan ROE sekitar 0,6% dalam enam bulan. Disetahunkan pun cuma 1,2%. Angka sekecil ini menunjukkan perusahaan tidak efisien dalam memanfaatkan aset Rp8 triliun dan ekuitas Rp3,8 triliun untuk menghasilkan laba. Bandingkan dengan perusahaan industri lain yang bisa cetak ROE di atas 10%, jelas Samator Indo Gas jauh tertinggal. Margin keuntungan pun tertekan, dan struktur biaya terlihat tidak terkendali.
Dari sisi regulasi, perusahaan sudah comply dengan SAK, UU PT, serta aturan OJK. Tidak ada aturan yang secara langsung menghambat operasi. Bahkan, peringkat kredit bagus memberi ruang untuk refinancing jika diperlukan. Tapi kompleksitas pajak dan potensi transaksi pihak berelasi tetap jadi risiko. Jika biaya dari transaksi afiliasi tidak kompetitif, otomatis margin akan terus tergerus. Investor harus kritis melihat apakah ada konflik kepentingan dalam struktur biaya.
Kalau ditarik kesimpulan, Samator Indo Gas memang masih bisa survive karena CFO positif, kas cukup, kovenan utang terpenuhi, dan obligasi berperingkat baik. Tapi dari sisi profitabilitas, kondisinya rapuh sekali. Laba terlalu kecil dibanding aset dan ekuitas. FCF nyaris nol, artinya ruang ekspansi terbatas tanpa tambahan pendanaan eksternal. Beban penjualan yang terus naik tanpa diimbangi kenaikan pendapatan yang sepadan jadi masalah inti. Ditambah lagi beban bunga dan biaya non-operasional yang makin berat.
Potensi survival ada, tapi sustainability laba dipertanyakan. Jika tidak ada reformasi biaya distribusi, efisiensi penjualan, dan pengendalian beban lain, maka tren penurunan akan berlanjut. Perusahaan ini berjalan dengan modal besar tapi laba receh, yang membuatnya terlihat seperti sekadar menjaga operasi tetap hidup tanpa memberi nilai tambah signifikan bagi pemegang saham. Aset memang besar, tetapi kalau tidak bisa diputar menghasilkan keuntungan yang layak, pada akhirnya akan jadi beban, bukan kekuatan.
Investor publik harus melihat ini sebagai sinyal hati-hati. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi membuat keputusan strategis ada di lingkaran keluarga Samator. Jika mereka tidak serius melakukan restrukturisasi biaya, efisiensi distribusi, dan perbaikan strategi penjualan, maka perusahaan akan terus cetak laba kecil. Untuk jangka pendek, kelangsungan hidupnya aman karena kas dan utang terkendali. Namun untuk jangka panjang, nilai investasi tidak menarik jika kondisi ini berlanjut.
Jadi, Samator Indo Gas masih berdiri, masih beroperasi, dan masih punya kas. Tetapi apakah layak disebut perusahaan cetak laba? Jawabannya saat ini lebih condong ke tidak. Mereka butuh strategi baru agar aset Rp8 triliun bisa menghasilkan laba lebih dari sekadar Rp24 miliar setengah tahun. Kalau tidak, perusahaan akan terus jalan, tapi hanya sebagai operator bertahan hidup, bukan pencetak nilai bagi investornya.
Sejarah PT Samator Indo Gas Tbk adalah perjalanan panjang yang merekam evolusi industri gas di Indonesia sekaligus kisah keluarga Harsono yang menjadikannya dinasti bisnis besar. Awalnya, industri gas di Nusantara hadir lewat perusahaan Belanda NV W.A. Hoek Machine en Zuurstof yang mendirikan pabrik oksigen pertama di Jakarta pada 1916. Lalu pada 1924 NV Javasche Koolzuur Fabriek membangun pabrik karbondioksida di Surabaya.
Dua perusahaan ini menjadi tonggak awal industri gas modern di tanah air. Setelah nasionalisasi pada 1958, keduanya berubah status menjadi PN Zatas dan PN Asam Arang, menandai peralihan kontrol ke pemerintah Indonesia. Langkah ini penting karena menjadi fondasi untuk pembangunan perusahaan gas nasional yang lebih kuat.
Tahun 1971 pemerintah melebur PN Zatas dan PN Asam Arang menjadi PT Aneka Gas Industri. Dari sinilah cikal bakal Samator Indo Gas terbentuk. Perusahaan mulai mendiversifikasi produknya dengan membangun pabrik asetilen di Surabaya pada 1975. Periode 1980 sampai 1990 ditandai dengan pembangunan Air Separation Plant di berbagai kota, menggunakan teknologi pemisahan udara modern yang meningkatkan kapasitas oksigen, nitrogen, dan argon. Perusahaan semakin terlihat sebagai pemain penting dalam memasok gas industri untuk sektor kesehatan, manufaktur, dan energi. Di titik ini, Aneka Gas Industri menjadi pionir yang menguasai rantai pasok penting bagi kebutuhan nasional.
Perubahan besar datang pada 1996 ketika investor asing masuk. Messer Griesheim GmbH dari Jerman bersama PT Tira Austenite mengambil bagian sebagai pemegang saham, menjadikan perusahaan berstatus Penanaman Modal Asing. Modernisasi pun berjalan pesat, mulai dari unit hidrogen, karbondioksida, hingga sistem kontrol terpusat DCS yang meningkatkan otomasi pabrik.
Namun situasi berbalik pada 2004 ketika keluarga Harsono mengambil alih saham PT Tira Austenite. Perusahaan kembali berstatus Penanaman Modal Dalam Negeri. Sejak itu ekspansi melesat, dari hanya 11 pabrik pada 2003 melonjak menjadi 41 pabrik pada 2015. Transformasi ini menandai era baru Samator sebagai perusahaan yang bukan hanya besar tapi dominan di pasar gas industri Indonesia.
Tokoh sentral di balik kebangkitan itu adalah Arief Harsono, pendiri Samator yang lahir 18 Juli 1954 di Toli-Toli. Anak pertama dari tujuh bersaudara keluarga pedagang kopra, ia terbiasa membantu ayahnya sejak remaja. Ketika diberi pilihan kuliah atau bekerja, ia memilih bekerja dengan syarat tidak ada keluarga di sekitarnya agar suksesnya murni hasil usaha sendiri.
Dengan modal Rp30.000 ia merintis bisnis kopra di Poso, lalu mendirikan PT Samator pada 22 Juli 1975 dengan pabrik asetilen pertama di Surabaya. Nama Samator diambil dari Samarinda dan Toraja, simbol kota asal dan kota favorit pendirinya. Ia menikah dengan Grace Peradhana Harsono yang dikenal disiplin, melahirkan empat anak yaitu Rachmat, Imelda, Esayuri, dan Fikasuri. Filosofi keluarga mereka sederhana, kaya tapi tidak sombong, disiplin lebih ringan daripada penyesalan, nilai-nilai yang terus diwariskan.
Arief tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga aktif di berbagai organisasi. Ia menjabat Ketua Umum Asosiasi Gas Industri Indonesia dan Ketua Umum PERMABUDHI. Perannya tidak terbatas pada bisnis, tetapi juga membangun jaringan sosial dan keagamaan. Puncak karier bisnisnya terjadi pada 2004 ketika keluarga Harsono mengakuisisi 51% saham PT Aneka Gas Industri dari PT Tira Austenite.
Akuisisi ini mengubah arah perusahaan menjadi PMDN dan memicu ekspansi besar. Sayangnya Arief meninggal pada 2 Juli 2021 akibat COVID-19, meninggalkan warisan bisnis multi triliun dengan lebih dari 3.000 karyawan. Perusahaan yang dirintisnya kini menjadi pemasok lebih dari 50% kebutuhan oksigen nasional.
Setelah wafatnya Arief, tongkat kepemimpinan beralih ke generasi kedua. Rachmat Harsono, lahir 12 Maret 1980, menempuh pendidikan di Marquette University dan Chicago Booth School of Business. Kariernya dimulai sejak 2003 di Aneka Gas Industri, dari posisi operasional wilayah, direktur komersial, hingga kini Direktur Utama Samator Indo Gas. Ia dikenal visioner, terutama saat pandemi ketika berhasil meningkatkan produksi oksigen medis dengan cepat. Prestasinya membuatnya masuk daftar Fortune Indonesia 40 Under 40 dan Asia’s Most Influential Tatler Asia.
Sementara itu, Imelda Harsono menempuh pendidikan di NUS, Edinburgh, UPH, dan Harvard Business School. Ia kini menjadi Wakil Direktur Utama Samator Indo Gas, CEO Aneka Mega Energi, dan pendiri Samudera Biru Internasional yang fokus pada energi terbarukan. Penghargaan demi penghargaan ia raih, termasuk Tatler Top 10 Most Powerful Businesswomen. Pengalaman pribadinya menghadapi stereotip gender tidak menghentikan langkahnya, justru membuatnya semakin kuat sebagai pemimpin perempuan di industri.
Generasi ketiga keluarga Harsono seperti Esayuri dan Fikasuri masih belum banyak terekspos, tetapi sudah jelas dipersiapkan menjadi penerus. Beberapa anggota keluarga besar lain seperti Ledyana Harsono juga aktif di bisnis keluarga. Filosofi Arief dan Grace tetap menjadi pegangan, membentuk identitas keluarga pengusaha yang rendah hati dan disiplin. Transisi kepemimpinan memang mendadak setelah kepergian Arief, tetapi nilai-nilai yang diwariskan membuat generasi kedua mampu mengelola perusahaan besar di tengah krisis. Dari sini terlihat kesinambungan yang menjadi ciri khas dinasti bisnis.
Sementara itu, perusahaan terus bertransformasi menjadi entitas publik. Pada 2016 Samator resmi IPO di Bursa Efek Indonesia, memperkuat modal dan memperluas jaringan. Hingga 2019 jumlah pabrik sudah mencapai 44 dengan 104 filling station tersebar di 26 provinsi. Saat pandemi, jumlahnya naik menjadi 54 pabrik dan 106 filling station di 28 provinsi, membuktikan daya tahan perusahaan. Pada 2022 perusahaan berganti nama menjadi PT Samator Indo Gas Tbk, menegaskan identitasnya.
Tahun 2023 masuklah CVC Asia V sebagai mitra strategis, memperkuat akses teknologi global. Tahun yang sama perusahaan membangun Green Hydrogen Plant di Batam, ASP di Batang, dan pabrik asetilen di Sofifi. Pada 2024 ekspansi berlanjut lewat renovasi filling station di Pekanbaru dan Morowali serta peningkatan kapasitas di berbagai lokasi. Semua langkah ini menunjukkan arah baru perusahaan yang fokus pada keberlanjutan.
Struktur kepemilikan terbaru juga mencerminkan dinamika perusahaan publik yang tetap dikuasai keluarga. Per 30 Juni 2025, PT Samator memegang 35,24% saham, PT Samator Matrix Company 32,45%, PT Aneka Mega Energi 15,00%, Saratoga Investama Sedaya 10,00%, publik 7,28%, sisanya dipegang beberapa individu dengan porsi minimal.
Dibanding 2024, kepemilikan Samator Matrix turun tipis dari 32,55% ke 32,45%, sementara porsi publik naik dari 7,21% menjadi 7,28%. Total saham beredar 3,066 miliar lembar dengan nominal Rp500. Angka ini menunjukkan keluarga Harsono masih menguasai lebih dari 80% lewat berbagai entitas, tetapi investor strategis seperti Saratoga dan CVC sudah ikut mewarnai, membuat Samator menjadi perusahaan keluarga sekaligus pemain pasar terbuka.
Samator adalah kisah perjalanan dari pabrik oksigen kolonial menjadi perusahaan publik multi triliun dengan puluhan pabrik, ribuan karyawan, dan kepemilikan mayoritas tetap di tangan keluarga Harsono. Dari Arief yang memulai dengan Rp30.000 hingga Rachmat dan Imelda yang memimpin di era globalisasi dan energi hijau, cerita ini adalah kombinasi perjuangan pribadi, nilai keluarga, strategi bisnis, dan transformasi menjadi korporasi modern. Kini Samator Indo Gas bukan hanya raksasa gas industri, tetapi juga simbol bagaimana perusahaan keluarga Indonesia bisa bertransformasi menjadi pemain global tanpa kehilangan jati diri.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!