Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightMKTR LK Q2 2025: Perusahaan Sawit Mertua Menteri

MKTR LK Q2 2025: Perusahaan Sawit Mertua Menteri

PT Menthobi Karyatama Raya Tbk atau yang biasa dikenal dengan kode saham MKTR ini sebenarnya masih tergolong pemain baru di bursa. Berdiri pertama kali tahun 2017 dengan nama PT Accinvest Bangun Lestari, lalu bertransformasi lewat IPO pada 31 Oktober 2022, perusahaan ini resmi melantai di BEI per 8 November 2022.

Sejak itu, MKTR mencoba menancapkan identitasnya sebagai perusahaan sawit yang terintegrasi, mulai dari kebun, pabrik pengolahan CPO, turunannya, sampai limbah sawit yang diolah menjadi produk baru. Mereka beroperasi terutama di Kalimantan Tengah dan punya program plasma untuk melibatkan petani lokal agar rantai pasokan bahan baku sawit lebih terjamin. Kantor pusatnya sendiri ada di Jakarta, tapi jantung bisnisnya tetap di daerah.

Kalau kita tengok pemegang sahamnya, struktur kendali MKTR cukup jelas. Fuad Hasan Masyhur, yang juga menjadi Presiden Komisaris, menggenggam 68,97% saham. Entitas miliknya, PT Maktour Bangun Persada, punya tambahan 7,82%. Publik memegang sekitar 22,94%, sisanya tersebar tipis di nama direksi dan komisaris seperti Harry Mohamad Nadir, Wawan Sulistyawan, M Arief Pahlevi Pangerang, Bambang Laksanawan, dan Muhammad Rocky yang porsinya nyaris simbolis. Jadi secara realita, ini perusahaan keluarga yang dominan dikendalikan oleh satu figur. Perusahaan menegaskan tidak ada masalah reputasi ataupun risiko hukum yang bisa menular dari pemegang saham pengendali, karena mereka mengklaim menerapkan prinsip GCG dan keterbukaan.

Kinerja keuangannya di semester I 2025 menunjukkan pertumbuhan. Laba bersih naik jadi Rp13,2 miliar dari Rp7,9 miliar tahun sebelumnya. Gross profit ikut naik ke Rp71,2 miliar dari Rp61,4 miliar, operating profit tembus Rp44,7 miliar dari Rp30,8 miliar, dan laba sebelum pajak mencapai Rp23,9 miliar dari Rp16,7 miliar. EPS naik tipis ke Rp0,11 per saham dari Rp0,07.

Kalau kita bandingkan dengan jumlah saham beredar yang mencapai 12,05 miliar lembar, kenaikan EPS ini terasa kecil sekali, tapi setidaknya arahnya positif. Lebih penting lagi, kenaikan laba tahun ini bukan hasil kejutan one off, karena di tahun 2023 mereka sempat menikmati keuntungan negatif goodwill dari akuisisi anak usaha. Kinerja semester ini benar-benar didorong bisnis inti sawit.

Namun, ketika masuk ke laporan arus kas, ceritanya jadi beda. Net cash flow dari operasi turun drastis ke Rp2,1 miliar dari Rp6,9 miliar di periode sama tahun lalu. Padahal laba naik, tapi uang kas justru seret. Biangnya adalah pembayaran ke pemasok yang naik dari Rp356,4 miliar ke Rp424,2 miliar, ditambah bunga pinjaman yang membengkak dari Rp17,3 miliar jadi Rp22,6 miliar.

Jadi ada mismatch klasik, laba di kertas bagus, tapi kas tidak ngalir. Free cash flow pun negatif Rp8,6 miliar karena belanja capex untuk pembangunan pabrik dan mesin jalan terus. Tahun lalu FCF juga negatif Rp31,1 miliar, jadi ini bukan pertama kali. Perusahaan memang lagi agresif ekspansi, tapi berarti mereka harus mengandalkan utang dan pembiayaan eksternal.

Struktur neraca pun mengonfirmasi arah ini. Total aset per Juni 2025 sebesar Rp1,52 triliun, naik tipis dari Rp1,52 triliun akhir 2024. Liabilitas Rp0,89 triliun, juga naik dari Rp0,89 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas naik dari 0,87 menjadi 1,21. Artinya leverage semakin berat. Untungnya, utang ini dijamin dengan agunan lahan kebun sawit seluas 7.424 hektar, kendaraan, alat berat, sampai deposito. Bank tentu lebih tenang dengan jaminan ini, tapi buat investor justru menambah risiko kalau ekspansi tidak segera menghasilkan arus kas positif.

Kalau bicara produk, segmen terpenting jelas Crude Palm Oil. Semester I 2025, CPO menyumbang Rp442 miliar revenue dan Rp61 miliar gross profit. Palm kernel memberi Rp47,4 miliar revenue dan Rp9,8 miliar gross profit, sementara palm kernel expeller jauh lebih kecil di Rp3,4 miliar revenue. Jadi hampir 80% omzet bergantung ke CPO.

Dari sisi pelanggan, risikonya juga tinggi karena hanya tiga konsumen utama yang menyumbang hampir 90% penjualan, yaitu PT Sinar Alam Permai 57%, PT Citra Borneo Utama 23%, dan PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi 10%. Kalau satu saja mengurangi kontrak, dampaknya signifikan. Sisi pemasok juga mirip, tiga vendor besar menguasai lebih dari 30% pembelian. Jadi konsentrasi ini jadi risiko lain yang harus dipantau.

Belanja modal besar-besaran juga sedang dikerjakan. Ada pembangunan pabrik kernel crushing plant, power plant, dan proyek pupuk organik bersama PT Berlian Inti Mekar. Proyek gedung dan infrastruktur sudah 86% jadi, mesin 93% selesai, dengan target rampung akhir 2025. Semua ini jelas menyedot kas. Pendanaannya banyak lewat fasilitas musyarakah, jadi mereka main juga di jalur pembiayaan syariah. Dari sisi sustainability, mereka punya proyek pengolahan limbah sawit jadi bio pellet, jadi ada usaha menambah nilai dan mengurangi limbah.

Kalau kita tarik ke perspektif valuasi, harga saham MKTR di pasar saat ini Rp107. Untuk investor yang beli di harga itu dan berharap balik modal dari laba, arus kas, FCF, dan dividen dalam 10 tahun, hitungannya berat. Mereka butuh bisa hasilkan rata-rata Rp10,7 per saham per tahun.

EPS sekarang baru sekitar Rp0,22 per tahun kalau disetahunkan, masih jauh sekali. CFO per saham cuma Rp0,00018, FCF malah negatif, dan dividen hanya Rp0,0015 per saham. Jadi gapnya sangat besar. Butuh lonjakan kinerja sekitar 50 kali lipat untuk bisa mencapai break even hanya dari fundamental operasional dan dividen.

Dari semua ini bisa dibilang MKTR memang sedang di fase growth dengan strategi all out ekspansi. Laba ada dan naik, tapi kas seret. Utang naik, bunga juga makin berat, pelanggan terkonsentrasi, dan free cash flow negatif. Positifnya, proyek yang sedang dibangun kalau berhasil bisa mendongkrak kapasitas dan margin ke depan. Negatifnya, kalau harga CPO jatuh atau proyek molor, mereka bisa makin tertekan oleh beban utang. Jadi saham ini lebih cocok dilihat sebagai spekulasi jangka panjang dengan risiko tinggi, bukan pilihan untuk yang cari dividen rutin atau fundamental stabil dalam waktu dekat.

Kalau data terbaru soal status hukum Fuad Hasan Masyhur dimasukkan ke rangkaian analisis sebelumnya, gambarnya makin jelas. Pemilik mayoritas MKTR yang juga bos Maktour ini saat ini bukan tersangka, melainkan masih diperiksa sebagai saksi oleh KPK dalam kasus dugaan korupsi kuota haji 2023–2024.

Ia sudah dicegah bepergian ke luar negeri, tapi pencegahan ini hanya untuk memastikan keterangannya bisa dihadirkan, bukan berarti otomatis tersangka. Jubir KPK sendiri menegaskan bahwa pemeriksaan Fuad untuk mendalami pengetahuannya dalam perkara kuota haji, sementara status hukum resminya masih saksi.

Dari sini terlihat bahwa risiko yang menempel ke MKTR lebih pada dimensi reputasi dan eksposur, bukan langsung risiko pidana terhadap pemilik. Namun, karena Fuad adalah pengendali 69% saham dan sekaligus induknya lewat Maktour, sorotan publik dan regulator ke dirinya otomatis melekat ke MKTR. Apalagi keluarga dekatnya, Menpora Dito Ariotedjo, juga sempat disebut di kasus lain (BTS 4G) meski ia membantah dan tidak ditetapkan tersangka. Jadi, narasinya bukan cuma soal laporan keuangan MKTR yang penuh red flag, tapi juga soal lingkar pemilik yang sedang diawasi publik.

Hasil akhirnya, investor melihat MKTR bukan hanya menghadapi mismatch laba dengan kas, covenant utang dilanggar, DER naik, proyek molor, joint venture merugi, dan konsentrasi pelanggan-vendor yang rawan, tapi juga risiko eksternal berupa pemilik yang sedang dipanggil KPK sebagai saksi dalam kasus besar. Kombinasi finansial lemah dan risiko reputasi ini memperberat persepsi pasar terhadap keberlangsungan MKTR

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here