Telkom adalah sebuah kerajaan bisnis besar dengan 40 anak usaha yang masuk dalam laporan konsolidasi. Dari jumlah itu, 13 anak langsung dan 27 anak tidak langsung. Sebagian besar memang berdomisili di Indonesia, tapi ekspansinya juga sudah merambah luar negeri melalui Telin Singapore, Telin Hong Kong, Telin Malaysia, Telin Australia, Telin USA, NeutraDC Singapore, hingga Telkomcel di Timor Leste.
Dengan cakupan seluas ini, jelas sekali bahwa Telkom tidak lagi bisa dipandang sekadar perusahaan telekomunikasi domestik, melainkan sudah berposisi sebagai pemain regional dengan ambisi global. Dari sisi aset, posisi Telkomsel masih tak tergoyahkan. Nilainya Rp113,87 triliun per Juni 2025, walaupun turun 3,01% dari Rp117,40 triliun di akhir 2024. Penurunan ini kecil, tapi tetap mengindikasikan adanya tekanan.
Meski begitu, Telkomsel tetap menjadi mesin utama grup dengan skala yang jauh lebih besar dari anak usaha lain. Mitratel ada di urutan kedua dengan Rp60,08 triliun, justru tumbuh 3,33% dari Rp58,14 triliun. Lalu ada Metra yang stagnan di Rp17,98 triliun, Telin Rp17,77 triliun naik 3,46%, Telkomsat Rp8,87 triliun, Telkom Data Ekosistem Rp8,73 triliun naik 3,13%, Sigma Rp5,86 triliun yang justru turun 5,56%, GSD Rp5,46 triliun turun 0,51%, Telkom Akses Rp3,91 triliun anjlok 12,74%, dan TIF alias PT Telkom Infrastruktur Indonesia Rp3,66 triliun yang justru mencatat lonjakan 20,04% dalam enam bulan.
TIF yang baru beroperasi sejak 2024 ini langsung tampil menonjol dibanding anak usaha lama yang stagnan atau menurun.Kalau melihat anak usaha tidak langsung, kontribusinya juga signifikan. MDI punya aset Rp9,15 triliun naik tipis 0,44%, Telin Singapore Rp6,46 triliun tumbuh 6,14%, Telin Hong Kong Rp3,66 triliun naik 1,10%, dan Telkom Landmark Tower Rp2,24 triliun tumbuh 5,61%.
Infomedia Rp2,24 triliun naik 1,77%, NeutraDC Singapore Rp2,21 triliun tumbuh 6,20%, Nuon Digital justru meroket 23,69% menjadi Rp1,72 triliun, dan Finnet Rp1,49 triliun naik 7,95%. Ada juga PST Rp1,64 triliun, TDI Rp1,43 triliun, Telkomcel Rp1,09 triliun, Ad Medika Rp0,78 triliun, Digiserve Rp0,43 triliun, hingga Metraplasa yang kecil di Rp0,03 triliun. Dengan pola ini terlihat bahwa ekosistem digital Telkom sedang bergerak cepat, meskipun skalanya belum sebanding dengan Telkomsel.
Kalau dijumlahkan, aset anak usaha sebelum eliminasi mencapai Rp267,01 triliun, lebih rendah dari total aset konsolidasi Rp293,80 triliun. Perbedaan ini wajar karena eliminasi antar entitas dilakukan untuk menghindari perhitungan ganda. Jadi angka konsolidasi adalah gambaran paling murni tentang sumber daya ekonomi grup sebagai satu entitas. Ini juga menegaskan bahwa kekuatan Telkom tidak hanya datang dari satu anak usaha saja, melainkan kombinasi berlapis antara seluler, infrastruktur, dan digital.
Kontribusi revenue semakin menegaskan dominasi Telkomsel. Segmen Mobile menyumbang Rp38,97 triliun pada semester I 2025. Segmen Consumer yang digabung ke Telkomsel lewat IndiHome memberi tambahan Rp13,28 triliun. Segmen Enterprise mencatat Rp10,03 triliun, segmen Wholesale and International Business Rp9,65 triliun, dan segmen lain hanya Rp0,88 triliun.
Di sisi laba, Telkomsel menghasilkan Rp9,58 triliun hanya dalam enam bulan, jauh di atas Mitratel yang Rp1,09 triliun. Perbandingan ini menegaskan bahwa Telkomsel tetap jadi pusat gravitasi grup, baik dari sisi skala bisnis maupun profitabilitas.Pertumbuhan aset justru lebih menarik kalau melihat ke arah digital. Nuon naik 23,69%, TIF 20,04%, Metra-Net 8,87%, Finnet 7,95%, NeutraDC Singapore 6,20%, Telin Singapore 6,14%, TLT 5,61%, Telin 3,46%, Mitratel 3,33%, dan TDE 3,13%.
Pola ini jelas sekali menunjukkan bahwa anak-anak digital dan data center sedang jadi motor baru pertumbuhan Telkom. Sementara itu, bisnis tradisional seperti Telkom Akses justru tertekan turun 12,74% dan Sigma turun 5,56%. Artinya, fondasi lama mulai melemah tapi pondasi baru mulai terbentuk dengan kecepatan tinggi.Di sinilah muncul cerita penting soal TIF. Dalam laporan keuangan per Juni 2025, TIF tercatat dengan aset Rp3,66 triliun.
Namun hanya sebulan setelahnya, tepatnya 11 Agustus 2025, muncul berita CNBC Indonesia yang mengumumkan spin-off bisnis kabel Telkom dengan brand baru bernama Infranexia. CFO Telkom menyebut bahwa Infranexia akan menerima transfer aset senilai Rp150 triliun pada fase pertama di akhir 2025. Jadi, klaim bahwa TIF adalah Infranexia bisa dibenarkan.
Nama Infranexia belum muncul di laporan Juni karena cut-off laporan sudah selesai, sementara spin-off baru diumumkan setelahnya. Secara hukum dan akuntansi, di semester I 2025 yang tercatat masih TIF dengan aset Rp3,66 triliun. Angka Rp150 triliun baru akan terlihat setelah transfer aset besar-besaran dilakukan. Ini menjelaskan kenapa angka laporan dan klaim di berita berbeda jauh, karena memang berbeda periode dan tahapannya.
Dengan perbandingan waktu ini jelas terlihat bahwa laporan keuangan per Juni 2025 menggambarkan kondisi lama, sementara berita Agustus 2025 memaparkan rencana transformasi dengan skala yang jauh lebih besar. Kalau benar aset Rp150 triliun masuk ke Infranexia, maka posisinya akan langsung lompat kelas, bisa sejajar dengan Mitratel bahkan mendekati Telkomsel. Artinya, struktur kekuatan Telkom bisa berubah signifikan hanya dalam hitungan bulan.
Untuk saat ini anak usaha Telkom yang paling penting adalah Telkomsel karena dia masih tetap jadi pilar utama dengan revenue, laba, dan aset yang mendominasi. Mitratel jadi penopang penting melalui bisnis tower. Tapi bibit pertumbuhan baru jelas terlihat pada anak-anak digital seperti Nuon, NeutraDC, Finnet, dan terutama TIF yang berevolusi menjadi Infranexia.
Kalau realisasi spin-off ini berjalan sesuai rencana, Infranexia bisa jadi game changer yang mengubah peta kekuatan anak usaha Telkom. Telkom yang selama ini identik dengan seluler perlahan akan berubah menjadi holding digital-infrastruktur dengan fondasi kabel, data center, dan layanan global yang lebih kokoh. Struktur semacam ini membuat Telkom tidak hanya bertahan di tengah melambatnya bisnis tradisional, tapi juga siap mengambil momentum besar di era transformasi digital.
Kalau bicara mekanisme spin-off Infranexia, rutenya hampir pasti mengikuti aturan main yang sudah jelas di UU Perseroan Terbatas, POJK, dan ketentuan BEI. Skemanya kira-kira seperti ini.Pertama, Telkom sebagai induk akan melakukan pemisahan sebagian aset dan usaha berupa jaringan kabel fiber dan data center dari neraca konsolidasi.
Aset itu kemudian ditaruh ke entitas anak yang sudah ada yaitu PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) lalu di-rebranding menjadi Infranexia. Pemindahan dilakukan berdasarkan valuasi independen dan fairness opinion, agar harga transfer dianggap wajar. Setelah pemindahan, Infranexia akan berdiri sebagai entitas yang lebih besar dengan aset sekitar Rp150 triliun, setara hampir dua setengah kali Mitratel saat ini.
Bagi pemegang saham Telkom (TLKM), termasuk investor minoritas, posisinya relatif aman. Karena Infranexia tetap jadi anak usaha yang dimiliki Telkom, mereka ikut memiliki Infranexia secara tidak langsung. Kalau Infranexia nantinya IPO, Telkom akan menerima dana segar dari penjualan saham, yang pada akhirnya bisa digunakan untuk menurunkan utang, memperbesar dividen, atau investasi lain.
Jadi keuntungan buat pemegang saham TLKM datang dari peningkatan nilai aset konsolidasi maupun dari potensi distribusi hasil IPO. Kalau ada investor TLKM yang tidak setuju di RUPS, mereka bisa menggunakan hak appraisal, yaitu menjual sahamnya ke Telkom dengan harga wajar menurut penilai independen. Artinya, mereka punya jalur keluar kalau merasa spin-off merugikan.
Bagi pemegang saham Mitratel (MTEL), situasinya lebih rumit. Mitratel memang fokus ke bisnis tower, tapi belakangan juga punya aset kabel fiber optik untuk melengkapi layanan. Kalau aset kabel Mitratel dipindahkan ke Infranexia, maka otomatis aset Mitratel akan berkurang. Investor minoritas Mitratel bisa merasa rugi kalau tidak ada kompensasi yang setara. Opsi yang biasanya dipakai adalah Mitratel menerima pembayaran tunai dari Telkom atau Infranexia, atau bahkan tukar saham kalau Telkom ingin membuat Mitratel ikut memiliki sebagian Infranexia. Semua mekanisme itu harus disertai fairness opinion agar tidak merugikan minoritas.
Kalau pemegang saham minoritas Mitratel setuju, maka mereka menerima skema kompensasi dan Mitratel jadi perusahaan tower murni tanpa kabel, yang bisa jadi justru lebih fokus dan lebih mudah dibandingkan dengan pemain global lain. Kalau tidak setuju, mereka juga berhak pakai appraisal right, menjual saham mereka kembali ke Mitratel dengan harga wajar. Inilah jalur hukum yang disiapkan agar minoritas terlindungi.
Jadi ringkasnya, investor minoritas TLKM akan tetap punya bagian di Infranexia secara tidak langsung, dengan potensi upside besar kalau IPO benar-benar jalan. Investor minoritas Mitratel bisa kehilangan sebagian aset kalau kabel dipindahkan, tapi mekanisme regulasi mengharuskan ada kompensasi yang fair. Kalau setuju, mereka ikut perubahan struktur dan mendapat nilai pengganti. Kalau tidak setuju, appraisal right memberi kesempatan keluar dengan harga wajar.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!