Sunday, April 19, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightVICO LK Q2 2025: Laba Besar Karena Jual Bank Syariah ke BBTN

VICO LK Q2 2025: Laba Besar Karena Jual Bank Syariah ke BBTN

Perjalanan VICO dimulai dari sebuah firma bernama PT Tata Sekuritas Maju yang lahir 26 Oktober 1989. Bertahun kemudian perusahaan ini benar-benar memasuki lintasan operasional pada 28 Mei 2012 sebagai pemain jasa konsultasi bisnis, manajemen, administrasi, sekaligus investor yang menempatkan modal di area pasar modal dan non pasar modal. Momentum besar hadir 26 Juni 2013 ketika pernyataan efektif OJK untuk penawaran umum perdana turun tangan.

Sebanyak 1,2 miliar saham ditawarkan di Rp125 per saham dan resmi tercatat 8 Juli 2013. Seiring itu 2,1 miliar Waran Seri I dibagikan cuma-cuma sebagai bumbu likuiditas. Kendali perusahaan hari ini berada pada Suzanna Tanojo sebagai pemegang saham pengendali per 30 Juni 2025 dan 31 Desember 2024. Tubuh organisasi di induk sengaja dibuat ramping hanya 10 orang.

Operasi sehari-hari banyak dijalankan oleh entitas anak yang total karyawannya sekitar 800 orang. Untuk pelaporan, VICO patuh pada SAK Indonesia yang mencakup PSAK dan ISAK, basis akrual untuk laporan utama, metode langsung untuk arus kas. Standar baru PSAK 117 Kontrak Asuransi berlaku 1 Januari 2025 sehingga dampaknya mulai dirasakan dalam periode berjalan dan seterusnya.

Ekosistem VICO bekerja seperti pabrik nilai yang memulai dari hulu lalu mengalir ke hilir. Di hulu ada PT Bank Victoria International Tbk yang beroperasi sejak 1994 dengan porsi kepemilikan 58,25% per Juni 2025. Sumber dayanya berasal dari simpanan nasabah berupa giro, tabungan, deposito, serta NCD.

Dana murah dan dana berjangka ini menjadi bahan bakar untuk disalurkan ke kredit pihak ketiga maupun pihak berelasi. Dari sana arus nilai mengalir ke hilir melalui lini pasar modal dan asuransi. PT Victoria Sekuritas Indonesia menangkap pendapatan dari perantara perdagangan efek dan penjaminan emisi. PT Victoria Manajemen Investasi mengelola berbagai reksa dana dari campuran sampai syariah yang menghasilkan fee berbasis AUM.

PT Victoria Alife Indonesia menggarap asuransi jiwa sejak 2017 dengan kepemilikan 99,33% yang berarti premi neto menjadi pemasukan dan liabilitas kontrak asuransi beserta reasuransi menjadi kewajiban yang harus ditata hati-hati. Tahun 2025 menjadi babak kurasi portofolio. PT Bank Victoria Syariah dilepas ke PT Bank Tabungan Negara pada 5 Juni 2025 dengan nilai transaksi Rp1,63 Triliun dan menghasilkan gain yang besar. PT Sumber Daya Sakti juga dilepas 19 Juni 2025 dengan nilai transaksi Rp50 ribu. Dua langkah ini membuat kas menebal, akun khas syariah seperti dana syirkah temporer hilang dari konsolidasi, dan sebagian aset produktif yang sebelumnya menempel di BVIS pun berpindah tangan.

Total pendapatan usaha mencapai Rp620,30 Miliar naik 25,62% dibanding Rp493,81 Miliar pada 2024. Namun isi keranjang berubah cukup tajam. Pendapatan bunga dan syariah neto turun 18,05% ke Rp272,21 Miliar yang berarti mesin inti perbankan sedang tertekan. Pendapatan jasa asuransi neto naik 61,17% ke Rp17,12 Miliar yang memberi warna positif dari lini proteksi. Pendapatan hasil investasi turun 39,03% ke Rp12,10 Miliar. Satu pos yang berlari kencang adalah pendapatan operasional lainnya yang melonjak 159,77% ke Rp306,07 Miliar dan termasuk penerimaan kredit yang telah dihapus buku.

Beban usaha hanya naik 3,49% ke Rp282,38 Miliar sehingga laba usaha terdongkrak 52,94% ke Rp337,93 Miliar. Perubahan paling dramatis muncul pada pendapatan atau beban lain-lain neto yang berputar arah menjadi besar positif karena ada keuntungan pelepasan entitas anak sebesar Rp441,90 Miliar. Di sisi kehati-hatian, cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan naik 126,69% ke Rp171,50 Miliar. Akhirnya laba sebelum pajak mencapai Rp608,00 Miliar naik 427,21%.

Beban pajak Rp129,03 Miliar. Laba neto tahun berjalan Rp478,97 Miliar terbang 470,66%. Total laba komprehensif Rp587,98 Miliar. Laba per saham dasar 27,99 dibanding 2,80 setahun sebelumnya. Lonjakan laba ini jelas ditopang kejadian satu kali yang tidak bisa menjadi sumber berulang.Total aset per 30 Juni 2025 sebesar Rp33,95 Triliun turun 2,28% dari Rp34,74 Triliun per 31 Desember 2024. Kas dan setara kas melonjak 128,15% ke Rp4,29 Triliun. Investasi pihak ketiga turun 21,79% ke Rp7,33 Triliun.

Pinjaman diberikan pembiayaan dan piutang syariah neto turun 4,96% ke Rp20,46 Triliun. Total liabilitas relatif datar di Rp28,32 Triliun. Simpanan nasabah pihak ketiga menyusut 2,16% ke Rp22,19 Triliun. Efek-efek yang diterbitkan naik 5,97% ke Rp2,43 Triliun. Dana syirkah temporer yang semula Rp1,34 Triliun hilang dari konsolidasi seiring pelepasan BVIS. Total ekuitas menguat 10,04% ke Rp5,63 Triliun. Saldo laba belum ditentukan penggunaannya naik 45,52% ke Rp1,41 Triliun. Dampaknya kas bertambah, aset syariah keluar, ekuitas naik karena gain, dan portofolio kredit sedikit menyusut.

Arus kas dari aktivitas operasi negatif Rp419,79 Miliar namun membaik 62,11% dari negatif Rp1,11 Triliun setahun sebelumnya. Pengurangan pinjaman yang diberikan memberi kas masuk, sementara penurunan simpanan nasabah serta hilangnya dana syirkah temporer menjadi arus keluar besar.

Aktivitas investasi memberi arus masuk Rp2,80 Triliun berkat pelepasan entitas anak Rp441,90 Miliar dan pencairan investasi Rp2,13 Triliun. Aktivitas pendanaan memberi tambahan Rp29,87 Miliar. Kas naik Rp2,41 Triliun. Capex sekitar Rp11,67 Juta. FCF masih negatif sekitar Rp431 Miliar sehingga mesin inti belum menghasilkan kas bebas yang stabil.

Risiko likuiditas jangka pendek membaik berkat kas besar. Profil jatuh tempo liabilitas banyak di bawah satu tahun sehingga manajemen kas harian krusial. Risiko pasar dikelola melalui ALCO di bank dan kerangka terpisah di non bank. Risiko kredit ditangani lewat limit, pemantauan piutang, dan agunan. NPL bruto turun dari 3,27% ke 2,40%, NPL neto turun dari 2,36% ke 1,78%. KPMM BVIC di 2024 jauh di atas minimum 8%, modal entitas sekuritas dan manajer investasi juga aman. Transaksi pihak berelasi cukup intens dan harus terus dijaga transparansi serta kewajaran pasarnya.

Laba melonjak karena gain divestasi dan pendapatan non rutin. Neraca lebih cair, ekuitas naik, kualitas aset membaik, tapi pendapatan bunga turun dan CFO masih negatif. VICO punya kas besar yang jika digunakan bijak bisa memperkuat mesin inti. Tapi jika dibiarkan, momentum ini hanya akan jadi kilatan sesaat.

Kalau kita hitung valuasi VICO dengan asumsi harga pasar Rp125 per saham, gambarnya memang bikin penasaran. Jumlah saham beredar ada 15,22 miliar lembar, artinya kapitalisasi pasar hipotesisnya di kisaran Rp1,90 Triliun. Kalau dilihat dari laba bersih semester pertama 2025 yang porsi pemilik induk mencapai Rp425,87 Miliar, lalu kita annualisasi jadi Rp851,74 Miliar, keluar angka EPS sekitar Rp55,97 per saham.

Dengan harga Rp125, PER-nya cuma 2,23x. Di atas kertas ini sangat murah, tapi jangan lupa, lonjakan laba ini sebagian besar datang dari keuntungan sekali saja karena pelepasan entitas anak. Kalau kita bersihkan efek non rutin ini, PER 2025 naik jadi sekitar 4,27x. Masih murah, tapi jelas berbeda rasa kalau sumbernya dari laba inti murni.

Dari sisi ekuitas, VICO punya nilai buku per saham sekitar Rp244,98 dan nilai buku berwujud sekitar Rp243,16. Kalau dibanding harga Rp125, PBV dan PTBV-nya ada di kisaran 0,51x. Ini berarti saham diperdagangkan jauh di bawah nilai bukunya, sesuatu yang biasanya bikin value investor gatal masuk. Tapi pasar juga bisa menilai rendah karena ada keraguan apakah aset tersebut bisa menghasilkan laba yang konsisten.

Kalau bicara penjualan, pendapatan operasi tahunan hasil annualisasi sekitar Rp0,96 Triliun, memberi rasio Price to Sales di 1,97x. Bahkan kalau kita pakai enterprise value, yang cuma Rp0,53 Triliun setelah disesuaikan kas dan utang, EV/Sales cuma 0,55x, EV/EBIT 0,46x, dan EV/EBITDA 0,45x. Semua terlihat diskon untuk ukuran grup jasa keuangan.

Masalahnya ada di arus kas. CFO setahun penuh yang diannualisasi masih negatif Rp0,84 Triliun, dan free cash flow juga minus sekitar Rp0,86 Triliun meskipun capex cuma Rp0,02 Triliun. Artinya, walaupun laba akuntansi tinggi, bisnis inti masih menguras kas. Rasio P/CFO dan P/FCF otomatis jadi negatif, yang buat banyak investor adalah sinyal waspada.

Murahnya PER atau PBV jadi kurang berarti kalau uang dari operasi tidak masuk ke kas.Dari sudut pertumbuhan, secara matematis laba 2025 naik hampir 900% dibanding 2024, bikin PEG ratio cuma 0,25x. Namun karena pertumbuhan ini disumbang keuntungan sekali lewat, angka ini bisa menyesatkan kalau dibaca mentah-mentah.

Jadi, dengan harga Rp125, VICO terlihat murah di hampir semua rasio berbasis laba dan aset, plus EV yang kecil membuat valuasi relatif ringan dibanding ukuran bisnisnya. Tapi kualitas murahnya masih harus dibuktikan lewat pembalikan arus kas operasi menjadi positif, pertumbuhan pendapatan bunga dan jasa yang stabil, serta laba yang berasal dari aktivitas inti, bukan dari penjualan aset. Kalau itu bisa dicapai, kombinasi PBV rendah, EV kecil, dan potensi perbaikan fundamental bisa membuat valuasi ini naik kelas. Kalau tidak, murah di sini bisa jadi jebakan yang membuat harga rendah bertahan lama.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.

PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments