Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightBJBR LK Q2 2025: Laba Tahun Berjalan Nyungsep vs Laba Komprehensif Naik

BJBR LK Q2 2025: Laba Tahun Berjalan Nyungsep vs Laba Komprehensif Naik

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk atau yang lebih dikenal sebagai bank bjb lahir dari proses nasionalisasi N.V. Denis (De Eerste Nederlandsche Indische Shareholding) milik Belanda pada 1960 yang kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bank ini mulai beroperasi secara komersial pada 20 Mei 1961 dan sejak awal memang ditujukan sebagai lembaga keuangan daerah yang menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan kembali ke sektor produktif.

Anggaran dasarnya sudah beberapa kali diubah, terakhir tercatat melalui Akta Notaris No. 12 tanggal 2 April 2024 dan diberitahukan ke Kemenkumham pada 19 April 2024, serta ada perubahan susunan manajemen melalui Akta Notaris No. 43 tanggal 16 April 2025. Pemegang saham pengendali tetap dipegang oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Aktivitas utama bank bjb meliputi menghimpun dana dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat deposito, menyalurkan kredit, menempatkan dana pada BI dan bank lain, meminjam dan meminjamkan dana antar bank, hingga melakukan penyertaan modal di sektor jasa keuangan lain atau mendirikan entitas baru. Saat ini bank bjb membawahi beberapa anak usaha strategis. PT Bank Jabar Banten Syariah atau BJBS berdiri tahun 2010 sebagai hasil spin off dari Unit Usaha Syariah bjb, mayoritas sahamnya 99,24% dimiliki langsung oleh induk, dengan 10 kantor cabang, 54 cabang pembantu, 3 kantor kas, dan 25 kantor fungsional, mempekerjakan 1.259 orang.

Total aset BJBS per Juni 2025 mencapai Rp15,36 triliun dengan pendapatan margin dan bagi hasil Rp565,76 miliar, turun dari Rp1,07 triliun di 2024. PT BJB Sekuritas Jawa Barat berdiri tahun 2020 dan mulai beroperasi September 2021 sebagai Perusahaan Efek Daerah dengan kerja sama bersama PT Mandiri Sekuritas. Asetnya per Juni 2025 sebesar Rp30,40 miliar dengan pendapatan usaha Rp872 juta, jauh lebih rendah dari Rp3,12 miliar pada 2024. PT BPR Intan Jabar yang diakuisisi dari PD BPR LPK Garut Kota tahun 2012 dimiliki 10,92% namun bank bjb menjadi pemegang saham pengendali.

Selain itu ada dua bank daerah baru yang diintegrasikan lewat skema Kelompok Usaha Bank atau KUB, yakni Bank Bengkulu (15,54% saham, aset Rp10,08 triliun, pendapatan Rp444,96 miliar) dan Bank Jambi (7,75% saham, aset Rp13,92 triliun, pendapatan Rp610,78 miliar). Meski kepemilikan minoritas, bjb menguasai kebijakan strategis melalui perjanjian dengan pemegang saham pengendali masing-masing bank.

Laporan keuangan konsolidasian per Juni 2025 mencatat total aset Rp215,92 triliun, turun 1,84% dari akhir 2024. Kredit konvensional turun 2,28% menjadi Rp132,96 triliun atau 60,24% dari total aset, sedangkan pembiayaan syariah naik 4,52% menjadi Rp10,99 triliun atau 5,09% dari aset. Jika digabung, total kredit dan pembiayaan neto turun 1,79% menjadi Rp141,07 triliun.

Giro di BI anjlok 56,96% menjadi Rp3,78 triliun, sementara penempatan di BI dan bank lain melonjak 101,19% menjadi Rp13,49 triliun atau 6,25% dari aset. Surat berharga neto Rp41,79 triliun atau 19,35% dari aset turun 2,88%, dan aset tetap turun tipis 1,26% menjadi Rp5,25 triliun.

Liabilitas terbesar masih dari DPK dan deposito syariah yang totalnya Rp78,77 triliun atau 36,48% dari total liabilitas, dana syirkah temporer, dan ekuitas, turun 5,74% dibanding akhir 2024. Pinjaman naik 11,02% menjadi Rp23,90 triliun, dana syirkah temporer naik 19,48% menjadi Rp8,27 triliun, sementara dana dari bank lain turun tajam 58,42% menjadi Rp1,42 triliun.

Ekuitas menurun 3,42% menjadi Rp19,65 triliun dengan porsi ekuitas induk Rp16,42 triliun. Pos keuntungan atau kerugian belum terealisasi dari aset keuangan FVOCI yang di akhir 2024 rugi Rp422,19 miliar berbalik menjadi laba Rp303,88 miliar di Juni 2025.

Pendapatan bunga dan syariah tumbuh 9,32% menjadi Rp8,48 triliun, dengan bunga kredit berkontribusi 92,49% dan pendapatan syariah melonjak 25,86%. Komisi syariah naik signifikan 122,40%. Namun beban bunga dan bagi hasil syariah juga naik 8,88% menjadi Rp4,87 triliun, beban administrasi naik 16,02% menjadi Rp1,49 triliun, gaji naik 12,89% menjadi Rp1,58 triliun, dan CKPN melonjak 52,34% menjadi Rp454,94 miliar.

Laba sebelum pajak turun 8,04% menjadi Rp856,20 miliar, laba tahun berjalan turun 7,76% menjadi Rp712,07 miliar, dan laba induk tergerus 32,09% menjadi Rp492,94 miliar. Laba komprehensif justru melonjak 153,84% menjadi Rp1,45 triliun, utamanya karena keuntungan belum terealisasi FVOCI Rp726,07 miliar dan pengukuran kembali program imbalan pasti Rp11,76 miliar. Perbedaan besar ini menegaskan bahwa laba komprehensif lebih dipengaruhi OCI, sementara laba induk mencerminkan profitabilitas operasional murni.

Kualitas aset memburuk. NPL bruto konvensional naik dari 2,16% ke 2,53% dengan kredit macet naik dari Rp1,15 triliun ke Rp1,63 triliun. NPL syariah naik ke Rp393,42 miliar atau 3,51% dari total pembiayaan. Coverage ratio turun untuk konvensional dari 55,64% ke 54,29% dan syariah dari 53,16% ke 43,98%.

CKPN kredit naik ke Rp2,89 triliun, CKPN surat berharga naik ke Rp12,72 miliar, CKPN komitmen dan kontinjensi naik ke Rp18,52 miliar, sementara CKPN penempatan di BI dan bank lain sedikit turun ke Rp2,33 miliar dan CKPN pembiayaan syariah turun ke Rp225,79 miliar. Produk kredit didominasi segmen konsumtif ASN dan pensiunan seperti Kredit Guna Bhakti, Pra Purna Bhakti, dan Purna Bhakti dengan bunga rupiah rata-rata 11,69%.

DPK per Juni 2025 Rp145,76 triliun, terdiri dari tabungan pihak ketiga Rp36,92 triliun, giro Rp14,16 triliun, deposito Rp72,69 triliun, dan deposito syariah Rp8,19 triliun. Bunga deposito rupiah rata-rata 3,57% dan bisa sampai 7,10% untuk nasabah institusi. LDR di 98,91% membaik dari 101,83%, memberi ruang likuiditas yang lebih lega. Bank juga punya kredit sindikasi Rp3,89 triliun, channeling ke BPD SulutGo Rp3,62 miliar dan BPD Sulteng Rp609 juta, serta produk digital bjb KGB Pisan dengan portofolio Rp79 miliar dari 5.123 akun.

Di luar operasional, ada beban dari sengketa pajak yang belum selesai. SKPKB 2018 sebesar Rp192,10 miliar, SKPKB 2022 sebesar Rp125,65 miliar, dan SP2DK 2021 Rp5,31 miliar masih dalam proses audit dan banding. Beban pajak bersih semester I 2025 Rp144,12 miliar sedikit turun dari tahun sebelumnya. Arus kas operasional berbalik negatif Rp2,21 triliun dari positif Rp7,40 triliun di semester I 2024. Arus kas investasi positif Rp1,47 triliun dari pencairan efek dan minim belanja aset, arus kas pendanaan surplus Rp2,37 triliun dari pinjaman baru.

Model bisnis bank bjb bertumpu pada dana murah dari ASN dan pemda, penyaluran kredit konsumtif dengan potong gaji, serta pembiayaan sektor publik dan ritel. Vendor strategis ada di sisi teknologi dan jasa keuangan, sedangkan pelanggan utama adalah individu dan instansi pemerintah daerah. Transaksi pihak berelasi terjadi pada simpanan, pinjaman, dan kerja sama produk.

Kelebihannya ada pada basis dana murah yang stabil, jaringan luas di Jawa Barat dan Banten, margin bunga bersih positif, tambahan skala lewat akuisisi KUB, dan laba komprehensif yang melonjak berkat OCI. Kekurangannya meliputi kenaikan NPL, CKPN membengkak, beban operasional tinggi, laba induk turun, arus kas operasional negatif, sengketa pajak, dan kompleksitas integrasi KUB.

Jika kekurangan ini bisa ditekan, NPL kembali di bawah 2%, CKPN terkendali, beban operasional efisien, dan sengketa pajak selesai, profitabilitas dan valuasi bisa membaik. Jika tidak, margin akan tertekan, cadangan naik, dan valuasi pasar bisa terkoreksi. Potensi maksimal bank bjb ada pada sinergi KUB yang nyata, perbaikan kualitas aset, efisiensi biaya, dan optimalisasi portofolio FVOCI. Tanpa itu, peluang tumbuh akan terhambat dan risiko penurunan kinerja akan lebih besar dibanding peluang naiknya.

Kalau harga saham bank bjb di Rp785, dengan EPS semester I 2025 sebesar Rp46,85, PER tahunan (annualized) kira-kira di level 8,38 kali, sedangkan kalau pakai EPS semester I 2024 Rp68,99 maka PER-nya cuma 5,69 kali. Ini artinya valuasi harga sekarang sebenarnya masih masuk akal kalau laba setahun penuh bisa sesuai ekspektasi, tapi jelas ada penurunan kinerja dari tahun lalu.

Sayangnya, data ekuitas induk per saham lengkapnya tidak tersedia di sumber, jadi PBV-nya belum bisa dihitung secara presisi, meskipun secara kasar valuasi pasar saat ini berada di kisaran Rp8,26 triliun (10,52 miliar lembar saham × Rp785).Kalau dilihat dari sisi pertumbuhan, EPS turun 32,10% year on year di semester pertama, jadi kalau mau dihitung PEG hasilnya negatif.

PEG negatif ini memberi sinyal bahwa pertumbuhan laba sedang mundur, sehingga harga saham saat ini dibayar lebih mahal relatif terhadap penurunan kinerjanya. Bagi investor, ini harus menjadi perhatian karena valuasi murah dalam angka PER belum tentu menarik kalau tren labanya menurun.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp8,26 triliun, bank bjb masih termasuk bank daerah besar, tapi untuk membuat valuasi ini menarik lagi dibutuhkan perbaikan laba di semester II, stabilisasi NPL, dan efisiensi beban. Kalau target itu tercapai, PER bisa semakin rendah dan sahamnya terlihat murah. Kalau tidak, valuasi sekarang bisa cepat jadi mahal karena kinerja yang menurun tidak diimbangi harga yang terkoreksi

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.

PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here