Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightBBKP LK Q2 2025: Laba Sudah Kembali, Tapi Apa Sudah Sehat?

BBKP LK Q2 2025: Laba Sudah Kembali, Tapi Apa Sudah Sehat?

PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) adalah contoh bank Indonesia yang sedang berjuang menata kembali dirinya setelah krisis panjang. Bank ini awalnya berdiri sebagai Bank Umum Koperasi Indonesia (Bukopin) yang melayani segmen koperasi dan UMKM sejak 1970an kemudian listing di BEI tahun 2006. Namun setelah krisis NPL yang dalam dan kepercayaan pasar yang luntur Bukopin diambil alih oleh KB Kookmin Bank dari Korea Selatan.

Masuknya KB Kookmin sebagai pemegang saham pengendali membawa nafas baru baik dari sisi permodalan tata kelola teknologi sampai branding yang kini berubah menjadi KB Bank. Per Juni 2025 total asetnya Rp83,63 Triliun dengan total ekuitas Rp8,37 Triliun dan laba bersih Rp389,67 Miliar selama semester I. Namun seperti bank lain yang baru sembuh dari penyakit kronis cerita KB Bank tidak semulus branding barunya.

Model bisnis KB Bank masih klasik. Mereka menghimpun dana dari nasabah melalui giro tabungan dan deposito. Sayangnya struktur dana mereka tidak ideal. Dari total DPK sebesar Rp64,05 Triliun sekitar Rp47,28 Triliun atau 74% berasal dari deposito berjangka yang mahal. Sementara dana murah giro dan tabungan hanya sekitar Rp16,77 Triliun. Ini bikin cost of fund mereka tinggi sekitar 6%.

Di sisi penyaluran dana kredit bruto yang diberikan mencapai Rp41,73 Triliun tapi setelah CKPN sebesar Rp4,41 Triliun kredit netonya jadi Rp37,31 Triliun. Namun kualitas kreditnya belum kinclong. NPL gross masih Rp4,76 Triliun atau sekitar 11,40% dan cadangan CKPN baru Rp1,88 Triliun sehingga coverage ratio hanya 39,50% jauh dari ideal 70% ke atas. Artinya kalau ada gelombang gagal bayar buffer cadangan mereka bisa jebol.

Pelanggan utama bank ini masih korporasi UMKM dan segmen retail kelas menengah. Tapi dalam banyak aspek KB Bank masih sangat tergantung pada pihak berelasi. Dari total aset Rp83,63 Triliun sekitar Rp3,10 Triliun atau 3,86% terkait dengan pihak berelasi. Dari sisi liabilitas pihak berelasi menyumbang Rp3,91 Triliun atau 5,20%. Ini termasuk giro simpanan bank lain dan pinjaman yang berasal dari grup.

Contoh ekstremnya 51% dari simpanan antarbank berasal dari pihak berelasi dan 19,50% dari pinjaman yang diterima juga dari mereka. Sisi positifnya grup memberikan back-up likuiditas. Tapi sisi buruknya bank jadi agak disusui dan bisa jadi tidak benar-benar mandiri. Untungnya pendapatan bunga dan beban bunga masih seimbang dan tidak ada indikasi eksploitasi melalui transfer pricing. Jadi secara langsung ke laba belum terlalu berbahaya tapi ketergantungan ini tetap jadi PR jangka menengah.

Kalau mau dibagi sederhana kelebihan KB Bank adalah modal kuat induk usaha yang kredibel dan kemampuan mencetak laba kembali setelah tahun-tahun berdarah. CAR 16,68% CET-1 14,60% dan ROE tahunan 9,54% itu bukan angka kecil. Mereka juga berhasil membalik beban CKPN di 2025 menjadi pemulihan reversal sebesar Rp8,42 Miliar yang sangat menolong laba. Tapi kekurangannya juga nyata.

Margin bunga menurun drastis. NIM tahun ini hanya 1,83% turun dari 3% lebih tahun lalu BOPO masih di atas 100% dan laba operasional bahkan negatif Rp57,25 Miliar. Laba bersih baru muncul karena pendapatan non-operasional yang besar sekitar Rp563,21 Miliar. Artinya secara fundamental operasi bank ini belum sehat. Kalau pendapatan non-operasional hilang atau menyusut langsung rugi.

Yang lebih bikin cemas arus kas operasi CFO semester I negatif Rp1,60 Triliun. Ini karena mereka ekspansi kredit dan penurunan DPK yang cukup tajam. Free cash flow FCF juga negatif Rp1,78 Triliun karena masih ada capex meski kecil. Tapi mereka bisa survive karena menjual surat berharga FVOCI turun drastis dari Rp5,03 Triliun ke Rp472,00 Miliar dan menarik pinjaman. Jadi kalau mau jujur kenaikan kas bukan dari hasil operasional tapi dari aksi portofolio dan pendanaan.

Sebagai investor harapannya KB Bank bisa benar-benar sembuh. Artinya NPL turun CKPN naik NIM menguat CASA tumbuh dan efisiensi biaya membaik. Kalau ini semua terwujud bank ini bisa kembali jadi pemain papan tengah yang profitable. Dan dengan dukungan grup Korea mereka punya potensi sinergi dengan korporasi Korea seperti Hyundai LG dan startup Korea yang ekspansi ke Indonesia. Hidden gem-nya justru ada di potensi kemitraan strategis jangka panjang dan peluang sinergi lintas sektor.

Tapi kalau semua harapan itu tidak terwujud potensi value trap-nya besar. Bank akan terus bergantung pada grup rugi terselubung dioper melalui non-operasional dan investor publik cuma numpang euforia branding KB tanpa substansi. Bahkan lebih buruk kalau suku bunga tinggi bertahan dan repo tidak bisa diperpanjang struktur pendanaan jangka pendek yang besar bisa memukul likuiditas mereka.

Valuasi saat ini tidak bisa dianggap murah atau mahal tanpa melihat risiko yang dibawa. PER tidak bisa dihitung dengan stabil karena laba masih fluktuatif. PBV saat ini relatif tinggi bila dibandingkan kualitas laba dan struktur biaya. Valuasi idealnya ada di PBV 0,70 sampai 0,80 kali dengan syarat NIM tembus di atas 3% ROE sustain di atas 10% dan CKPN coverage di atas 70%. Kalau syarat ini tidak tercapai valuasinya akan koreksi dan pasar akan kembali menghukum. Tapi kalau syaratnya terpenuhi saham ini bisa jadi turnaround story terbaik di sektor perbankan second tier Indonesia.

Jadi KB Bank bukan bank murahan tapi juga belum layak disetarakan dengan bank elite seperti BBCA atau BNGA. Mereka masih dalam masa terapi intensif. Kalau investor siap sabar bisa jadi ini kesempatan. Tapi kalau cari dividen margin tinggi dan growth cepat sebaiknya tunggu sampai bank ini benar-benar lulus dari masa rehabilitasi.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.

PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here