Istilah keren nya, beli rumah harga 100 rupiah tapi dalam rumah itu ada lemari yang di dalamnya ada kas 200 rupiah. Analogi ini hanya berlaku kalau duit dalam lemari itu bisa dipakai investor dalam bentuk dividen. Kalau ndak bisa dipakai jadi dividen maka itu namanya duit pajangan aja. Boleh dilihat, tidak boleh dipake.
Dalam dunia pasar modal, istilah enterprise value negatif seringkali membangkitkan rasa penasaran. Di atas kertas, jika nilai kas perusahaan melebihi market cap setelah dikurangi utang, maka bisa disebut EV minus. Tapi di balik hitungan tersebut, selalu ada cerita. Karena tidak semua EV minus berarti perusahaan itu layak dikoleksi. Beberapa adalah perusahaan undervalued yang dilupakan pasar, beberapa lainnya adalah saham mati suri, dan sisanya hanya terlihat murah karena laporan keuangan lama belum diperbarui. Di antara emiten yang memiliki EV negatif berdasarkan data terakhir yang tersedia, terdapat sembilan saham yang perlu dicermati. Semua punya keunikan masing-masing. Mulai dari yang kasnya menumpuk tanpa utang sampai yang tidak pernah rilis laporan sejak Covid-19 dan masih ngaku sakit.
ASGR atau Astra Graphia adalah anak usaha Grup Astra yang bergerak di bidang percetakan dan solusi dokumentasi digital. Perusahaan ini bisa dibilang salah satu contoh textbook dari saham undervalued sejati. Mereka punya kas Rp1.575 Miliar tanpa utang, sementara market cap-nya hanya Rp1.274 Miliar. Ini membuat EV-nya negatif sekitar Rp300 Miliar. Laba bersih tercatat Rp47 Miliar dengan pertumbuhan 60 persen, sedangkan free cash flow bahkan lebih tinggi di angka Rp438 Miliar.
Yang membuat ASGR semakin menarik adalah fakta bahwa mereka rutin membagikan dividen dengan yield 7,3 persen. Tidak ada drama. Tidak ada keraguan tentang laporan keuangan. Tidak ada suspense. Hanya perusahaan sehat yang undervalued dan kebetulan bergerak di sektor yang tidak seksi. Tapi jika valuasi jadi ukuran, maka ASGR adalah kandidat kuat untuk posisi aman jangka panjang. Apalagi di bawah bendera Astra yang punya reputasi kuat dalam manajemen.
BAYU atau Bayu Buana Travel adalah perusahaan biro perjalanan yang juga masih eksis meskipun sempat babak belur saat pandemi. Perusahaan ini termasuk bagian dari keluarga besar Gondokusumo, sister company dari DILD yang fokus di sektor properti. BAYU mencatatkan kas sebesar Rp659 Miliar dengan utang hanya Rp3,6 Miliar dan market cap Rp455 Miliar. Artinya, EV-nya minus hampir Rp198 Miliar. Tapi yang lebih penting dari itu, perusahaan kembali mencetak laba Rp23 Miliar dan free cash flow Rp70 Miliar.
Bahkan dividen yield mereka mencapai 7,75 persen. Di tengah sektor pariwisata yang mulai bangkit, BAYU berhasil membuktikan bahwa mereka bisa bertahan dan kembali untung. Sinergi dengan keluarga properti seperti DILD juga membuka peluang lintas usaha. Yang menarik, valuasi mereka masih mencerminkan masa kelam saat pandemi, padahal arus kas sudah pulih. Maka saham ini termasuk EV minus yang masuk akal dan bisa dikoleksi untuk investor konservatif.
INCI atau Intanwijaya Internasional adalah perusahaan kimia yang tidak terlalu dikenal, tapi memiliki neraca super bersih. Kas Rp168 Miliar, tanpa utang, market cap hanya Rp124 Miliar, dan EV negatif Rp41 Miliar. Laba bersih Rp5,8 Miliar mungkin terlihat kecil, tapi cukup sehat untuk perusahaan dengan neraca seperti itu. Free cash flow Rp33 Miliar dan dividen yield 5,83 persen juga membuatnya layak dicermati. Tidak ada drama, tidak ada utang, dan tetap menghasilkan uang. Meski bukan perusahaan dengan pertumbuhan tinggi, INCI cocok bagi investor yang ingin eksposur ke emiten kecil yang konservatif dan bernilai.
SCPI atau Organon Pharma Indonesia awalnya terlihat sangat menarik. Kas Rp158 Miliar, tanpa utang, market cap Rp104 Miliar, dan EV negatif Rp54 Miliar. Laba bersih Rp81 Miliar naik 71 persen, cukup mengesankan. Tapi sayangnya FCF minus Rp38 Miliar dan sahamnya disuspend. Bukan karena fraud atau gagal bayar, tapi karena mereka sedang proses go private dan tender offer yang ditawarkan tidak bisa tuntas.
Banyak investor minoritas yang tidak ikut tender offer, dan ternyata setelah ditelusuri, sebagian besar adalah investor yang sudah meninggal dan tidak ada ahli waris yang klaim sahamnya. Alhasil, proses delisting macet. Jadi meskipun secara fundamental bagus, SCPI tidak bisa dikoleksi karena tidak bisa diperdagangkan. Ini lebih cocok disebut sebagai bahan studi kasus di kelas hukum pasar modal daripada objek investasi.
CNKO adalah salah satu kejutan pasar di tahun ini. Selama bertahun-tahun perusahaan ini merugi dan dicap sebagai saham buangan. Tapi dalam laporan terakhir, mereka mencetak laba bersih Rp126 Miliar, naik 1.494 persen, dengan free cash flow Rp70 Miliar. Kas mereka Rp145 Miliar, utang Rp451 Miliar, dan market cap Rp277 Miliar. Secara EV hanya minus tipis Rp8 Miliar, tapi artinya sudah berubah dari posisi negatif yang jauh lebih besar.
Ini adalah contoh saham turnaround yang sah. Tapi tetap perlu dicatat, utang mereka masih tinggi. Konsistensi laba dan strategi pengurangan utang akan menjadi kunci keberlanjutan. Jika bisa mempertahankan performa dua kuartal ke depan, CNKO bisa naik kelas sebagai emiten energi yang solid. Tapi saat ini posisinya masih di zona transisi.
DUCK atau Jaya Bersama Indo adalah contoh ekstrem dari saham mati suri. Terakhir kali rilis laporan keuangan adalah tahun 2020. Kas terakhir tercatat Rp481 Miliar, market cap Rp225 Miliar, dan EV minus Rp195 Miliar. Tapi sejak pandemi Covid-19, mereka tidak pernah merilis laporan baru. Alasannya waktu itu adalah karena direktur dan akuntan terkena Covid. Tapi sekarang sudah 2025 dan mereka belum juga sembuh.
Ini jelas bukan Covid biasa, ini super long Covid stadium terminal. Sahamnya disuspend, tidak ada transparansi, dan investor publik hanya bisa menatap data lama seperti menatap foto mantan. Operasional restoran kabarnya masih jalan, tapi sebagai emiten publik, DUCK sudah tidak bisa dipercaya. Ini bukan undervalued, ini artefak yang belum dikeluarkan dari papan perdagangan.
LPLI dan KBLV adalah dua entitas kecil milik Grup Lippo. LPLI punya kas Rp383 Miliar, utang hanya Rp1,72 Miliar, market cap Rp333 Miliar, dan EV minus Rp49 Miliar. Tapi laba mereka turun 61 persen menjadi Rp26 Miliar, dan free cash flow negatif Rp52 Miliar. KBLV lebih ekstrem, kas Rp243 Miliar, utang Rp12 Miliar, market cap Rp102 Miliar, dan EV minus Rp1 Triliun.
Tapi perusahaan mencetak rugi Rp5,7 Miliar dan FCF minus Rp43 Miliar. Tidak ada dividen, dan tidak ada sinyal kebangkitan. Grup Lippo tampaknya sudah tidak fokus lagi ke dua entitas ini. Keduanya hidup seperti perusahaan yatim piatu. Kas masih ada, tapi tanpa arah dan tanpa manuver. Investor publik juga tidak punya insentif untuk ikut bertahan.
LMSH atau Lionmesh Prima adalah perusahaan besi beton yang hanya tercatat di papan tapi tidak punya arah. Kas Rp31 Miliar, market cap Rp24 Miliar, rugi Rp1 Miliar, FCF minus Rp1,6 Miliar, dan tidak ada utang. Tidak ada dividen, tidak ada pertumbuhan, tidak ada cerita. Ini lebih menyerupai perusahaan yang masih beroperasi karena belum sempat dilikuidasi. EV minus Rp6,8 Miliar hanya terjadi karena kas lebih besar sedikit dari market cap. Tapi tanpa bisnis yang menarik, angka itu tidak relevan.
Jika diklasifikasikan, hanya tiga yang benar-benar sehat yaitu ASGR, BAYU, dan INCI. Ketiganya punya kas besar, tanpa utang, FCF positif, dan dividen yang menarik. CNKO adalah spesial case, sedang transisi dari rugi menuju laba, dan masih butuh pembuktian. SCPI secara fundamental bagus tapi tidak bisa diperdagangkan karena proses go private. LPLI, KBLV, dan LMSH adalah contoh perusahaan yang entah ditinggalkan grupnya atau tidak mampu lagi memenuhi ekspektasi pasar.
Data mereka masih ada, tapi kepercayaan sudah tidak tersisa. Sedangkan DUCK ini saham gaje karena LK sudah 5 tahun tidak rilis. Maka EV negatif hanya menjadi angka statis di tengah realita pasar yang dinamis. Investor perlu melihat lebih dari angka, mereka perlu melihat siapa yang memegang kemudi, apakah ada arah, dan apakah arus kas betul-betul masuk. Tanpa itu, EV minus hanya akan menjadi jebakan nostalgia.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.
PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!