Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightAlumni Old Astra ASII: Akar Konglomerat Baru Indonesia

Alumni Old Astra ASII: Akar Konglomerat Baru Indonesia


Fase old Astra itu, pemiliknya adalah William Soeryadjaya. Bapaknya Edwin SRTG dan Edward SUGI.Sedangkan new Astra itu pemiliknya adalah Jardine Matheson. Perusahaan Hong Kong yang sudah berdiri sejak seabad yang lalu dan awal bisnisnya adalah jualan opium. Cuannya dari bisnis haram, banting setir ke berbagai bisnis halal, salah satunya lewat akuisisi Astra.

Sebenarnya ada juga masa peralihan antara Old Astra ke New Astra. Di masa peralihan ini yang pegang Astra adalah konsorsium Prajogo, Salim, Sampoerna dkk. Tapi mereka ndak lama pegang karena krisis menyerang. Lalu akhirnya di situ Jardine masuk.

Di setiap krisis, selalu ada diskon. Dan yang punya duit banyak akan makin kaya karena bisa aset bagus di harga murah. Itulah yang Jardine lakukan pada Astra.

Astra ini bukan cuma soal satu perusahaan, tapi soal bagaimana sebuah universitas bisnis melahirkan konglomerat baru Indonesia.

Di era old Astra, perusahaan ini milik William Soeryadjaya, tokoh legendaris yang dikenal loyal terhadap karyawan dan keluarganya. William membangun Astra dari nol dan menjadikannya perusahaan terbesar di Indonesia, dengan ekspansi ke otomotif, keuangan, alat berat, agribisnis, dan logistik.

Tapi kisah manis ini berubah ketika keluarga Soeryadjaya harus menjual saham Astra demi menyelamatkan Bank Summa yang waktu itu dikelola oleh anaknya, Edward Soeryadjaya. Demi bayar kewajiban akibat krisis likuiditas bank, William menjual saham Astra satu per satu, sampai akhirnya kehilangan kendali. Ironisnya, Edward yang diselamatkan justru kemudian masuk penjara karena kasus manipulasi saham PT Sugih Energy Tbk (SUGI). Nasib old Astra pun tamat.

Momen ini dimanfaatkan oleh banyak grup besar. Astra sempat dikuasai oleh konsorsium investor domestik seperti Salim Group, Sampoerna Group, hingga Prajogo Pangestu. Tapi krisis 1998 menghantam keras, utang membengkak, dan tidak ada dana segar untuk restrukturisasi. Jardine Matheson, konglomerat asal Hong Kong yang punya rekam jejak dari zaman kolonial, bahkan pernah berdagang opium, melihat peluang besar.

Mereka mengakuisisi saham Astra secara bertahap melalui anak usaha Jardine Cycle & Carriage. Prosesnya tidak agresif tapi konsisten. Dari belasan persen, kini Jardine pegang lebih dari 50% saham Astra, menjadikan mereka pengendali mutlak. Jadilah Astra versi new Astra. Perusahaan Indonesia, tapi dikendalikan modal global.

Namun di balik peralihan itu terjadi satu hal yang menarik, munculnya generasi konglomerat baru yang dulunya tumbuh di bawah bendera Astra. William memang kehilangan perusahaannya, tapi semangat entrepreneur keluarga Soeryadjaya tidak padam. Edwin Soeryadjaya, putra William, bangkit lewat pendirian Saratoga bersama partnernya Sandiaga Uno. Saratoga jadi pionir model investment holding modern di Indonesia.

Mereka investasi di Adaro Energy (ADRO), Tower Bersama (TBIG), Mitra Pinasthika (MPMX), Provident Agro (PALM), dan dulunya juga Mitratel. Edwin dan Sandi memainkan peran penting dalam restrukturisasi pasca-krisis, mendongkrak nilai perusahaan, lalu exit di saat tepat. Bahkan setelah Sandi masuk politik, Saratoga tetap berjalan di bawah Edwin dan pemimpin profesional. Holding ini ibarat keranjang investasi yang strategis di sektor energi, telekomunikasi, dan logistik.

Di jalur lain, Theodore Permadi Rachmat alias TP Rachmat yang merupakan mantan Direktur Utama Astra memilih jalur konglomerasi sendiri. Ia mendirikan Triputra Group yang sekarang punya portofolio luas mulai dari sawit (TAPG), tambang batu bara (Arutmin), distribusi motor, logistik, dan manufaktur. Yang menarik, TP Rachmat tidak agresif tampil di publik tapi portofolionya terstruktur dan rapi.

Di balik layar, menantunya, Patrick Walujo, mendirikan Northstar Group, private equity fund yang menjadi sponsor utama GOTO dan punya jaringan luas dengan Sea Group, Softbank, hingga Temasek. Northstar ini bisa dibilang anak intelektual dari Triputra. Patrick jadi salah satu figur paling kuat di dunia start-up dan teknologi. Meski tidak banyak tampil, pengaruhnya terasa di hampir semua IPO besar.

Keluarga Thohir juga punya jejak kuat. Ayah mereka, Teddy Thohir, adalah rekan dekat William Soeryadjaya. Dua anaknya, Erick dan Boy Thohir, melanjutkan pengaruh bisnis ke dua arah. Erick masuk media dan politik, membangun Mahaka Group, lalu menjadi Menteri BUMN. Boy Thohir masuk ke sektor energi dan keuangan. Ia kini pegang Adaro (ADRO), MBMA (grup baterai), dan memiliki jaringan kuat bersama Saratoga dan Northstar. Boy juga pemegang kunci di banyak IPO strategis dan mitra dari Provident.

Provident inilah yang belakangan jadi pusat perhatian. Firma ini didirikan oleh Winato Kartono (eks Head Investment Banking Citigroup Indonesia), Gavin Caudle, dan Hardi Wijaya Liong. Mereka adalah jebolan Citigroup dan Andersen yang punya jaringan kuat di pasar modal. Provident memegang saham besar di Merdeka Copper Gold (MDKA), Merdeka Battery Materials (MBMA), Mega Manunggal Property (MMLP), dan sebelumnya Tower Bersama (TBIG). Provident dikenal sebagai pemain belakang layar yang tenang tapi strategis. Mereka tidak banyak bicara, tapi langkah mereka selalu tepat. Kini, mereka ingin melepas MMLP ke Astra, seolah-olah lingkaran ini kembali ke titik awal.

Kalau kita tarik garis benang, hampir semua poros konglomerat baru ini berasal dari rahim Astra. Saratoga, Triputra, Provident, Northstar, Mahaka, semuanya punya koneksi langsung atau tidak langsung ke old Astra. Mereka bertransformasi dari karyawan menjadi pemilik. Dari eksekutor menjadi sponsor. Dan mereka semua paham satu hal, krisis adalah peluang. Mereka lahir dari reruntuhan krisis 1998 dan sekarang menjadi pengatur permainan di saat pasar IPO sedang menggeliat. Di balik startup, tambang, properti, hingga energi, selalu ada sentuhan alumni Astra.

Tokoh-tokoh seperti Sandiaga Uno, Patrick Walujo, Boy Thohir, Rosan Roeslani, hingga Winato Kartono semuanya menjalin relasi erat. Beberapa bahkan bersinergi lintas poros. Sandiaga bersinergi dengan Edwin di Saratoga. Patrick Walujo bersinergi dengan Provident di MBMA dan GOTO. Boy Thohir menjalin aliansi dengan Northstar dan Saratoga. Rosan Roeslani yang dulu partner Erick Thohir di Mahaka, kini jadi Wamen BUMN. Winato menggarap banyak aksi korporasi bareng Saratoga. Lingkaran ini bukan sekadar bisnis tapi koneksi sosial, politik, dan ekonomi.

Di balik semuanya ada satu kesimpulan besar. Astra boleh kehilangan kepemilikan lokal, tapi warisannya melahirkan jaringan konglomerasi baru Indonesia. Alumni Astra menjadi pilar ekonomi baru. Mereka memahami cara kerja perusahaan besar, tahu momentum kapan akumulasi, tahu cara main IPO, dan tahu cara menyiasati dinamika kekuasaan. Bahkan, banyak dari mereka kini punya akses langsung ke birokrasi dan lembaga negara. Sandiaga jadi Menteri, Erick jadi Menteri, Rosan jadi Wamen, Boy dan Edwin jadi kingmaker IPO.

Ketika Jardine masuk dan mengambil Astra, mungkin banyak yang mengira kisah Astra telah berakhir. Tapi ternyata, Astra justru jadi sekolah bisnis yang mencetak generasi konglomerat baru. Di saat publik sibuk lihat siapa yang punya saham Astra, para alumni ini sudah punya puluhan perusahaan lain yang nilainya tak kalah besar. Mereka tidak perlu lagi memperebutkan kursi direksi Astra. Mereka menciptakan Astra mereka sendiri. Dan siapa tahu, dalam satu dua dekade ke depan, mereka yang akan mengakuisisi Jardine, bukan sebaliknya.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments