Kisah transformasi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) dari perusahaan kemasan plastik menjadi calon emiten nikel masa depan adalah cerita paling dramatis dan penuh intrik di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2024–2025.
Semua berawal dari akuisisi, lalu diikuti narasi rights issue triliunan rupiah, wacana backdoor listing entitas nikel milik konglomerat Tiongkok, hingga perubahan status syariah, tender offer diskon besar, dan lonjakan harga saham dari Rp1.900 menjadi Rp4.300 dalam hitungan bulan, padahal laporan keuangan masih stagnan.
PACK awalnya adalah perusahaan biasa bernama PT Solusi Kemasan Digital Tbk. Namun semuanya berubah di akhir 2024 saat PT Eco Energi Perkasa (EEP), anak usaha dari CNGR Advanced Material Co Ltd asal China, masuk sebagai pemegang saham pengendali lewat pembelian 1.065 miliar saham atau 66,67% dari total saham beredar.
Akuisisi ini diumumkan melalui laporan informasi pada 30 Desember 2024. CNGR sendiri adalah perusahaan material baterai global dengan kapitalisasi pasar besar dan terafiliasi kuat dengan hilirisasi logam nikel dan cobalt, sehingga akuisisi ini langsung membangkitkan euforia pasar.
Setelah akuisisi, EEP mengajukan tender offer wajib di harga hanya Rp37 per saham sesuai ketentuan POJK 9/2018. Tapi karena saat itu harga pasar sudah melesat ke Rp1.900, hanya sebagian kecil pemegang saham publik yang mau menjual. Hal ini memperkuat posisi EEP dan memperbesar ekspektasi pasar terhadap transformasi besar yang akan terjadi.
Di saat yang sama, beredar informasi di media bahwa PACK akan menggelar rights issue hingga Rp6 triliun di harga pelaksanaan Rp400, dengan target dana jumbo untuk ekspansi di bisnis nikel. Namun berdasarkan dokumen resmi yang disampaikan PACK ke BEI dalam berbagai klarifikasi dan tanggapan permintaan penjelasan, manajemen menyatakan bahwa tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai nominal, harga pelaksanaan, ataupun tanggal rights issue. Mereka menyebutkan bahwa proses masih tahap persiapan dan belum efektif dari OJK.
Sementara itu, laporan keuangan audited per 31 Desember 2024 menunjukkan bahwa kondisi keuangan PACK masih mini. Total aset Rp117,6 miliar, ekuitas Rp112,3 miliar, pendapatan Rp41,8 miliar, dan laba bersih hanya Rp6,3 miliar. PBV per akhir 2024 hanya Rp70 per lembar saham, sementara harga saham di pasar sudah lebih dari Rp4.000, mencerminkan PBV lebih dari 60x dan PER lebih dari 1.000x. Secara fundamental, valuasi ini jelas tidak masuk akal kecuali ada suntikan entitas besar yang mengubah struktur keuangan secara drastis.
Transformasi bisnis pun digambarkan melalui berbagai rencana yang masih bersifat naratif, termasuk penjualan bisnis kemasan kepada PT Kemas Surya Teknovasi senilai Rp70 miliar. Tapi per Juli 2025, tidak ada update resmi bahwa penjualan ini sudah terealisasi. Belum ada laporan keuangan interim yang menunjukkan masuknya entitas baru, tidak ada kenaikan aset signifikan, tidak ada peningkatan pendapatan dari sektor nikel, dan tidak ada konsolidasi anak usaha CNGR ke dalam PACK.
Di sisi lain, perubahan status menjadi emiten berlabel syariah juga menambah bahan spekulasi sejak awal IPO. Sebelumnya PACK dianggap bukan emiten syariah padahal kan PACK Sejak dulu syariah.
Fakta menarik lainnya, saham PACK mengalami lonjakan ekstrem dari Rp1.900–2.000 di Februari–Maret 2025 menjadi Rp4.300 pada Juli 2025, atau naik lebih dari 100% dalam waktu kurang dari lima bulan. Lonjakan ini tidak disertai publikasi laporan keuangan Q1 atau Q2 yang menunjukkan adanya pertumbuhan laba bersih, aset, atau revenue.
Dengan kata lain, harga saham saat ini lebih banyak digerakkan oleh ekspektasi backdoor listing CNGR ke dalam PACK ketimbang fundamental kinerja perusahaan. PACK tidak rilis LK Q1 2025 karena dia adalah saham papan akselerasi. Yang namanya saham papan akselerasi, itu cuma wajib rilis LK Q2 dan Q4. Untuk Q1 dan Q3 tidak wajib rilis kecuali emang rajin banget.
Bagaimana potensi laba dan valuasinya PACK jika narasi backdoor tersebut benar-benar terealisasi? Kalau entitas nikel milik CNGR masuk resmi ke dalam struktur PACK dan menghasilkan laba Rp1 triliun, maka dengan asumsi PER 10x–15x, valuasi PACK bisa naik ke Rp10–15 triliun. Dengan jumlah saham beredar 1,6 miliar, harga saham wajarnya menjadi sekitar Rp6.000–Rp9.000.
Kalau laba naik ke Rp2 triliun, maka valuasi bisa naik ke Rp20–30 triliun, atau harga saham sekitar Rp12.000–Rp18.000. Tapi kalau jumlah saham bertambah karena rights issue atau private placement, misalnya menjadi 3 miliar saham, maka harga wajarnya turun setengahnya.
Lagipula induk PACK di China itu CNGR dalam setahun cuma bisa cetak laba 3 Triliun. Jadi asumsi optimal kalau nanti PACK jadi kendaraan Backdoor, labanya mungkin sekitar 500 Miliar – 2 Triliun. Proyeksi bisa berubah tergantung harga nikel.
Laba ANTM dan NCKL setahun itu jauh lebih gede daripada laba CNGR induk PACK di China. Kalau laba induknya saja cuma 3 Triliunan, kan agak ndak masuk akal kalau nanti laba PACK setelah Backdoor lebih gede dari 3 Triliun. Kecuali sekali lagi, harga nikel terbang.
Namun semua itu masih berupa skenario. Belum ada laporan laba Rp1 triliun, apalagi 3 Triliun di LK PACK karena belum terjadi Backdoor. Belum ada pengumuman akuisisi anak usaha nikel. Belum ada cashflow operasional dari tambang. Belum ada struktur kepemilikan baru yang menunjukkan CNGR sudah menggabungkan anak usaha mereka ke PACK. Yang ada hanya dokumen akuisisi, pernyataan niat rights issue, dan euforia pasar.
Jadi PACK adalah contoh nyata bagaimana narasi dan ekspektasi bisa mengangkat valuasi jauh sebelum ada realisasi. Jika CNGR benar-benar serius menjadikan PACK sebagai kendaraan investasi nikel dan memasukkan entitas bisnis besar ke dalamnya, maka harga sekarang masih bisa dianggap murah dalam jangka panjang.
Tapi jika semua hanya berhenti pada level wacana, maka valuasi saat ini sangat spekulatif dan berisiko tinggi. Sebagai investor, harus selalu cek apakah laba Rp1 triliun itu sudah ada. Apakah laporan keuangan sudah mencerminkan transformasi. Kalau belum, berarti ini masih sekadar angan-angan, bukan kenyataan.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!