Kalau mau tahu seberapa besar sebenarnya dana yang standby di pasar saham Indonesia, khususnya dari kalangan ritel, kita bisa pakai cara yang agak tidak biasa tapi sangat efektif, yaitu lihat data IPO yang oversubscribed. Soalnya, momen IPO adalah satu-satunya saat publik benar-benar buka dompet secara masal, setor duit tunai ke rekening dana nasabah (RDN), dan nunggu penjatahan. Karena mekanisme IPO di Indonesia masih pakai sistem pooling allotment, kita bisa lihat seberapa banyak uang yang antre buat rebutan saham yang alokasinya cuma secuil.
Ambil contoh yang paling fenomenal dulu, yaitu IPO CBDK. Saham properti anak usaha PANI ini dibuka dengan harga Rp4.060 dan total dana IPO-nya mencapai Rp2,3 triliun. Pooling allotment-nya nggak disebut gamblang, tapi kita bisa pakai standar umum sekitar 5 persen dari total dana IPO, alias sekitar Rp115 miliar yang benar-benar dialokasikan buat investor ritel. Ternyata, porsi pooling ini oversubscribed sampai 344 kali. Artinya, ada uang antre sekitar Rp39,56 triliun hanya untuk jatah Rp115 miliar itu. Cuma 1 dari 344 investor yang dapat jatah, sisanya gigit jari.
Contoh lain adalah IPO RATU. Emiten migas anak usaha RAJA ini juga meledak. Total dana IPO-nya Rp624,46 miliar, dan porsi pooling-nya kira-kira Rp31 miliar. Tahu berapa kali oversubscribe? 313 kali. Jadi dana yang ngantre bisa diperkirakan Rp9,78 triliun, dan lagi-lagi itu cuma dari ritel. Yang paling sarkastik, banyak investor retail yang setor Rp100 juta cuma dapat 2 sampai 3 lot. Yang setor Rp1 miliar pun cuma kebagian Rp5 juta, alias 0,5 persen dari dana yang disetor. Rasio yang ngeselin tapi jujur menunjukkan betapa banyak dana nganggur yang siap nyerbu saham IPO.
Satu lagi biar lebih kuat datanya, yaitu IPO AADI, anak usaha ADRO yang IPO akhir 2024. Sahamnya oversubscribe 260 kali di pooling. Asumsinya total dana IPO sekitar Rp1 triliun, dengan 5 persen pooling allotment atau Rp50 miliar. Berarti total dana antrean sekitar Rp13 triliun.
Kalau kita totalin dari ketiga IPO besar ini saja, yaitu CBDK, RATU, dan AADI, angka antrean dana publik di pooling sudah tembus Rp62 triliun. Itu baru dari ritel. Belum termasuk fixed allotment dari institusi yang juga kadang oversubscribe 5 sampai 10 kali lipat. Belum lagi dana-dana yang standby di ETF, reksa dana saham, atau dana kelolaan discretionary fund. Tapi dari pooling saja kita bisa baca dengan sangat jelas bahwa investor ritel di IHSG tuh nggak miskin-miskin amat. Cuma nunggu momen.
Jadi logika sederhananya begini, kalau satu saham bisa menarik antrean Rp10 sampai Rp40 triliun hanya dari ritel, dan tiap tahun ada beberapa IPO besar yang rebutan, maka cukup wajar kalau dibilang total dana siap eksekusi dari investor ritel di IHSG ada di kisaran Rp100 sampai Rp200 triliun. Ini juga sejalan dengan data KSEI yang melaporkan saldo RDN investor sempat tembus Rp80 sampai Rp100 triliun per kuartal 2025. Belum termasuk uang yang standby di luar sistem yang bisa masuk ke bursa dalam hitungan jam kalau sentimen berubah.
IPO bukan sekadar ajang cuan cepat atau euforia, tapi juga semacam stress test buat pasar. Seberapa dalam kantong investor? Seberapa tinggi keyakinan mereka? Dan seberapa cepat uang bisa keluar masuk? Semua itu kebaca dari data oversubscription. Jadi kalau kita mau tahu seberapa besar uang panas yang beredar di IHSG, nggak usah nebak-nebak pakai teori moneter makro segala. Lihat saja IPO yang oversubscribe gila-gilaan. Itu jawabannya. Masalahnya dana ini lebih sering ke bursa luar dan kripto ketimbang dipakai trading di Indonesia.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


