PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) masuk ke bursa lewat IPO maksimal Rp114,1 miliar dengan melepas 815 juta saham baru atau 20 % dari modal disetor setelah IPO. Tujuannya jelas, untuk menambah modal kerja, khususnya pengadaan alat uji laboratorium yang ditargetkan ke proyek SIHREN, SOPHI, dan InPLUS dari Kementerian Kesehatan.
Penjamin pelaksana emisi hanya satu, yaitu PT Lotus Andalan Sekuritas, dengan komitmen penuh alias full commitment 100 %, tanda bahwa ini bukan IPO yang diserbu underwriter besar dan bersifat high-conviction dari sekuritas papan atas.
Struktur pemegang saham per Desember 2024 didominasi oleh PT Optel Investama Mulia (Laurentia Hariadi 32,7 %) disusul Karjeny Satia, Nina Sutikno, Nathan Tirtana, dan dua pemegang asing, Healthy Alliance (16,4 %) dan Active Rich (3,28 %). Beberapa dari mereka juga menempati posisi strategis di direksi dan dewan komisaris, yaitu Yoshua Raintjung (Dirut), Marcella Angelin (Direktur), Nathan Tirtana (Komut), serta Nelly Susanti dan Sundoyo di komisaris.
Model bisnis CHEK murni sebagai distributor alat-alat kesehatan, dengan ketergantungan ekstrem terhadap satu pemasok, yaitu Bio-Rad, yang menyumbang 69 % COGS. Ini berisiko besar, karena perubahan harga atau gangguan suplai dari Bio-Rad langsung berdampak ke margin dan kapasitas suplai. Pelanggan utama mereka adalah rumah sakit pemerintah, sehingga sangat bergantung pada tender dan anggaran negara.
Transaksi pihak berelasi terdeteksi antara lain dengan PT Etana Biotechnologies (piutang Rp225 juta), PT UBC Medical Indonesia Tbk Saham LABS (utang-piutang usaha dan pembelian barang Rp9,3 miliar), dan PT Optel Investama Mulia (piutang lain-lain), seluruhnya diungkapkan dalam Catatan 32. Walaupun nilainya belum besar, adanya hubungan manajemen ganda meningkatkan risiko konflik kepentingan jangka panjang.
Kelemahan laporan keuangan terdeteksi di beberapa titik penting seperti Piutang membengkak, rasio Piutang/Revenue mendekati 35 hari dan Piutang/Kas dari pelanggan >1,2×, menyebabkan kas dari pelanggan tidak berubah menjadi kas operasional yang lancar. Idealnya rasio ini <0,8×.
Persediaan stagnan. Persediaan tumbuh 42 %, rasio terhadap COGS makin berat, dan ada penghapusan atau penyesuaian nilai tiap tahun (Catatan 9). Idealnya perputaran persediaan maksimal 4x per tahun, bukan hanya 1,8x.
CFO kecil atau negatif walau perusahaan mencatat laba bersih Rp14,9 miliar (net margin 5,4 %), CFO cuma Rp6,2 miliar. Artinya, laba belum dikonversi jadi uang. Ini muncul dari tumpukan piutang dan inventory yang belum tertagih atau belum keluar jadi penjualan tunai.
Capex tinggi, meski free cash flow sedikit positif, capex tahunan masih menyedot hingga 15–18 % dari kas masuk pelanggan. Idealnya di bawah 10 % jika tidak sedang ekspansi agresif.
Opex bengkak, Beban umum dan administrasi naik 12 % yoy jadi Rp33,7 miliar (Catatan 29), sementara pendapatan hanya naik sekitar 9 %, menekan margin operasional.
CHEK punya kas akhir Rp17,8 miliar, utang jangka pendek cuma Rp11 miliar, artinya perusahaan dalam posisi net-cash dan sehat secara solvabilitas. Margin kotor juga lumayan stabil di 29–30 %, dan proyek pengadaan alat dari Kemenkes bila dimenangkan bisa menggandakan omzet tahunan.
Namun ini semua baru potensi. Kalau proyek gagal, tumpukan persediaan akan jadi beban. Jika kontrak prinsipal tak diperpanjang atau volume pembelian minimum tak tercapai, margin bisa amblas. Bahkan IPO ini digunakan buat nebus barang dari pemasok sebelum menang tender. Ini pola yang cukup riskan.
Valuasi IPO masih kosong karena angka harga IPO masih belum tercetak di prospektus final. Tapi kalau memakai EPS Rp4,6 dan proyeksi EPS setelah IPO menjadi Rp3,7, maka valuasi ideal adalah PER ideal 10–15×, harga ideal Rp37–55.
PBV ideal 1–1,5×, harga ideal Rp30–45 (aset bersih pro forma ≈Rp28,68 per saham).
Hidden gem-nya jelas di kontrak eksklusif dengan Bio-Rad dan Thermo Fisher, serta sertifikasi CDAKB yang sudah dikantongi. Kalau mampu efisienkan piutang dan inventory, margin kas bisa naik drastis. Tapi potensi value trap juga ada, yaitu growth tanpa konversi kas, risiko write-off inventory, dan proyek besar yang belum pasti.
Sebagai investor, harapan terbaik adalah tender Kemenkes SIHREN–SOPHI tembus dan jadi recurring revenue. Kalau gagal, perusahaan harus survive dengan margin distribusi yang makin tipis di tengah persaingan alat kesehatan yang padat.
Strateginya adalah mengawasi realisasi tender, aging inventory, dan pengendalian modal kerja dalam 2 kuartal ke depan. Kalau semua on track, bisa jadi salah satu pemain diagnostik menengah yang worth holding. Tapi kalau tidak, risikonya nyangkut di saham ilikuid, tanpa kas, dan valuasi overpriced.Tapi pada akhirnya penentu harga saham adalah bandar.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!