CUAN atau PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk bukan pendatang baru di dunia tambang, tapi baru resmi masuk Bursa pada 8 Maret 2023 lewat IPO 1,69 miliar saham seharga Rp220. Free float cuma 15%, sisanya dikuasai keluarga Prajogo Pangestu lewat Grup Barito.
Ini bukan sekadar perusahaan tambang, tapi miniatur konglomerasi energi. Mulai dari pemilik tambang MUTU, kontraktor tambang (Petrosea PTRO), operator logistik (Armada Maritim), hingga engineering dan proyek EPC Freeport, semua digenggam sendiri.
Singkatnya, dari tanah sampai pelabuhan, semua dikendalikan. Model bisnisnya terbagi jadi 4 segmen, dengan struktur revenue B2B. Tiga pelanggan terbesar pegang 39% omzet, dan dua vendor internal kuasai 40% COGS. Transaksi afiliasi nggak dominan, tapi cukup menggambarkan betapa eratnya ekosistem keluarga ini.
Laporan keuangan kuartal I 2025 sekilas terlihat menggiurkan. Revenue naik tajam ke Rp3,49 triliun, tumbuh 148% yoy. Tapi sayangnya, sebagian besar itu cuma revenue akuntansi tanpa real kas. COGS meledak sampai Rp3,21 triliun, margin kotor tinggal 7,9%. Biaya G&A loncat 193%, beban bunga melonjak 263%. Laba bersih cuma Rp37 miliar, itu pun diselamatkan oleh gain penjualan aset keuangan USD25,5 juta.
Lihat arus kas makin bikin deg-degan. Kas masuk dari pelanggan Rp3,57 triliun, tapi kas keluar untuk vendor dan payroll lebih dari Rp4,7 triliun. CFO jebol minus Rp1,43 triliun. Capex masih gila-gilaan Rp1,61 triliun, bikin FCF jeblos minus Rp3,02 triliun. Nggak berhenti di situ. Piutang numpuk jadi 86 hari, persediaan 96 hari, dan margin antar-segmen timpang karena bisnis tambang rugi, yang untung malah segmen EPC yang porsinya cuma 3% dari total aset.
Dari sisi neraca, aset Rp31,6 triliun, kas Rp3,73 triliun, dan utang berbunga Rp19,4 triliun. Sekilas kas terlihat gendut, tapi sayangnya rasio kas terhadap utang cuma 19%. Gearing bersih udah 5,2x ekuitas. Oke, kas memang empat kali lipat dari utang jangka pendek, tapi beban bunga tahunan Rp1,2 triliun dan CFO yang tekor bikin likuiditas jadi sorotan utama. Kalau tren ini terus, kas bisa habis dalam 2 sampai 3 kuartal.
Memang sih CUAN udah lindungi bunga dollar pakai swap dan punya utang jangka panjang sampai 2032, rating obligasi A+, dan segmen EPC yang high margin. Tapi kalau nggak ada perbaikan struktural dari sisi efisiensi, capex, dan manajemen modal kerja, ya kas itu cuma jadi tabungan darurat sebelum datang aksi korporasi baru, entah itu lewat refinancing atau malah rights issue.
Sejauh ini untuk jangka pendek, kelebihan PTRO masih bisa menutupi kekurangannya, jadi harusnya sih masih aman. Cadangan kas PTRO untuk sementara bisa cover defisit CFO-nya. Tap untuk jangka menengah, bahaya laten mulai kelihatan. Proyek Freeport bisa habis, kontrak baru bisa seret, dan harga batu bara bisa stagnan. Beban bunga aja udah makan 92% laba operasi. Artinya, CUAN saat ini sedang bertahan, bukan menyerang.
Buat investor, harapan itu sederhana. Sirkulasi tagihan dipercepat, kontraktor dipangkas biayanya, capex dikunci, dan margin dinaikkan lewat renegosiasi kontrak. Kalau semua itu jalan, CUAN bisa berubah jadi mesin cash flow. CFO akan positif, EBIT bisa tutup bunga, dan investor mulai ngelirik ini sebagai turnaround play. Tapi kalau semua dibiarkan jalan seperti sekarang, jangan salahkan pasar kalau saham ini bisa berubah jadi value trap.
Harga sekarang Rp11.925 per saham (pre-stocksplit 1:10 di 9 Juli 2025), berarti market cap udah Rp134 triliun. Ekuitas Rp5 triliun, artinya PBV 27x. Laba tahunan kalau kuartal I di-annualized cuma Rp148 miliar, artinya PER hampir 900x. EV/CFO? Nggak bisa dihitung, karena CFO-nya minus. Ini bukan valuasi perusahaan tambang dengan masalah arus kas, ini valuasi startup teknologi yang belum ketemu market fit.
Hidden gem-nya ada di segmen EPC yang marginnya tinggi dan akses ke pendanaan yang kuat dari Grup Barito. Tapi kalau arus kas tetap nihil dan cuan cuma datang dari penjualan aset keuangan atau trik akuntansi, ya siap-siap aja saham ini masuk buku teks sebagai contoh value trap premium.
Valuasi idealnya mungkin ada di PBV 2x sampai 3x, atau PER 10 sampai 15x. Itu berarti harga wajarnya ada di Rp2.000 sampai Rp3.000. Supaya ke sana, CUAN harus buktiin margin operasional lebih dari 10%, CFO positif, interest coverage di atas 4x, dan capex menurun. Kalau nggak? Maka yang muncul adalah rights issue, utang baru, dan koreksi harga.
Tapi harga saham itu suka – suka bandar aja. Dengan valuasi super mahal seperti ini, harus diakui kalau bandar saham CUAN bisa dikatakan lebih strong daripada bandar saham ADRO ITMG BSSR PTBA dll. Pada akhirnya yang menggerakkan harga saham adalah bandar, bukan fundamental karena yang tekan tombol Buy itu bandar, bukan laporan keuangan. Mana bisa itu benda mati seperti laporan keuangan log in aplikasi online trading. Kalau bandar sih udah pasti bisa log in.
Stocksplit 1:10 CUAN ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi bisa bikin saham jadi terjangkau ritel. Tapi di sisi lain, justru bisa jadi panggung distribusi. Setelah harga di-split jadi sekitar Rp1.192, euforia ritel bisa meledak, padahal fundamental belum pulih.
Kalau manajemen nggak siapin kejutan positif pasca-split seperti perbaikan arus kas atau kontrak jumbo, ya peluang besar distribusi bandar ke ritel tinggal tunggu waktu. Intinya, kalau yang di-split cuma harga, tapi utang, margin, dan kas masih nyangkut di tempat, ya investor yang kena split beneran.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!