Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightCOIN Jejak Pejabat

COIN Jejak Pejabat

PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) adalah perusahaan yang diciptakan sebagai bagian dari ekspansi digital MMS Group milik Andrew Hidayat, konglomerat yang dulunya dikenal sebagai pemain tambang batubara. Berdiri sejak 2021, COIN awalnya tidak banyak diperhatikan, namun sejak 2023 mulai bermanuver besar di sektor kripto. Grup ini bukan cuma mendirikan bursa kripto (CFX), tapi juga kustodian (ICC), serta pengembang sistem backend (KPI) yang sekarang disewa oleh entitas kliring.

Andrew tidak sendiri. Dia membentuk holding ini bersama Jeth Soetoyo (founder Rupiah Token dan PINTU), Aaron Ang Nio (investor modal ventura), dan Budi Mardiono (pengusaha-politikus eks NasDem). Keempatnya adalah ultimate beneficial owner (UBO) yang secara resmi tercatat sebagai pengendali saham lewat entitas masing-masing.

Komisaris diisi figur-figur strategis, yaitu John A. Prasetio (eks Dubes Korsel dan komisaris di Grup Lippo, TOWR, GOTO, BEI dan sekarang ke Danantara), dan Silvano Rumantir, eks direktur BBNI yang hijrah ke MMS dan kini juga menjabat di grup Andrew. Di sinilah benang merah pertama muncul, koneksi COIN ke BUMN, bank pelat merah, dan jaringan politik mulai terasa pekat. Andrew pernah potong pita bareng Boy Thohir ADRO kakaknya Erick Thohir yang juga menteri BUMN membawahi BBNI. Tinggal search aja di Google. Andrew + Boy Thohir + Adaro + GBU + BNI.

Imagine skenario nanti kalau John Prasetio ke Danantara terus Danantara investasi ke COIN dengan alasan mengembangkan kripto nasional. Kan pernah tuh pemerintah mau bikin bursa kripto nasional. Siapa tahu aja kan. Belum tentu terjadi, siapa tahu aja.

Secara angka, COIN mencetak pendapatan Rp101,3 M pada 2024, naik dari hanya Rp36 juta di 2023, lonjakan luar biasa yang membuat headline terlihat menjanjikan. Tapi begitu ditelusuri, mayoritas pendapatan datang dari biaya sewa sistem (Rp35 M) dan fee dari bursa atau perpetual trading. Laba bersih tercatat Rp43 M, namun arus kas operasi justru minus Rp21,1 M karena pendapatan belum tertagih (piutang pelanggan Rp70,5 M, sepertiganya sudah lewat 30 hari). Dengan kata lain, ini perusahaan yang untung di laporan, tapi belum masuk di kas.

Penyebab minus ini jelas, mayoritas pendapatan masih belum jadi kas dan beban operasional dibayar tunai. Di saat yang sama, mereka juga jor-joran belanja investasi senilai Rp2,25 T, padahal revenue baru 100-an M. Dana capex ini sebagian besar disalurkan ke entitas afiliasi, sebagian ke pembelian aset tak berwujud dan penyertaan saham. Hal ini membuat free cash flow jeblok ke -Rp1,76 T. Yang menutupi semua ini adalah suntikan modal pemilik (Rp1,2 T) dan pelunasan piutang terkait yang tiba-tiba masuk menjelang akhir tahun (Rp973 M).

Transaksi intra-grup yang jumlahnya jumbo ini patut diawasi. Misalnya, deposito jangka pendek Rp250 M yang mendadak hilang saat akhir tahun dan digantikan pinjaman bank Rp220 M, serta pelunasan piutang entitas berelasi tepat saat cut-off. Sinkronisasi arus kas sangat pas untuk mempercantik laporan. Tapi justru karena terlalu pas itulah jadi mencurigakan.

Dari sisi struktur keuangan, COIN masih cantik. Kas Rp288 M lebih besar dari total liabilitas Rp235 M, debt to equity cuma 18%, interest coverage ratio tembus 1179%. Margin usaha 39% juga terlihat menggiurkan, sementara biaya umum dan administrasi memang besar (Rp61,6 M) tapi masih tertutupi revenue. Sayangnya, beban ini membentuk 61% dari pendapatan, terlalu tinggi untuk startup yang belum mapan.

Masalah lain adalah konsentrasi pendapatan. Pada 2023, 100% revenue dari satu pelanggan. Di 2024 sudah mulai menyebar, tapi piutang ke 10 pelanggan utama masih menumpuk. Cadangan kerugian piutang? Nol. Ini mengasumsikan semuanya bakal tertagih, optimisme yang tidak konservatif.

Lalu valuasinya bagaimana? IPO ditawarkan di kisaran Rp100–105. Dengan total saham pasca IPO sekitar 14,7 Miliar, maka market cap-nya sekitar Rp1,54 T. Laba bersih Rp43 M memberi PER sekitar 36, dan PBV sekitar 1,2x. Kalau dibanding rata-rata industri startup teknologi atau kripto global, PER 36 masih bisa dicerna kalau growth tinggi dan kas masuk. Tapi COIN masih burn cash. Maka valuasi lebih cocok diletakkan di PER 15, alias harga ideal sekitar Rp44. Itu pun dengan asumsi CFO sudah positif, piutang tertagih, dan skala bisnis membesar.

Jika harapan investor terwujud, misal volume transaksi kripto Indonesia melonjak, sistem mereka dipakai bursa nasional, dan kliring diwajibkan lewat ICC, maka skala revenue bisa 3–4x dalam 2–3 tahun. Dengan margin tetap tinggi dan CFO membaik, valuasi bisa justify di PER 30–40. Tapi jika gagal, volume stagnan, piutang memburuk, capex tidak menghasilkan revenue, harga akan dikoreksi ke level kas atau bahkan di bawahnya. Value trap terbuka lebar, apalagi free float hanya 15% dan harga gampang digerakkan.

Hidden gem dari COIN ada pada lisensi ganda dan posisi mereka sebagai pionir bursa kustodian terintegrasi di Indonesia. Secara struktur hukum dan teknologi, mereka siap jadi backbone jika OJK atau Bappebti memusatkan pasar. Tapi satu-satunya jalan supaya lisensi itu jadi uang adalah volume. Tanpa volume, semua izin dan infrastruktur hanya jadi beban.

Riwayat Ciptadana Sekuritas sebagai underwriter juga memperkuat asumsi saham story. Mereka pernah bawa IPO ADMR (Adaro Minerals) dengan sukses besar, juga TAPG (Triputra Agro) dan VKTR (Bakrie). Pola yang sama, saham-saham hype dengan latar belakang pemilik yang kuat koneksi. Tapi ingat, pasca listing, tidak semua tetap bersinar. Ciptadana ini dulu ada hubungan dengan Lippo yang ada John Prasetio yang sekarang di Danantara.

Direksi COIN didominasi orang finance dan mantan birokrat BUMN seperti Ade Wahyu (eks WIKA Beton & Jasa Marga), Abraham Ardian (ex Bukalapak), Adri Martowardojo (eks Astra) dari namanya seperti nama mantan anak Menteri Pak Agus, dan Putra Karunia (ex PwC dan COO CFX). Mereka punya pengalaman, tapi belum terbukti menghasilkan arus kas yang stabil di sektor kripto. Tidak ada Chief Risk Officer khusus, padahal risiko kripto terutama cyber dan compliance tinggi.

Penutupnya sederhana. COIN adalah cerita tentang ekspansi cepat dengan ekosistem yang tersusun rapi tapi belum menghasilkan uang nyata. Semua akan tergantung pada dua hal, apakah revenue bisa berulang dan scalable, dan apakah laba bisa berubah jadi kas. Kalau dua itu berhasil, valuasi bisa lari seperti waktu ADMR WIRG TAPG digoreng. Kalau tidak, harga bakal kembali ke titik fundamental. Dan itu bisa berarti sangat jauh di bawah harga IPO.

Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here