Kalau mau jujur, HGII alias PT Hero Global Investment Tbk ini tuh ibarat warung bakso Pak Toto di pinggir jalan pegunungan Sumatra Utara. Warungnya kecil, cuma punya dua tungku kompor, pelanggannya cuma satu, PLN, dan bahan bakarnya satu juga yaitu debit air dari sungai sekitar.
Tapi meski cuma dua kompor, ternyata tiap mangkuk baksonya ditakar pake timbangan akuntansi IFRS, disajikan dengan margin 83%, dan bayarnya bukan harian, tapi pakai skema 20 tahun dengan bunga konsesi. Jadi bukan bakso biasa, ini bakso kontrak BOOT (build-own-operate-transfer) yang rasanya bisa dibilang enak-asal-nggak-kekeringan.
Perusahaan ini berdiri sejak 2010, baru naik pangkat jadi emiten di Januari 2025 lewat IPO di harga 200 rupiah, menjual 1,3 miliar lembar saham. Duit hasil IPO bersihnya 256,8 Miliar langsung nongkrong di kas, jadi semacam topping baso urat emas di neraca yang sebelumnya kering kerontang.
Komposisi pemiliknya pun khas warung keluarga yaitu tiga pendiri (Rudy Chandra, Robert Njo, dan Hendrianto Thamrin) masing-masing pegang 18%, ada satu investor institusi SEPI pegang 25%, dan sisanya 20% dikasih ke publik biar warung ini kelihatan demokratis. Harga saham per Juni 2025 di 173 rupiah, bikin market cap-nya 1,122 Triliun atau sekitar USD 69 juta di kurs 16.300 rupiah, harga yang lumayan mewah untuk bisnis yang kalau hujan telat, omzet bisa mendadak tiris.
Model bisnisnya Simpel. HGII punya dua PLTM (Parmonangan I dan II), masing-masing 9 MW dan 10 MW, dijual semua ke PLN pakai skema kontrak jangka panjang. Harga jualnya udah diatur dari awal: Parmonangan I dihargai Rp1.210/kWh di 8 tahun pertama, lalu turun ke Rp935/kWh, dan Parmonangan II flat di Rp1.049,75/kWh sampai 25 tahun ke depan. Jadi HGII ini bukan pabrik baja atau tambang nikel, tapi lebih mirip obligasi air terjun, cuan-nya pasti, asalkan air tetap ngalir.
Cuma ya itu tadi, kalau sungainya mogok atau debit air turun, ya pendapatan langsung susut. Dan di Q1 2025 ini itu kejadian karena listrik yang benar-benar dijual ke PLN cuma 5,4 Miliar, anjlok 32% yoy. Tapi karena pendapatan bunga konsesi PLN naik jadi 15,4 Miliar, revenue HGII totalnya cuma turun 7,1% ke 20,8 Miliar.
Margin kotor masih kinclong 83,4%, tapi biaya umum dan administrasi (G&A) meledak 54,7% ke 7,3 Miliar gara-gara ongkos legal, iklan, dan asuransi menjelang dan pasca IPO. Laba bersihnya turun jadi 6,9 Miliar dengan net margin 33%. Gede sih, tapi udah mulai keiris-iris kaya baso urat yang digeprek pake sendok warteg.
Neracanya ini lebih cantik dari tampang bendahara koperasi sabung ghoib Kamboja Pak BudiDolDol bin Judd Old. Total aset naik 34,6% secara QoQ jadi 963,3 Miliar. Dua komponen paling gede adalah piutang bunga konsesi PLN 668,8 Miliar (69% aset) dan kas 274 Miliar (28%). Aset tetap? Cuma 7,2 Miliar, mungkin kurang dari nilai warung bakso Pak Toto kalo udah ekspansi ke franchise.
Komposisi aset kini likuid banget karena sekarang 38% aset lancar vs cuma 12% aset lancar sebelum IPO. Sementara di sisi liabilitas, turun 5,7% ke 221,1 Miliar. Utang bank tinggal 108,1 Miliar dan pajak tangguhan 84,2 Miliar.
Kas yang segunung bikin net debt negatif yakni minus 0,22× terhadap ekuitas. Rasio TL/TE cuma 0,30× dan EBITDA vs beban utang 5,4×. Jadi dari sisi solvabilitas, HGII ini bukan cuma aman, ini mah warung bakso yang bisa beli seluruh pasar kalau mau.
CFO (cashflow dari operasional) juga deras banget karena mencapai 13,4 Miliar, atau 64% dari revenue. Capex? Cuma 0,8 Miliar, alias cuma untuk tambal-sulam keran air. Jadi FCF (free cash flow) bersih 12,6 Miliar langsung dipakai nyicil utang 12,8 Miliar, sinyal bahwa manajemen ini gak doyan nunggak cicilan kaya koperasi merah ijo yang kabur sebelum audit tahunan.
Bahkan CFO ini 1,9× lebih tinggi dari laba bersih. Artinya? Laba HGII bukan cuma angka Excel, tapi beneran duit masuk. Rasio CFO/capex 17,6× juga bilang satu hal kalau duit operasi cukup banget buat ekspansi atau bahkan bayar lunas semua bunga-utang tanpa perlu ngemis rights issue.
Tapi bukan berarti nggak ada masalah. Pertama, segmen usaha others (yang isinya jasa konstruksi dan holding) menyumbang 1,8 Miliar revenue tapi rugi 1,7 Miliar. Ini kayak cabang koperasi sabung ghoib Pak BudiDolDol yang dibilang inovatif, tapi tiap bulan bikin defisit.
Kedua, ada piutang intra-group 181 Miliar yang malah bikin eliminasi segmen besar banget, mencapai 19% dari total aset. Kalau itu gak produktif, bisa jadi ini aset idle atau cuma saldo transfer-transfer buat jaga-jaga.
Ketiga, ada anomali presentasi laporan karena arus kas pendanaan ditulis negatif karena tanda kurung kebalik, padahal kas akhir naik 256 Miliar, kalau investor awam baca tanpa kacamata teliti, bisa panik duluan. Keempat, deferred tax yang besar (84,2 Miliar atau 38% liabilitas) menunjukkan ada potensi kenaikan beban pajak saat arus kas mulai cair semua.
Dari sisi pihak berelasi? Aman. Utang ke pemegang saham 15,5 Miliar, tanpa bunga, bisa dicicil tiga tahun. Ada fee jasa ahli ke R21 Investment senilai 722 juta (9,9% G&A). Semuanya relatif kecil, gak ada sinyal penyedotan dana ala koperasi merah ijo atau fee konsultan ngawang-ngawang. Bahkan utang pemegang saham ini disubordinasi ke utang bank, jadi posisi publik terbilang aman, at least secara struktural.
Jadi HGII saat ini berdiri di atas dua sisi koin. Sisi kinclongnya terjadi karena kas numpuk, utang kecil, arus kas beneran, margin kotor tinggi, dan covenant longgar. Tapi sisi gelapnya mulai terlihat karena penjualan listrik jeblok gara-gara debit air, biaya kantor naik tajam, segmen “others” jadi beban, dan valuasi udah nangkring di PER 40×.
Investor wajib waspada karena bisnis ini bukan perusahaan multinasional dengan banyak cabang. Ini cuma dua bendungan, dua sungai, satu pelanggan. Kalau PLN ngambek, atau sungai berubah jadi selokan, habis sudah.
Kalau manajemen bisa tekan biaya dan cuaca kembali bersahabat, HGII bisa bayar semua utangnya tanpa minta tambahan modal, bahkan punya ruang buat dividen. Tapi kalau El Niño berkepanjangan, opex terus naik, dan segmen “others” tetap defisit, maka market bisa menghukum valuasi ini dan harga sahamnya bisa nyungsep kaya motor nyebur got.
HGII bukan emiten yang bisa disamakan dengan grup konglomerat, tapi juga bukan koperasi merah ijo abal-abal. Dia berdiri di tengah karena punya potensi jadi mesin uang jangka panjang, asal debit air lancar dan manajemen gak kalap biaya.
Jadi buat investor yang pengen naik perahu ini, pastikan ada payung cuaca dan kalkulator SG&A di tangan. Karena kalau sungai lancar, air turbin muter, manajemen hemat, ini seperti bakso Pak Toto yang dijual mahal tapi worth it. Tapi kalau salah satu gagal, yang tersisa cuma beton mahal tanpa aliran dan kita semua cuma bisa duduk di warung bakso yang gak laku, nunggu debit air yang entah kapan datang.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!