Penjualan DIGI cuma 5,62 Miliar, anjlok 51 % dibanding tahun lalu. Biaya pegawai dan operasional memang turun, tapi cuma 11 %, jauh lebih kecil dibanding kejatuhan pendapatan. Akibatnya, margin kotor cuma 33 %, rugi operasi 3,93 Miliar, dan rugi bersih 3,97 Miliar. Dengan kata lain, tiap kali mereka dapat 1 rupiah dari iklan, mereka justru kehilangan 71 sen.
Lebih parah lagi, arus kas operasi (CFO) juga negatif 3,21 Miliar. Ini artinya rugi bukan cuma angka di laporan, tapi duitnya benar-benar keluar. Kas yang awalnya 6,17 Miliar tinggal 1,84 Miliar. Digabung dengan capex 0,34 Miliar (beli komputer dan kendaraan), free cashflow-nya jadi -3,55 Miliar.
Perusahaan seperti DIGI ini mestinya jaga kas mati-matian, tapi malah jor-joran beli barang, mirip Pak BudiDolDol beli kamera mirrorless dan mic kondensor padahal uang endorse belum cair.
Di neraca, total aset susut 27,6 % ke 12,93 Miliar. Komposisinya: piutang 3,52 Miliar (belum tentu cair cepat), uang muka 3,06 Miliar (naik 331 %), kas 1,84 Miliar, dan aset tetap 2,84 Miliar. Sementara liabilitas masih tinggi: 22,88 Miliar. Komponen utamanya adalah utang lain-lain jangka pendek & panjang 10 Miliar, pajak 4,6 Miliar, beban akrual, dan utang leasing.
Modal kerja defisit 3,17 Miliar, current ratio 0,74×, quick ratio 0,44×. Utangnya hampir semua jatuh tempo dalam 1 tahun. Rasio lancar segini buat Pak Toto aja udah panik. Untuk perusahaan media? Ini tanda darurat.
Satu-satunya utang berbunga adalah pinjaman 250 ribu USD ke MDIF, artinya risiko kurs eksis. Tapi sebagian besar utang lain-lain itu bukan dari bank, tapi dari Emerging Media Fund. Istilah kerennya vendor financing. Mirip kayak Pak BudiDolDol yang bikin konten dibantu investor gelap asal uang masuk.
Tapi begitu bisnis jeblok, tagihan tetap harus dibayar. Tambah runyam, pajak terutang 4,62 Miliar tetap harus dilunasi meski rugi, karena ini pajak potong seperti PPh 21 dan PPN, bukan PPh badan. Jadi, bahkan rugi pun tetap bayar.
Anehnya lagi, manajemen tidak mencatat cadangan kerugian piutang. Jadi 3,52 Miliar piutang dianggap aman semua. Padahal kalau klien telat bayar atau bangkrut, kas makin megap-megap. Dan intangible asset, alias nilai software, sudah tinggal 0,14 Miliar. Tapi amortisasi masih dibebankan 0,14 Miliar juga. Artinya software mereka udah hampir 100 % disusutkan.
Capex pun naik 364 %, padahal revenue turun. Perusahaan mungkin lagi coba bangun platform baru. Ekuitas per akhir Maret 2025 sudah negatif 9,95 Miliar. Artinya utang lebih besar dari aset.
Seperti Pak Toto yang jualan bakso, tapi gerobaknya nyicil, kompor nyewa, bahkan mangkok bukan milik sendiri. Kalau DIGI ini ngajuin pinjaman ke bank, bank mana pun bakal tutup pintu. Satu-satunya jalan tinggal rights issue, jual aset, atau jual diri ke strategic investor.
Dari segi risiko, risiko terbesar adalah likuiditas dan kredit. Likuiditas karena kas menipis dan utang jangka pendek besar. Kredit karena piutang belum dibentuk cadangan. Sementara risiko mata uang dan suku bunga relatif kecil karena hanya 1 pinjaman USD. Tidak ada risiko komoditas karena bisnisnya digital. Tapi risiko operasional besar yaitu server down, trafik drop, orang resign, semua bisa langsung menghantam revenue.
Dengan rugi konsisten, DIGI bukan bisnis yang sehat. Ini bisnis digital dengan struktur keuangan rusak, likuiditas ketat, dan rugi yang terus membesar. Tapi seperti semua kisah startup, peluang selalu ada, kalau masih ada waktu dan kas. Masalahnya, waktu makin tipis, kas makin menipis. Dan kalau harapan itu tinggal impian, yang rugi ya bukan cuma Pak Toto.
Melihat kondisi keuangan DIGI saat ini, perusahaan ini hampir pasti butuh suntikan dana lewat Rights Issue (RI) atau Private Placement (PP). Kenapa? Karena posisinya sekarang seperti orang yang lagi kehabisan bensin di tengah tol, lampu indikator sudah menyala merah terang, dan dompet cuma berisi receh. Per Maret 2025, kas hanya tinggal 1,84 Miliar. Padahal liabilitas jangka pendek mencapai 12,2 Miliar, dan free cash flow (FCF) minus 3,55 Miliar.
Masalahnya bukan cuma likuiditas. Ekuitas perusahaan juga sudah merah darah, negatif 9,95 Miliar. Dengan kondisi seperti ini, akses ke pinjaman bank hampir tertutup rapat. Bank mana pun ogah kasih utang ke perusahaan yang nilai asetnya lebih kecil dari jumlah utangnya.
Artinya, opsi yang realistis hanya satu yaitu cari modal baru dari investor yang siap suntik dana, entah lewat RI ke pemegang saham eksisting atau PP ke investor strategis. RI memang lebih adil karena memberi kesempatan ke semua pemegang saham untuk ikut serta, tapi kalau pemegang saham lama ogah keluar duit, maka PP jadi opsi darurat. Bisa ke investor institusi, bisa juga ke tangan sahabat dekat yang siap masuk dengan harga diskon.
Alasan mengapa RI atau PP ini penting bukan sekadar tambal kas. Lebih dari itu, suntikan dana ini dibutuhkan untuk memperbaiki struktur modal. Tanpa tambahan ekuitas, perusahaan akan terus berjalan dengan gearing ratio yang destruktif, di mana setiap 1 rupiah aset ditopang oleh hampir 2 rupiah utang. Ini jelas tidak sustainable.
Apalagi beban pajak dan utang lain-lain seperti ke Emerging Media Fund dan MDIF tetap harus dibayar. Kalau tidak ada tambahan modal, risiko default atau gagal bayar tinggal tunggu waktu.
Di sisi lain, perusahaan juga masih mencoba bertahan lewat investasi, capex naik 364 % untuk beli komputer dan kendaraan, indikasi mereka masih percaya pada strategi jangka panjang. Tapi strategi itu butuh nafas.
Dan nafas itu hanya bisa dibeli dengan kas. Jadi kalau tidak ada RI atau PP dalam waktu dekat, maka strategi itu cuma jadi mimpi indah yang tertulis dalam slide presentasi investor. Sementara kenyataannya, kas menipis, beban tetap harus jalan, dan potensi bangkrut makin dekat.
Jadi secara keseluruhan, baik RI maupun PP bukan sekadar opsi. Ini keharusan. Tanpa itu, kelangsungan usaha bakal dipertanyakan. Dengan RI atau PP yang cukup besar, setidaknya perusahaan bisa bayar utang jangka pendek, memperbaiki struktur modal, dan beli waktu untuk mengeksekusi rencana bisnis.
Tapi itu pun harus dibarengi efisiensi operasional dan monetisasi yang lebih tajam. Kalau suntikan dana cuma untuk memperpanjang nyawa tanpa pembenahan model bisnis, maka investor baru pun hanya akan jadi penumpang terakhir kapal yang sudah bocor.
Stop beli saham karena FOMO. Mulai cuan dengan strategi yang masuk akal. Klik sekarang!


