Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightBDMN di Simpang Jalan: LDR Naik, CKPN Turun, Risiko Diam-diam Menguat

BDMN di Simpang Jalan: LDR Naik, CKPN Turun, Risiko Diam-diam Menguat

Kalau kita ibaratkan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) ini seperti bisnis Bakso Nyangkut Pak Toto, maka laporan keuangan April 2025 bisa dibilang seperti gerobak yang makin panjang tapi roda belakangnya goyang, tambah muatan tapi ban belakang mulai kempes. Kredit yang disalurkan naik cukup sehat 9,5% yoy dari Rp135,7 triliun jadi Rp148,5 triliun, alias motor penghasil uangnya lagi tancap gas.

Pendapatan bunga juga ikut terdorong naik 9% yoy dari Rp6,7 triliun ke Rp7,3 triliun, dan net interest income (NII) sebagai daging empuk-nya masih naik 3,4%. Tapi jangan keburu senang, karena laba bersih tahun berjalan cuma naik 1,1%, dari Rp1,014 triliun ke Rp1,025 triliun. Artinya, keuntungan bersih stagnan meskipun kredit ngebut.

Jawabannya mulai ketahuan saat kita cek biaya dana. Beban bunga naik kencang 18,8% yoy, dari Rp1,71 triliun ke Rp2,03 triliun. Ini menunjukkan Danamon harus bayar lebih mahal buat dapat dana, kemungkinan besar karena persaingan makin sengit dan nasabah makin senang deposito berjangka daripada tabungan.

Dana pihak ketiga (DPK) sendiri naik 4,3% jadi Rp149,1 triliun, kalah kencang dari pertumbuhan kredit, sehingga loan to deposit ratio (LDR) terdorong lebih tinggi. Ini bikin likuiditas mulai ketat, terbukti dari pinjaman antar bank yang naik drastis (liabilitas ke bank lain melonjak lebih dari 100%). Jadi, BDMN lagi ngegas di sisi kredit tapi isi bensin pakai utang mahal, ujungnya margin menyempit.

Lebih parah lagi, di tengah kredit yang naik, CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) malah turun 2,3%. Rasio CKPN terhadap kredit melemah dari 5,82% ke 5,19%, artinya bantalan kalau ada kredit macet makin tipis.

Ini bisa dibilang keputusan yang terlalu optimis atau terlalu berani karena kalau kualitas aset turun atau NPL naik, bank bisa kejedot kerugian. Kombinasi antara margin tipis, biaya dana mahal, dan pencadangan makin longgar ini yang bikin laba bersih nyaris mandek meskipun aset produktif naik.

Di satu sisi, kredit tumbuh sehat itu bagus, pendapatan bunga naik juga bagus, aset produktif bertambah itu lebih bagus lagi. Tapi sayangnya di sisi lain, NIM makin tipis, biaya dana atau cost of fund membengkak, dan cadangan kerugian malah menyusut.

Ini kayak jualan bakso Pak Toto yang makin laku, tapi gas mahal, sewa tempat naik, dan nggak nyiapin dana darurat kalau pengunjung kalau nanti tiba-tiba komplain baksonya basi. Ujungnya, untung bersih nggak nambah dan risiko ke depan malah makin besar.

Kalau manajemen bisa cepat cari dana murah (tabungan, giro), jaga kualitas kredit, dan perbaiki efisiensi, maka ada peluang. Tapi kalau cost of fund tetap tinggi dan kredit macet mulai nongol, sisi baiknya bakal tenggelam. Tinggal cek aja promo tabungan deposito di BDMN saat ini berapa persen?

Apakah bunga deposito nya lebih tinggi atau lebih rendah dari bunga deposito bank digital seperti BBYB dan ARTO? Kalau ternyata bunga deposito BDMN lebih tinggi dari bunga deposito BBYB dan ARTO, itu artinya memang lagi butuh banyak dana pihak ketiga.

Saat ini, laporan keuangan BDMN belum bisa dibilang jelek banget, tapi jelas lagi dalam posisi rentan. Bagusnya, mereka masih untung dan labanya tumbuh dan punya aset produktif yang kuat. Sayangnya, pertumbuhan itu tidak cukup menghasilkan laba yang lebih tinggi karena tekanan biaya dan longgarnya pencadangan. Jadi, ini bukan bakso yang busuk, tapi jelas bukan yang premium juga, masih perlu resep ulang sebelum bisa disebut layak ekspansi besar.

Stop beli saham karena FOMO. Mulai cuan dengan strategi yang masuk akal. Klik sekarang!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here