Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightPEHA 2024: Laporan Keuangan yang Menguak Realita Pahit

PEHA 2024: Laporan Keuangan yang Menguak Realita Pahit

Bayangkan sebuah perusahaan farmasi milik negara—anak dari holding besar Kimia Farma, bagian dari keluarga besar BUMN. Namanya PT Phapros Tbk (PEHA). Harusnya sih solid dan stabil. Harusnya bisa bikin paracetamol tanpa bikin manajemennya sendiri migrain. Tapi realitasnya? PEHA bukan sekadar pusing, tapi sudah masuk fase vertigo akut.

Akar dari semuanya bisa dilacak ke tahun 2020, ketika manajemen lama memutuskan melakukan ekspansi lewat akuisisi Lucas Djaja Group seharga Rp315 miliar, meskipun nilai aset bersih perusahaan itu hanya Rp180 miliar. Sisanya? Dicatat sebagai goodwill: Rp134 miliar—nilai yang hanya nyata di Excel, bukan di arus kas.

Empat tahun kemudian, Rp53,9 miliar goodwill itu terpaksa di-impair, alias diakui tidak memiliki nilai. Sebuah pengakuan bahwa akuisisi itu lebih didasarkan pada optimisme kosong daripada kalkulasi bisnis yang rasional.

Selama 2024, penjualan PEHA turun 25,8%, dari Rp1 triliun ke Rp744 miliar. Tapi ironisnya, beban usaha justru naik 8,1%, dari Rp440 miliar ke Rp476 miliar. Kombinasi mematikan ini membuat laba usaha berubah menjadi rugi Rp298 miliar, dengan rugi bersih Rp291 miliar.
Net profit margin? -39%.
Setiap Rp10.000 penjualan, mereka malah “kehilangan” Rp3.900.

Total aset menyusut dari Rp1,77 triliun ke Rp1,43 triliun. Ekuitas tergerus dari Rp677 miliar menjadi Rp393 miliar. Retained earnings sudah negatif Rp376 miliar.

Lebih miris lagi, PEHA sekarang mengandalkan pinjaman dari induk (Kimia Farma) sebesar Rp70,6 miliar karena sulit mendapat akses ke bank. Total utang bank:

  • Jangka pendek: Rp393 miliar
  • Jangka panjang: Rp243 miliar

Bahkan sudah melanggar covenant utang dan harus meminta penundaan bunga. Ini bukan krisis biasa—ini ICU korporat.

Di laporan keuangan, arus kas operasi tercatat positif Rp141 miliar. Tapi ini bukan karena bisnis membaik, melainkan karena manajemen mulai membersihkan neraca secara besar-besaran:

  • Impairment aset tetap
  • Penghapusan piutang macet
  • Pencadangan persediaan kadaluarsa

Bukan karena uang masuk dari pelanggan. Tapi karena perusahaan akhirnya mengakui semua bangkai lama.

Segmen obat generik berlogo (OGB) menyumbang 57% pendapatan, tapi marginnya paling kecil. Sementara segmen ethical dan OTC, yang justru marginnya tinggi, justru anjlok masing-masing 44% dan 25%.

Akibatnya, PEHA makin bergantung pada produk dengan margin rendah. Ini seperti restoran banting harga nasi goreng jadi Rp5.000, padahal modalnya Rp6.000. Bangga karena antrean panjang, tapi keuangan bocor di mana-mana.

PEHA masih mencatat:

  • Goodwill Rp53 miliar yang secara ekonomi nyaris tak bernilai
  • Properti investasi Rp104 miliar yang tidak digunakan dan tidak menghasilkan
  • Aset tanah dengan nilai wajar Rp164 miliar, tapi dicatat lebih rendah karena pakai metode biaya historis

Semua ini menunjukkan neraca yang penuh angka, tapi minim nilai realisasi.

PEHA saat ini bukan hanya menanggung kerugian operasional, tetapi juga membawa sejarah panjang penundaan realita. 2024 menjadi tahun pengakuan dosa, saat seluruh ilusi dan penyangkalan akhirnya tercermin di laporan keuangan.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here