PT Mayora Indah Tbk (MYOR) resmi mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal hingga Rp1 triliun, yang akan berlangsung selama satu tahun, dari 5 Juni 2025 hingga 5 Juni 2026. Indo Premier Sekuritas ditunjuk sebagai pelaksana transaksi di pasar reguler. Secara resmi, aksi korporasi ini dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas modal, menjaga nilai pemegang saham, dan menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Namun jika melihat lebih dalam ke laporan keuangan kuartal I 2025, rencana ini tidak semanis narasinya. Justru muncul tanda-tanda bahwa buyback ini bisa jadi merupakan langkah defensif kosmetik di tengah kinerja keuangan yang menurun.
Pada Q1 2025, laba bersih MYOR turun 37,6% YoY dari Rp1,13 triliun menjadi hanya Rp704,94 miliar. Earnings per share (EPS) juga menyusut dari Rp50 menjadi Rp33 per saham. Dalam situasi ini, buyback saham bisa meningkatkan EPS secara matematis dengan cara menurunkan jumlah saham beredar—bukan karena laba naik, tapi karena denominasi EPS diperkecil.
Simulasi menunjukkan bahwa dengan buyback Rp1 triliun di harga Rp2.300 per saham, EPS bisa naik dari Rp134 menjadi Rp137.
Beberapa indikator menunjukkan bahwa perusahaan sedang menahan laju ekspansi:
- Kas per Maret 2025: Rp3,66 triliun (turun dari Rp4,60 triliun di akhir 2024)
- Ekuitas: Rp17,82 triliun (akan turun menjadi sekitar Rp16,82 triliun setelah buyback)
- CFO (Cash Flow from Operation): Rp709 miliar (turun dari Rp1,1 triliun YoY)
- Capex: Rp419 miliar (turun 33% dari Q1 2024)
- Liabilitas: menurun dari Rp12,63 triliun ke Rp11,25 triliun
- Utang Obligasi: Rp2,34 triliun dengan bunga tetap 7–8,25%
- Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity): 0,63x, akan naik tipis pasca buyback
Dari data tersebut terlihat bahwa MYOR lebih fokus pada penghematan dan stabilitas, bukan ekspansi agresif.