Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightUNTR 2025: Solid di Neraca, Bertaruh di Masa Depan

UNTR 2025: Solid di Neraca, Bertaruh di Masa Depan

Laporan keuangan kuartal I 2025 dan peta bisnis United Tractors (UNTR) mengungkapkan satu hal yang menarik: perusahaan ini sedang berdiri di dua dunia. Satu kaki masih mantap di bisnis lamanya—alat berat dan jasa pertambangan—yang menjadi sumber kas utama. Sementara kaki lainnya mulai melangkah ke masa depan, menjajaki sektor baru seperti emas dan nikel, yang menjanjikan pertumbuhan jangka panjang namun masih penuh risiko awal.

Per Maret 2025, total aset UNTR mencapai Rp181,2 triliun, naik 6,9% dibanding akhir 2024. Neracanya terlihat kokoh: kas sebesar Rp30,1 triliun, aset tetap Rp41,8 triliun, piutang usaha Rp21,9 triliun, dan persediaan Rp21 triliun. Di sisi lain, mereka juga memiliki investasi pada entitas asosiasi sebesar Rp17,6 triliun dan properti tambang senilai Rp15,5 triliun. Yang paling mengesankan adalah posisi kas bersih (net cash) UNTR sebesar Rp9,6 triliun—dengan total utang berbunga hanya Rp20,5 triliun. Artinya, perusahaan bisa melunasi seluruh utangnya kapan saja dan masih menyisakan likuiditas yang sehat.

Dari sisi arus kas, UNTR mencatatkan CFO sebesar Rp7,5 triliun hanya dalam tiga bulan. Setelah belanja modal sebesar Rp3,45 triliun, perusahaan masih menyisakan free cash flow sekitar Rp4 triliun—cukup kuat. Namun, sisi laba memperlihatkan tekanan. Pendapatan memang tumbuh 5,7% menjadi Rp34,3 triliun, tetapi margin menyusut. Laba kotor menurun ke Rp7,07 triliun, laba usaha ke Rp5,4 triliun, dan laba bersih anjlok 30% ke Rp3,19 triliun. Margin bersih turun dari >12% menjadi 9,6%. Penyebab utamanya adalah kerugian dari entitas asosiasi seperti Bhumi Jati Power yang mencatat rugi Rp502 miliar, berbalik dari laba Rp267 miliar tahun lalu.

Segmen distribusi alat berat dan jasa tambang masih menjadi motor utama. Pamapersada Nusantara (PAMA), United Tractors, dan Bina Pertiwi tetap mendominasi pendapatan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, UNTR mulai mengalihkan fokus ke sektor logam mulia. Lewat anak usaha PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), UNTR mengelola tambang emas Martabe lewat PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR). PTAR mencetak penjualan 230 ribu ons emas di 2024 dengan harga jual rata-rata USD2.423 per ons. Cadangan Martabe mencapai 3,5 juta ons emas dan 32 juta ons perak—cukup untuk operasi 12–13 tahun ke depan. SJR sendiri mulai produksi 1.800 ons di akhir 2024—masih kecil, tapi menunjukkan progres.

Bisnis batubara UNTR berada di bawah Turangga Resources, anak usaha dari Tuah Turangga Agung. Penjualan batubara 2024 mencapai 13,1 juta ton, termasuk 3,2 juta ton batubara metalurgi—naik 11%. Sayangnya, meski volume naik, pendapatan justru turun 15% akibat harga jual global yang melemah. Yang mengganjal, laporan tahunan UNTR tidak menyebutkan total cadangan batubara dalam tonase. Ini menyulitkan investor menilai ketahanan jangka panjang dari bisnis batubara mereka.

Sejak 2023, UNTR juga masuk ke sektor nikel dengan mengakuisisi PT Stargate Pasific Resources (SPR) yang memiliki tambang di Konawe Utara. Produksi ore di 2024 mencapai 1,975 juta ton, tetapi belum menyumbang laba karena smelter (oleh PT Stargate Mineral Asia) baru akan beroperasi penuh di 2027. Segmen ini masih dalam tahap investasi awal dan belum bisa diandalkan untuk jangka pendek.

Dengan banyak anak usaha seperti PAMA, DTN, TTA, UTPE, EPN, dan lainnya, UNTR tampak seperti gurita besar. Namun, kontribusi laba masih terkonsentrasi di segelintir entitas: PAMA, United Tractors, Bina Pertiwi, dan PTAR. Total aset DTN sebagai holding emas bahkan sudah mencapai Rp47 triliun, dengan PTAR menyumbang Rp18,1 triliun. Sementara anak-anak usaha baru, terutama di sektor nikel dan energi, masih bersifat asset-heavy namun cashflow-light.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here