PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mungkin bukan saham yang kerap muncul di daftar trending. Namun, laporan keuangan kuartal I 2025 perusahaan ini layak mendapat sorotan. Bukan hanya karena lonjakan labanya yang mencolok, tetapi juga karena kompleksitas strategi finansial dan operasional yang dijalankan di balik layar.
DEWA membukukan laba bersih sebesar Rp68,89 miliar pada Q1 2025, naik 757% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp8,05 miliar. Pertumbuhan ini bukan sekadar angka, melainkan pencapaian yang hampir delapan kali lipat dalam waktu satu tahun. Sementara itu, pendapatan naik dari Rp1,45 triliun menjadi Rp1,58 triliun, atau tumbuh sebesar 9,1%. Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat satu catatan penting: 96% dari pendapatan DEWA hanya berasal dari dua pelanggan utama, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. KPC menyumbang Rp1,05 triliun (66,3%), dan Arutmin menyumbang Rp471 miliar (29,8%). Sisanya, hanya Rp61 miliar berasal dari pihak ketiga lainnya. Ketergantungan tinggi ini menunjukkan bahwa jika salah satu dari dua klien utama mengalami penurunan permintaan, DEWA akan sangat terdampak.
Salah satu faktor utama peningkatan laba adalah efisiensi biaya yang signifikan. Beban subkontraktor berhasil ditekan dari Rp571 miliar menjadi Rp463 miliar (-18,8%). Hal ini mendorong peningkatan laba kotor dari Rp140,9 miliar menjadi Rp246,7 miliar (+75%). Di sisi operasional, beban umum dan administrasi juga berhasil dikurangi dari Rp80,7 miliar menjadi Rp61,3 miliar (-24%). Meskipun beban depresiasi naik akibat pembelian alat berat, beban lainnya berhasil ditekan. Akibatnya, laba usaha meningkat tajam menjadi Rp186,4 miliar (+181%) dan laba sebelum pajak melonjak 224% menjadi Rp129,3 miliar.
Salah satu kekuatan utama DEWA pada kuartal ini adalah cash flow dari operasi (CFO) sebesar Rp602 miliar, hampir sembilan kali lebih besar dari laba bersihnya. Ini menandakan bahwa peningkatan laba bukan hasil rekayasa akuntansi semata, melainkan benar-benar didukung oleh kas masuk dari kegiatan operasional. Namun, free cash flow tetap tercatat negatif sebesar Rp251 miliar akibat belanja modal (capex) yang sangat besar, terutama untuk pembelian alat berat dan kendaraan tambang.
Liabilitas DEWA menurun dari Rp5,5 triliun menjadi Rp4,91 triliun, tapi penurunan ini bukan berasal dari pelunasan kas, melainkan karena konversi utang menjadi ekuitas senilai Rp941 miliar. Di sisi lain, utang bank meningkat dari Rp1,63 triliun menjadi Rp2,25 triliun (+38%). Dana ini digunakan untuk melunasi utang usaha kepada vendor besar seperti Madhani dan Antareja. Konsekuensinya, beban bunga ikut naik signifikan dari Rp26,7 miliar menjadi Rp56,9 miliar (+113%). Kini, sekitar 44% dari laba usaha DEWA habis hanya untuk membayar bunga utang.
Piutang usaha tetap tinggi di Rp1,64 triliun, dengan 22,3% di antaranya berumur lebih dari 60 hari. Namun, cadangan kerugian penurunan nilai hanya Rp5,27 miliar—terlalu kecil jika dibandingkan dengan jumlah piutang tersebut. Ini menimbulkan kekhawatiran atas potensi risiko gagal bayar dari pelanggan. Sementara itu, persediaan naik menjadi Rp463 miliar, didominasi oleh suku cadang dan ban, yang menandakan meningkatnya aktivitas proyek. Kas juga naik dari Rp347 miliar menjadi Rp464 miliar. Namun, salah satu akun yang patut dicermati adalah investasi di PT Gayo Mineral Resources (GMR) senilai Rp844,48 miliar yang belum menghasilkan revenue maupun arus kas karena masih menunggu izin dari Kementerian ESDM.
Total aset DEWA meningkat dari Rp8,81 triliun menjadi Rp9,70 triliun (+10,1%). Kenaikan ini terutama berasal dari aset tetap yang tumbuh 20,4% menjadi Rp4,11 triliun. Arus kas investasi yang negatif Rp854 miliar mencerminkan pembelian aset tetap yang besar dan nyata, bukan manipulasi akuntansi. Dengan harga saham Rp151 dan jumlah saham beredar 40,7 miliar lembar, kapitalisasi pasar DEWA mencapai Rp6,15 triliun. Namun, dengan EPS tahunan sebesar Rp0,00676, maka PER DEWA berada di level 22,3x—cukup tinggi untuk perusahaan jasa tambang dengan margin laba tipis, ketergantungan tinggi terhadap dua pelanggan, dan belum memberikan dividen. Sementara itu, PBV-nya 1,28x juga menunjukkan bahwa pasar menilai DEWA di atas nilai bukunya yang Rp117,7 per saham. Valuasi ini mencerminkan ekspektasi optimistis pasar terhadap ekspansi dan restrukturisasi yang tengah dijalankan DEWA.