Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightLaba PRDA Kuartal I 2025 Tertekan: Ekspansi Cabang Belum Membuahkan Hasil

Laba PRDA Kuartal I 2025 Tertekan: Ekspansi Cabang Belum Membuahkan Hasil

PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), emiten layanan laboratorium kesehatan ternama, mencatat penurunan signifikan pada laba bersih di kuartal I 2025. Dari laba Rp39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, kini laba bersih hanya mencapai Rp6,9 miliar, atau turun lebih dari 82%. Yang menarik, penurunan ini bukan disebabkan oleh perlambatan pendapatan. Revenue PRDA relatif stabil, hanya turun tipis 0,8% dari Rp486,9 miliar menjadi Rp483,0 miliar. Namun, lonjakan beban operasional dan biaya pokok pendapatan (COGS) menjadi faktor utama yang menekan profitabilitas perusahaan.

COGS meningkat 9,2% menjadi Rp219,5 miliar, menyebabkan penurunan laba kotor menjadi Rp263,5 miliar. Akibatnya, margin kotor turun dari 58,7% menjadi 54,6%. Ini mengindikasikan efisiensi produksi yang menurun, meskipun pendapatan tidak banyak berubah. Lebih lanjut, beban operasional (SG&A) juga meningkat dari Rp246 miliar menjadi Rp264,6 miliar. Dengan beban yang terus naik sementara pertumbuhan pendapatan stagnan, laba usaha PRDA berubah menjadi rugi usaha sebesar Rp1,4 miliar.

Salah satu fokus utama PRDA dalam setahun terakhir adalah ekspansi jaringan cabang. Jumlah cabang meningkat dari 298 menjadi 360, atau bertambah 62 cabang dalam satu tahun. Namun, strategi ini belum diikuti oleh pertumbuhan pendapatan yang sepadan. Revenue per cabang turun signifikan, dari Rp1,63 miliar menjadi Rp1,34 miliar, atau terkontraksi 17,8%. Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi yang terlalu cepat tanpa perhitungan kontribusi pendapatan per cabang justru dapat mengurangi efisiensi operasional secara keseluruhan.

PRDA juga mencatat kerugian dari entitas asosiasinya, Prodia Diagnostic Line (Proline), yang mengalami rugi bersih Rp3,12 miliar. Sebagai pemilik 39% saham, PRDA membukukan kerugian sebesar Rp1,22 miliar dari entitas tersebut, yang turut membebani laba konsolidasi.

Menariknya, PRDA masih mampu mencetak laba bersih berkat pendapatan bunga sebesar Rp11,3 miliar dari kas dan setara kas yang besar. Tanpa komponen non-operasional ini, PRDA kemungkinan mencatatkan rugi bersih di kuartal ini. Meski demikian, arus kas operasional PRDA tetap kuat, mencapai Rp99,6 miliar, dengan posisi kas akhir meningkat menjadi Rp475,4 miliar. Ini menunjukkan bahwa secara likuiditas dan solvabilitas, PRDA masih berada dalam kondisi yang solid.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments