IHSG hari ini, 26 Maret 2025, akhirnya bangkit seperti zombie yang baru sadar hidupnya masih panjang. Setelah berminggu-minggu disiksa koreksi, dihantam sentimen negatif, dan dicuekin asing, tiba-tiba hari ini melesat +236,74 poin (+3,80%) ke level 6.472,36.
Ya, naiknya sih enak dilihat, tapi jujur aja: yang kita saksikan hari ini bukan cerminan fundamental, tapi semacam pesta dadakan karena BUMN mau bagi-bagi duit. Euforia ini begitu luas sampai bikin semua indeks ikut jingkrak-jingkrak: IDX30 +5,16%, LQ45 +4,90%, dan SRI-KEHATI +5,22%—kayak semua orang baru dikasih THR sebelum lebaran.
Total nilai transaksi tembus Rp34,27T, padahal biasanya sepi kayak kuburan hari biasa. Yang bikin rame? Pasar nego, tentu saja. Dari Rp34T itu, Rp19,96T berasal dari nego, dan lucunya, hampir semuanya disumbang satu saham: YUPI, si produsen permen yang hari ini malah jadi produsen sensasi.
Dengan 2 frekuensi transaksi doang, YUPI nyumbang Rp18,37T—lebih gede dari market cap beberapa emiten properti. Tapi ya wajar, karena dari awal IPO-nya udah jelas: itu bukan IPO buat ekspansi, bukan buat ritel, tapi semata-mata buat pemegang saham lama keluar lewat pintu belakang dengan pajak yang sopan.
Ini bukan gosip. Dari awal udah disusun rapi: 90% saham YUPI milik Daniel Budiman dan PT Sweets Indonesia akan langsung dijual ke perusahaan lain—dan itu yang dieksekusi hari ini. Jadi ya, jangan heran kalau grafiknya tiba-tiba nggak nyambung sama frekuensi transaksi. Ini bukan “minat investor tinggi”, ini block deal murni yang bisa masuk buku rekor MURI.
Sementara itu, saham-saham perbankan BUMN seperti BMRI, BBCA, BBRI, BBNI langsung berubah jadi superstar, mendadak dicintai semua orang. Kenapa? Karena mereka mau bagi dividen jumbo bulan April, dan Danantara sebagai induk BUMN butuh setoran. Jadi, para big fund buru-buru masuk buat parkir duit, cari yield yang masuk akal sebelum cum date:
BBRI bakal bayar Rp208/saham
BBCA Rp250/saham
BMRI, BBNI, BBTN lagi siap-siap nyusul
Ini bukan soal growth, ini soal “siapa yang bisa setor paling banyak ke kas negara”—karena negara lagi haus duit. Dan kalau investor institusi besar udah ngerti arah angin, mereka tinggal parkir dana triliunan, dan biarkan IHSG terlihat hidup, meskipun sebenarnya jantungnya masih pasang alat bantu.
Yang paling menarik adalah sektor baja dan konstruksi, yang tiba-tiba seperti bangkit dari proyek tidur panjang:
KRAS +34,69%
ADHI +34,52%
WTON +34,38%
PPRE +33,33%
WEGE +28,85%
PTPP +25,00%
Saham-saham ini biasanya jadi bahan tertawaan ritel karena utang numpuk dan proyek mangkrak. Tapi hari ini, entah dapat wahyu dari mana, semuanya terbang bareng. Entah karena sinyal dari kementerian, atau sekadar efek domino dari window dressing kuartal I. Tapi satu hal pasti: mereka semua bangkit di hari yang sama, tanpa alasan fundamental yang jelas, kecuali kalau kita percaya keajaiban.
Saham-saham LQ45 ikut naik rame-rame. Di antaranya:
SMGR +9,56%
BBTN +9,15%
BBNI +8,97%
BMRI +8,65%
BBCA +5,90%
Yang turun? Hanya segelintir dan bisa dihitung pakai jari, seperti KLBF, AKRA, SIDO. Tapi siapa peduli? Di tengah euforia, semua yang merah dianggap error sistem.
Dan yang paling lucu adalah sentimen publik hari ini. Banyak yang langsung percaya “IHSG udah balik”, padahal ini masih permainan atas. Ritel yang tadi pagi panik karena tertinggal, sekarang mulai FOMO beli di pucuk. Yang nggak beli hari ini mulai gelisah, yang beli kemarin dengan harapan rebound bisa senyum dikit, walaupun belum balik modal.
Yang harus dicatat, kenaikan gila-gilaan ini nggak selalu sehat. Biasanya, reli 3-5% sehari itu justru diikuti koreksi teknikal 1-2 hari berikutnya. Kalau nggak ada lanjutan akumulasi dari institusi, bisa jadi hari ini cuma one-day wonder. Jadi sebelum ikut euforia, mending cek ulang: apakah saham yang kita pegang ikut naik karena alasan masuk akal, atau cuma ikut pesta yang tiketnya udah dibeli bandar sejak seminggu lalu.
IHSG hari ini memang naik kenceng, tapi alasannya? Bukan karena ekonomi mendadak cerah atau fundamental semua emiten tiba-tiba membaik. Ini karena Danantara butuh dividen, PSP lama butuh exit dengan pajak murah, dan fund manager butuh ngejar benchmark di akhir kuartal. Jadi ya, nikmati aja selama naik, tapi jangan lupa—besok grafik bisa jadi balik ke kenyataan.
Tetap optimis. Meskipun Presiden literally bilang saham itu judi, orang miskin pasti kalah, dan beliau sendiri kapok main saham—yaudah, biarin. Itu pengalaman pribadi, bukan kebenaran universal. Kalau semua keputusan investasi kita harus sinkron sama pengalaman pribadi Presiden, mungkin kita semua udah pindah ke ternak lele.
APBN? Defisit.
Rupiah? Melemah terus.
Ormas pungli? Di mana-mana.
Korupsi? Udah kayak budaya.
Tapi pasar modal? Masih hidup. Investor? Masih beli. Dividen? Masih dibagi.
Karena pada akhirnya, pasar modal bukan soal moralitas elite, tapi soal arus kas. Mau pejabat bilang saham itu spekulasi, faktanya BBCA, BBRI, BMRI, TLKM tetap setor dividen puluhan triliun ke negara. Danantara tetap nagih setoran, pemerintah tetap pungut PPh final 0.1%, dan investor tetap nyangkut dengan harapan.
Tetap selot, selot, selot—never all in.
Karena kita tahu, yang nyangkut itu bukan salah sahamnya, tapi salah posisi masuknya.
Kalau nyangkut terlalu dalam, ganti strategi. Cari saham dividen.
Minimal tiap tahun masih ada yang masuk ke rekening, walaupun chart-nya masih nyungsep.
Dan kalau kamu masih bertahan sampai sekarang, berarti kamu bukan trader biasa. Kamu penyintas. Di negara di mana pejabatnya alergi saham tapi nagih dividen, di mana kebijakan keuangan labil tapi pajak tetap jalan, dan di mana pungli lebih terorganisir dari IPO, kamu tetap optimis. Dan itu luar biasa.
Saham itu bukan judi.
Saham itu ujian iman dan ketahanan psikologis.
Kalau kamu masih tahan hari ini—berarti kamu calon pemenang besok.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships